Reinkarnasi

Reinkarnasi
Part 58 Trauma Jihan


__ADS_3

"Kamu tidak papakan?" tanya polisi itu kepada Jihan yang berada di pelukannya. Saat itu, si polisi itu pun terlihat berkaca kaca melihat kejadian itu. Mendengar suara itu, Jihan yang saat itu takut untuk membuka matanya dengan perlahan ia membuka mata nya dan melihat wajah si polisi yang memeluk erat dirinya.


"Aku masih hidup kan?" tanya Jihan dengan mata yang berkaca kaca melihat ke arah polisi itu. Mendengar pertanyaan itu, polisi itu pun menganggukkan kepalanya dengan raut muka sedih, melihat jawaban itu Jihan pun langsung memeluk erat polisi itu dan ia menangis di pelukan polisi itu dengan terus menerus mengatakan kalau dirinya masih hidup. Saat itu Jihan terlihat sangat kebingungan.


Setelah beberapa saat memeluk erat Jihan, polisi itu mengajak Jihan untuk pergi dari tempat itu dan menunju ke rumah Jihan. Ketika ia sudah berada di rumah Juli, Juli yang melihat sikap Jihan seperti orang kebingungan ia langsung mendekati Jihan dan memegangi Jihan. Saat salah satu tangannya sudah di pegang oleh kakaknya Jihan mulai sadar dengan sikapnya namun ia terlihat trauma akan sebuah kendaraan dimana dirinya selalu terlihat ketakutan saat melihat kendaraan, entah itu sepeda ataupun mobil. Melihat ketakutan adiknya, Juli pun berusaha untuk tetep tenang dan tidak membuat Jihan semakin trauma.


"Kamu tenang, tidak akan ada yang terjadi! Semuanya akan baik baik saja kamu percaya dengan Kakak," ucap Juli untuk menenangkan Jihan, ia sesekali membelai Jihan dan memeluk erat Jihan. Jihan yang menyadari hal itu ia hanya dapat menangis dengan terus mengatakan kalau dirinya masih hidup dan selamat dari kecelakaan itu. Juli yang melihat hal itu ia hanya menganggukkan kepalanya. Setalah itu Juli dengan keadaannya yang masih lemah, harus membawa Jihan masuk ke dalam rumah. Ketika ia sudah berada di dalam rumah Juli tampak lebih tenang, begitu pula Jihan.


"Kamu disini dulu, kakak mohon kamu jangan pergi selagi kamu masih takut melihat mobil ataupun motor!" pinta Juli dengan nada rendah dan baik kepada Jihan. Jihan yang mendengar permintaan itu pun langsung menuruti apa yang di inginkan oleh Juli, dimana ia tetap tinggal di kamar sedangkan Juli keluar dari kamar itu untuk menemui si polisi.


Saat Juli sudah berada di luar kamar, ia menutup pintu kamar itu, ketika ia sudah berada di luar kamar terlihat si polisi itu sudah berada di depan pintu menunggu Juli keluar dari kamar yang di tempati oleh Jihan.


"Gimana keadaan Jihan saat ini?" tanya polisi itu dengan raut muka sedih atas peristiwa yang hampir saja merenggut nyawa Jihan.


"Dia baik baik saja, hanya saja diam masih terlihat ketakutan dengan kendaraan," jawab Juli dengan baik dan pandangan mata yang sayup. Namun tiba tiba pandangan matanya tiba tiba berubah, dimana ia langsung memegangi erat salah satu bahu polisi itu dan tatapan matanya terlihat berkaca kaca.

__ADS_1


"Aku mohon, tolong.... Tolong cari tahu siapa orang yang ingin mencelakai Jihan. Cari pelakunya sampai dapat," ucap lanjut Juli dengan pandangan mata berkaca kaca dan ia terlihat sedih.


Mendengar hal itu, si polisi itu pun berjanji kepada Juli kalau dia akan mencari tahu dan menangkap orang yang berusaha menyakiti Jihan. Mendengar janji yang di katakan oleh si polisi, Juli tidak bisa berkata kata. Ia tiba tiba memeluk polisi itu dan mengatakan kepada polisi itu sebuah kalimat yang membuat hati si polisi itu benar benar luluh sampai sampai air mata kesedihan menetes dari mata si polisi itu.


Saat itu Juli mengatakan "terimakasih, sudah menjaga adik ku dan aku!. Terimakasih sudah menjadi keluarga yang aku cari selama ini. Aku juga mau, kamu berjanji dengan aku.....,"


"Janji apa lagi Juli?" tanya si polisi itu dengan perlahan melepaskan pelukan itu.


"Aku tahu, nyawa tidak lama lagi. Dan aku tahu, nyawa kalian juga dalam bahaya. Aku tidak ingin kalian mengalami masalah karena aku, jadi aku minta tolong ketika aku pergi nanti. Jaga Jihan dan perlakukan dia sama seperti aku, aku mohon!."


"Kenapa kamu mengatakan hal itu? Tidak akan ada yang pergi di antara kita, aku janji!" jawab polisi itu dengan sedih lalu ia memeluk erat Juli.


Beberapa saat kemudian, Juli dan polisi itu masuk ke dalam kamar. Saat itu Jihan terlihat sudah terlelap dalam tidurnya. Melihat Jihan yang sudah tenang dan tidak takut lagi, Juli yang saat itu masuk ke dalam kamar Jihan dengan membawa segelas air pun langsung tersenyum kepada Jihan dan ia kemudian menaruh minuman di atas meja yang tidak jauh dari tempat tidurnya.


Di rumah Ibu Juli, terlihat Ibu Juli berjalan ke sana kemari dengan raut muka gelisah dan khawatir. Ia sesekali melihat ke arah pintu masuk dengan mengatakan berulang kali kemana Jihan, dimana Jihan dan yang lain lain. Saat itu naluri seorang ibu mulai di rasakan oleh Ibu Juli dimana dirinya benar benar khawatir dengan keadaan Jihan saat itu.

__ADS_1


"Dimana ya Jihan? Kenapa dia masih saja belum pulang?" ucap Ibu Juli dengan dirinya sendiri dan terlihat sangat khawatir.


Tak berselang lama ia pun mengambil ponselnya dan berusaha menghubungi Jihan. Di rumah Juli, saat itu Juli yang duduk di dekat Jihan melihat kalau ponsel Jihan yang saat itu di letakkan oleh Jihan di atas meja di dekat gelas tiba tiba berbunyi. Melihat hal itu, tidak ingin Jihan terbangun akibat mendengar panggilan itu Juli pun langsung mengangkat panggilan itu tanpa melihat siapa orang yang menghubungi Jihan.


"Halo Jihan, kamu dimana? Ibu sangat khawatir dengan kamu!" ucap Ibu Juli dengan sangat khawatir. Menyadari kalau yang menghubungi Jihan adalah ibunya Juli pun sontak langsung terdiam, mematung dan tidak dapat mengatakan sepatah kata pun. Tidak mendengar jawaban dari Juli yang di kira Jihan, Ibu Juli pun terlihat kembali memanggil manggil nama Jihan.


Mendengar ibunya sangat khawatir dengan Jihan, Juli terlihat sedih karena ia berusaha memisahkan Jihan dengan ibunya, namun jika ia tidak memisahkan Jihan dengan ibunya, ia merasa nyawa Jihan dalam bahaya.


"Jihan!" terdengar lagi suara seorang wanita yang tidak lain Ibu Juli di ponsel itu.


"Iya Ibu, maaf!. Aku juga ingin kasih tahu ibu sesuatu hari ini, maafkan Jihan. Hari ini, Jihan tidak bisa pulang karena Jihan sedang menunggu teman Jihan di rumah sakit!."


"Oh ya sudah, kalau memang kamu mau menunggu seseorang di rumah sakit, yang jelas Ibu mohon kamu untuk jaga kesehatan dan diri kamu sendiri!."


Mendengar ucapan itu, Juli semakin terlihat sedih namun saat itu ia hanya menutup kesedihannya dengan mengiyakan apa yang di katakan oleh Ibu Juli kepada dirinya yang di anggap Jihan.

__ADS_1


__ADS_2