
Tak berselang lama, Jihan pun keluar dari rumah itu dan ia kemudian masuk ke dalam mobil yang ternyata di dalamnya sudah ada Juli dan orang lainnya yang berpakaian misterius itu.
Saat Jihan masuk ke dalam mobilnya terlihat Juli memegangi perutnya yang habis di jahit dan di operasi. Ia terdengar merintih dan mengerang kesakitan, namun saat itu ia menutupi rasa sakitnya dengan tersenyum jahat.
"Hebat juga kamu Jihan, akting kamu ternyata melebihi aku!" ucap Juli dengan sombong dan berusaha menutupi rasa sakitnya agar tidak di sadari oleh Jihan.
"Siapa dulu dong kakaknya... Juli!" jawab Jihan lalu ia memeluk Juli dengan erat, hingga membuat perut Juli yang sakit semakin sakit dan semakin mengeluarkan banyak darah. Saat itu, Jihan tidak menyadari kalau pelukan sayangnya kepada Juli sangat menyakiti Juli. Saat itu, orang misterius yang duduk di saf belakang menyadari kalau Juli kesakitan akibat pelukan dari Jihan namun Juli memberi kode agar orang itu tidak memberi tahu Jihan kalau dia sudah menyakiti Juli. Ia ingin adiknya merasakan pelukan hangat dari keluarganya karena ia mengingat pesan dari ayahnya di masa lalu.
Flashback.....
Tiba tiba keadaan berubah terlihat Juli dan ayah Juli berada di satu ruangan. Saat itu Ayah Juli tenaga terbaring di atas tempat tidur dengan lemah tak berdaya, dengan wajah yang pucat. Saat itu terlihat deraian air mata jatuh dari mata Juli menangis ayahnya yang seakan nyawanya sudah berada di ujung.
"Ayah aku mohon dengan Ayah, Ayah harus sembuh tidak boleh pergi meninggalkan aku, aku mohon," ucap Juli dengan nada lirih dan kata yang terus meneteskan air mata.
"Dengarkan Ayah Nak.... Ayah punya satu rahasia yang Ayah sembunyikan dari kamu dan keluarga kita!" jawab Ayah Juli dengan lirih di saat Juli mendekatkan wajahnya ke arah sang ayah. Mendengar ucapan itu, Juli terlihat tidak sedih dan ia menatap ayahnya dengan heran.
"Rahasia apa Ayah?" tanya Juli lagi saat ia sudah berada di dekat ayahnya.
"Sebenarnya kamu memiliki saudara kembar.... Dan dia masih hidup, dia tidak pernah mati!" jawab Ayah Juli dengan membiasakan hal itu di dekat Juli. Juli yang mendengar ucapan itu langsung terkejut dan menjauh dari ayahnya.
__ADS_1
"Tidak mungkin, selama ini ayah selalu mengatakan kalau saudara kembar ku sudah meninggal, lalu kenapa? Kenapa sekarang mengatakan kalau dia masih hidup?" jawab Juli dengan nada mulai kesal mendengar pernyataan dari ayahnya.
Mendengar kalau Juli tidak percaya, Ayah Juli pun langsung berusaha bangun dari terbaringnya, menyadari kalau ayahnya ingin bangun Juli pun membantu ayahnya untuk bangun dari terbaringnya.
Saat Ayah Juli sudah bangun, ia berusaha meyakinkan Juli kalau saudara kembarnya masih hidup, mendengar ayahnya terus meyakinkan kalau kembaran masih hidup akhirnya percaya atau pun tidak percaya, Juli pun akhirnya mempercayai ucapan ayahnya.
"Kalau memang saudara ku masih hidup, dimana aku bisa menemui dia Ayah?" tanya Juli dengan baik di hadapan ayahnya.
"Dengarkan Ayah, di dalam sebuah lemari kamu cari sebuah dokumen dan setelah kamu menemukan dokumen itu, kamu cari surat panti asuhan. Di situlah kamu bisa menemukan saudara kamu, setelah kamu menemukan saudara kamu. Ayah mohon, jaga dia dan sayangi dia seperti Ayah menyayangi kamu!."
"Lalu kenapa Ayah menyembunyikan semua ini dari ku dan keluarga yang lainnya?" tanya Juli dengan sedikit kecewa.
Mendengar pertanyaan dari Juli, Ayah Juli pun terbatuk. Mendengar batuk dari ayahnya, Juli pun langsung mengambilkan air untuk ayahnya.
"Ayah tahu, kamu kecewa dengan Ayah. Tapi, Ayah melakukan ini demi kebaikan kamu," lanjut Ayah Juli.
Mendengar ucapan itu, Juli pun hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum kepada ayahnya. Setalah itu, Juli kembali mendekatkan tubuhnya ke arah ayahnya.
"Aku janji sama Ayah, aku akan selalu menjaga dia bahkan kalau pun aku harus mati untuk dia Ayah."
__ADS_1
Juli pun memeluk ayahnya dengan sangat erat lalu ia membaringkan tubuh ayahnya dengan sangat erat.
Keadaan pun kembali ke masa kini, terlihat Jihan masih memeluk erat Juli. Juli yang membayangkan momen itu, ia terlihat meneteskan air matanya. Namun, tak ingin Jihan mengetahui kalau dirinya meneteskan air mata. Juli pun menghapus air matanya tanpa sepengetahuan Jihan, tak berselang lama Jihan pun melepaskan pelukannya. Saat itu ia menyadari kalau Juli merasakan kesakitan yang luar biasa terutama saat dirinya memeluk Juli. Melihat hal itu kekhawatiran terpancar jelas di mata Jihan, ia sangat khawatir melihat kakaknya terlihat sangat kesakitan.
"Kak, maafkan aku. Aku tidak bermaksud untuk menyakiti kakak. Aku mohon dengan kakak, tolong kita pergi ke rumah sakit ya," ucap Jihan dengan khawatir.
"Kamu tenang saja, Kakak baik baik saja!" jawab Juli dengan santai dan menutupi rasa sakit yang ia rasakan di hadapan Jihan. Ia kemudian memegangi kedua pipi Jihan dengan penuh kasih sayang. "Dengarkan Kakak, Kakak tidak ingin kehilangan kamu lagi. Cukup sudah perpisahan kita kali ini, sekarang kita harus balas dendam untuk ayah
orang yang selama ini menyayangi kita berdua!."
Mendengar ucapan dari Juli, Jihan pun matanya mulai berkaca-kaca. Ia seakan merasakan sebuah sayatan di dalam hatinya setelah mendengar ucapan dari kakaknya yang sangat sayang dengan dirinya.
"Dan kamu juga harus ingat pesan Kakak, Kakak tidak akan pernah meninggalkan kamu lagi, Kakak akan selalu menjaga kamu bahkan kalaupun Kakak harus mengorbankan nyawa kakak demi kamu, maka kakak akan lakukan!."
Mendengar ucapan lanjutan dari yang Juli katakan Jihan terlihat semakin sedih, matanya mengeluarkan air mata. Ia kemudian menghapus air matanya saat setelah ia mendengar ucapan dari Juli yang sedikit meledek dirinya. Mendengar ledekan ledekan kecil dari Juli agar Jihan tidak sedih, Jihan pun akhirnya ia tersenyum dengan bahagia. Melihat Jihan bahagia Juli pun juga ikut bahagia dengan melihat senyum di wajah Jihan.
Beberapa saat kemudian, Juli pun melajukan mobilnya dan meninggalkan rumah dari Verdi dan ibunya. Saat itu, Juli tengah mengendarai mobil dengan berusaha menahan rasa sakit yang sangat luar biasa.
Sesampainya di dalam rumah, Jihan langsung duduk di sofa dan dia meminta minuman kepada pembantu, sedangkan Juli ia terlihat bergegas masuk ke dalam kamarnya. Hal itu ia lakukan karena ia tidak bisa menahan lagi rasa sakit yang ia rasakan.
__ADS_1
Saat ia berada di dalam kamar nya, Juli langsung mengambil kotak obat dan ia langsung membuka bajunya. Setelah baju terbuka, ia melihat perban yang ia gunakan menutupi tusukan itu terlihat sudah di penuhi oleh darah.
Saat itu keadaan pintu masih terbuka sedikit, terdengar rintihan dan erangan kecil dari mulut Juli, saat itu Jihan menyadari kalau kakaknya sangat tersakiti dengan luka itu. Ia pun akhirnya masuk ke dalam kamar kakaknya dengan baik. Dengan perlahan, ia membantu kakaknya untuk menggantikan perban yang sudah di penuhi darah.