
Ketika Juli dan polisi itu sudah sampai di rumah sakit yang di maksud kan oleh orang misterius itu, ia terlihat sangat khawatir lalu ia bergegas segera menemui suster yang menjaga kasir. Ketika ia sudah menemui suster itu, ia bertanya kepada suster itu tentang pasien yang membutuhkan donor darah.
Mendengar ucapan itu, suster itu terlihat berhenti selama beberapa saat setelah itu ia memberi tahu kalau ruangan itu ada di lorong paling ujung dan suster itu juga mengatakan kalau pasien yang membutuhkan donor darah itu berwajah sama dengan Juli.
Mendengar hal itu, Juli pun semakin yakin kalau orang yang di maksud oleh suster itu adalah Jihan, Juli yang melihat hal itu, ia semakin yakin kalau pasien itu adalah Jihan. Saat itu ia pun langsung bergegas pergi untuk menemui pasien tersebut.
Polisi yang saat itu bingung dengan Juli, ia hanya diam dengan mengikuti setiap langkah yang di ambil oleh Juli. Ketika Juli tengah berlari menuju ke ruangan yang di maksud oleh si suster. Di saat bersamaan seorang suster dengan membawa beberapa alat rumah sakit berjalan melewati Juli, Juli yang saat itu tidak fokus dengan keadaan sekeliling. Tanpa sengaja, ia menabrak suster itu hingga membuat barang barang yang di bawa oleh suster itu jatuh berantakan dan membuat kegaduhan.
Polisi yang menyadari hal itu, langsung bergegas membantu si suster merapihkan barang barangnya dan ia meminta maaf kepada suster itu atas kesalahan yang di perbuat oleh Juli. Suster yang di tabrak itu pun hanya diam dengan tersenyum kecil di bibirnya.
Setalah membantu si suster itu, Juli pun meminta maaf kepada suster itu karena ia sudah menabrak dirinya. Namun saat ia ingin melanjutkan berlari.
__ADS_1
"Aagh! " erang Juli dengan langkah kaki yang terhenti di tempat.
"Juli!" panggil Polisi itu lalu ia memegangi Juli yang saat itu ingin terjatuh. "Ada apa?" lanjut Polisi itu dengan tangan memegangi Juli.
Juli yang mendengar ucapan itu, ia hanya menggelengkan kepalanya dan ia kemudian menguatkan dirinya. Ia kemudian berusaha bangun dari tangan si polisi itu. Dan ia berusaha untuk berdiri dengan tegak. Namun, saat ia sudah berhasil berdiri dengan tegak selama beberapa saat, ia melihat ke arah perutnya. Saat itu terlihat noda darah membasahi baju yang saat itu ia kenakan.
Juli yang melihat hal itu ia pun hanya diam dengan tangan kirinya memegangi luka itu. Ia terlihat kesakitan, hal itu tergambar jelas di raut muka Juli. Menyadari hal tersebut, polisi itu pun kembali membantu Juli dan meminta Juli untuk beristirahat. Ia berusaha untuk memanggil dokter agar luka yang ada di perutnya di obati oleh dokter, namun Juli menolak dan lebih memilih untuk tetap melanjutkan perjalanan nya. Polisi yang saat itu melihat keadaan Juli yang sangat lemah, ia terus berusaha untuk Makasar Juli di obati terlebih dahulu namun Juli tetap menolak dan tetap memilih untuk tidak di obati.
Juli pun melanjutkan perjalanan nya dengan luka yang ada di perutnya, saat itu ia menahan rasa sakit yang sangat luar biasa, dan saat itu ia juga merasakan kalau tubuhnya semakin melemah karena darah banyak keluar dari perutnya.
Melihat hal itu, Juli pun tanpa mempedulikan keadaannya ia pun langsung masuk kedalam kamar itu dan melihat pasien yang ada di kamar itu. Setelah ia berada di dalam kamar, dengan langkah perlahan ia mendekati pasien itu. Saat ia sudah berada di dekat pasien itu, mata Juli tiba tiba berkaca kaca. Sedangkan ekspresi terkejut terlihat di raut muka si polisi itu.
__ADS_1
"Jihan!" panggil Juli dengan lirih setelah melihat pasien yang ada di ruangan itu adalah Jihan adiknya. Setalah mengatakan hal itu, Juli pun langsung jatuh ke lantai dengan keadaan perut yang di penuhi oleh darah.
Melihat hal itu, suasana yang saat itu tenang seketika berubah menjadi kepanikan. Polisi yang saat itu berada di belakang Juli ia langsung menghampiri Juli, sedangkan dokter dan suster itu langsung bergegas untuk menangani Juli dan pendarahan yang ada di perutnya agar tidak semakin parah.
Beberapa saat kemudian, Juli terlihat sudah terbaring di tempat lain. Dengan cahaya lampu yang sangat terang di atas perut nya dan saat itu ia di pasangkan sebuah alat bantu pernafasan dan infus. Saat itu ia di kelilingi oleh beberapa dokter dan beberapa suster yang berusaha untuk membantu menghentikan pendarahan di perut Juli.
Di kamar yang ditempati oleh Jihan terlihat polisi itu tengah duduk di kursi yang berada tidak jauh dari Jihan. Ia terlihat sedih dengan keadaan Jihan dan Juli.
"Ada apa dengan kamu Jihan? Kenapa bisa seperti ini keadaan kamu?" tanya polisi itu kepada Jihan yang masih berada di dalam keadaan koma.
"Siapa yang melakukan ini ke kamu? Apakah orang yang sama, seperti orang yang berusaha menabrak kamu waktu itu?" ucap lanjut si polisi itu dengan kebingungan dan sedih yang menjadi satu.
__ADS_1
Ketika polisi itu tengah berbincang bincang dengan melihat keadaan Jihan, salah satu suster datang dan ia memberi tahu kalau dirinya ingin memeriksa keadaan Jihan. Menyadari kalau salah satu suster datang ke kamar yang di tempati oleh Jihan, polisi itu pun bertanya kepada suster itu tentang apa yang terjadi sebenarnya. Mendengar pertanyaan itu, suster itu pun menjelaskan kalau Jihan adalah korban dari tabrak lari. Ia juga kehilangan banyak darah, saat itu suster itu juga memberi tahu kalau darah yang di milik oleh Jihan hanya sama persis dengan darah yang di milik oleh Juli. Namun, saat itu suster itu mengatakan kalau Juli tidak bisa mendonorkan darahnya karena keadaan nya yang juga lemah akibat pendarahan di perutnya.
Mendengar penjelasan dari suster itu, polisi itu pun hanya mengangguk kan kepalnya sebagai tanda bahwa dirinya mengerti apa yang di ucapkan oleh si suster itu. Setelah memeriksa keadaan Jihan yang masih saja seperti di awal suster itu pun pergi dan meninggalkan polisi itu yang tengah menjaga Jihan.