
Saat itu keadaan Juli masih sangat kritis, polisi yang menemani Juli pergi ke rumah sakit ia terlihat sangat kebingungan dengan yang terjadi kepada Juli.
Di dalam mobil terlihat orang misterius dan Jihan baru saja sampai di rumah sakit. Saat itu Jihan terlihat sangat sedih, air matanya terus menetes membasahi pipinya. Saat ia baru sampai di rumah sakit, Jihan menatap tajam orang misterius itu dengan tatapan mata yang terlihat kesal. Ia menatap orang misterius itu selama beberapa saat lalu ia memalingkan wajahnya dan turun dari mobil tanpa mengatakan sepatah katapun. Entah, apa yang membuat Jihan seperti marah dengan orang misterius itu. Tak berselang lama, Jihan dengan air mata yang terus menetes membasahi pipinya ia turun dari mobil dan pergi menghampiri Juli.
Tak menunggu lama, akhirnya Jihan sampai di ruangan yang di tempati oleh Juli. Melihat kedatangan Jihan, polisi itu tampak sangat bahagia. Ia langsung datang menghampiri Jihan dan memeluk erat Jihan.
"Terima kasih, karena kamu sudah datang ke sini Jihan. Aku mohon untuk saat ini, tolong bantu aku," pinta polisi itu kepada Jihan dengan kedua tangannya terlipat di depan dadanya. Mendengar permintaan itu Jihan pun hanya menjawab permintaan itu dengan anggukan kepala.
Tak menunggu lama, Jihan pun memeriksa kan golongan darahnya. Setelah beberapa saat menunggu hasil tes golongan darah Jihan, akhirnya Jihan pun masuk ke dalam ruangan Juli dan ia kemudian duduk di kursi yang berada di samping tempat tidur yang di tempati oleh Juli.
"Kakak, maafkan aku. Aku tahu, semua ini terjadi kerena aku, seharunya aku tetap bersama kakak, tapi...., aku merasa kali ini aku ingin hidup bersama ibu. Lagi pula, Kak Verdi sudah berada di penjara karena kasus kematian dari Tuan, sekarang ibu sendirian kakak. Aku mohon kakak jangan marah dengan aku," ucap Jihan kepada Juli dengan memegangi salah satu tangan Juli.
Beberapa saat kemudian, salah satu suster memberi tahu kalau darah Jihan dengan darah Juli sama. Mendengar hal itu, Jihan pun langsung mempersiapkan dirinya untuk mendonorkan darahnya kepada Juli.
Jihan pun membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur yang tidak jauh dari dirinya, dan beberapa dokter pun terlihat memasangkan alat alat untuk transfusi darah.
__ADS_1
Waktu berlalu begitu cepat, akhirnya Jihan pun berhasil mendonorkan darah untuk Juli. Setelah ia berhasil mendonorkan darahnya untuk Juli, ia langsung pergi dari rumah sakit dan kembali ke rumah ibunya. Si polisi yang saat itu bahagia karena Juli sudah melewati masa kritisnya, ia tidak mempedulikan kepada Jihan pergi dan p yang di lakukan oleh Jihan. Ia tidak mempedulikan hal itu, yang ia pedulikan hanya kesehatan Juli.
Ketika dokter sudah menyatakan kalau Juli melewati masa kritisnya, polisi itu sangat bahagia. Ia kemudian masuk ke ruangan yang di tempati oleh Juli setelah ia mendapatkan izin dari dokter untuk melihat Juli.
Saat ia sudah berada di dalam kamar itu, air matanya terlihat tidak bisa di bendung lagi oleh matanya. Setelah itu, si polisi itu memegang erat salah satu tangan Juli dan sesekali mencium tangan Juli.
"Kamu harus sembuh Dek, jangan tinggalkan kakak. Kamu sudah janji dengan kakak kalau kamu tidak akan pergi sebelum balas dendam ini berakhir kalau kenapa sekarang kamu hanya terbaring di tempat tidur seperti ini!" ucap polisi itu dengan menangis dan menatap Juli.
Ketika si polisi itu, tengah berada di ruang itu. Orang misterius itu berdiri di dekat pintu dengan memandang ke arah laki laki polisi itu.
Keesokan harinya, terlihat polisi itu tertidur di dekat Juli. Saat itu perlahan Juli sudah mulai sadar dan membuka matanya, saat itu Juli terlihat sudah mengerakkan salah satu jarinya. Namun, polisi itu tidak menyadarinya karena ia terlelap dalam tidurnya. Beberapa saat kemudian Juli membuka matanya dengan perlahan, saat itu ia tidak menyadari kalau ada orang lain di tempat itu. Matanya seakan buram, namun tiba tiba matanya terbuka lebar. Menyadari kalau di tangannya ada kepala si polisi itu, Juli pun mengerakkan tangannya perlahan agar tidak membangunkan polisi itu.
Ia kemudian mengerakkan tangannya ke arah kepala si polisi itu, dan ia menatap polisi itu dengan pandangan mata yang sayup. Menyadari kalau kepalanya di pegang oleh seseorang polisi itu pun langsung terbangun dari tidurnya dan mengangkat kepalanya tinggi tinggi.
"Juli...., " panggil polisi itu dengan bahagia saat melihat Juli sudah sadar dari masa komanya. Mendengar panggilan itu, Juli pun tersenyum kepada polisi itu. Melihat hal itu polisi itu pun langsung memeluk erat Juli dengan bahagia.
__ADS_1
"Dimana Jihan?" tanya Juli kepada polisi itu dengan lirih saat ia sudah melepaskan pelukannya. Mendengar pertanyaan itu polisi itu hanya diam dan membuang mukanya. Ia kemudian berusaha pergi dari hadapan Juli namun Juli mengehentikan langkah dari polisi itu dengan memanggil polisi itu dengan sebutan kakak.
"Kak ...," panggil Juli lagi. Langkah polisi itu pun langsung terhenti setelah mendengar hal itu. "Kenapa Kakak justru ingin meninggalkan aku? Kemana Jihan?" tanya Juli lagi dengan lirih.
"Apa yang harus aku katakan? Tanpa mengatakan apapun, aku yakin kamu pasti mengerti kenapa aku pergi dari kamu!" jawab polisi itu tanpa berbalik melihat ke arah Juli.
Mendengar ucapan itu, Juli pun sadar kalau Jihan kembali ke ibunya dan tinggal dengan ibunya. Juli pun tiba tiba meneteskan air matanya, beberapa detik setelah itu Juli pun berbalik ke arah Juli. Melihat Juli menetes kan air mata polisi itu langsung mendekati Juli dan menghapus air matanya.
"Tidak, jangan menangis. Kamu itu adik ku, adikku tidak boleh meneteskan air mata nya untuk orang yang sudah pergi dari hidupnya," ucap polisi itu dengan mendekatkan tubuhnya ke tubuh Juli.
"Aku hanya takut, dengan adanya perpisahan ini...., akan ada kepergian yang menyakitkan." Seru Juli kepada polisi itu dengan salah satu tangannya memegang luka di perutnya, ia juga sesekali mengerang kesakitan akibat luka di perutnya.
Mendengar ucapan itu, polisi itu pun langsung memeluk erat Juli dengan sesekali ia mengatakan kepada Juli kalau dirinya akan menjaga Jihan walaupun ia jauh dengan Jihan. Ia juga berjanji kalau tidak akan ada yang pergi di antara mereka bertiga.
"Tidak akan ada yang pergi dari kita, Kakak janji dengan kamu. Semuanya akan baik baik saja," ucap polisi itu untuk menenangkan Juli. Ia kemudian mencium kening Juli dan melepaskan pelukannya. "Kamu harus percaya dengan kakak, kalau kita bertiga tidak akan pernah terpisahkan. Kakak berjanji dengan kamu."
__ADS_1
Mendengar ucapan itu Juli yang saat itu menangis, langsung menghentikan tangisannya dan tersenyum kepada polisi itu.