Reinkarnasi

Reinkarnasi
Part 41 Keadaan Juli, Keadaan Jihan dan perasaan Verdi


__ADS_3

Hari terlihat semakin malam, Ibu Juli terlihat sangat khawatir dengan keberadaan Verdi. Ia berjalan ke sana kemari dengan sesekali melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 8 malam.


"Gimana ya kira kira keadaan Verdi saat ini? Kenapa para polisi itu masih saja belum memulangkan Verdi? Apa jangan jangan para polisi itu menangkap Verdi karena Verdi mengetahui rahasia tentang kematian dari Tuan?" ucap Ibu Juli dengan khawatir dan berjalan ke sana kemari.


Tak ingin terlalu lama menyimpan perasaan penasarannya lagi dengan keadaan Verdi akhirnya di waktu yang sudah cukup lama, Ibu Juli pun langsung mempersiapkan dirinya untuk pergi ke kantor polisi. Ketika ia sudah siap dan ingin keluar dari rumah, tiba tiba lampu di ruangan itu mati hingga membuat keadaan rumah sangat gelap hanya di tolong dengan lampu yang samar samar dari kamar luar rumah.


Menyadari kalau lampu itu mati secara tiba tiba Ibu Juli pun langsung berhenti dengan mematung. Ia terlihat sangat ketakutan, lalu ia mengeluarkan ponselnya yang berada di dalam tasnya. Setalah mengeluarkan ponselnya dari tas nya, Ibu Juli pun menyorotkan ponselnya ke arah sekitar ia berdiri dengan perasaan takut ia berbalik dan melihat ke arah belakang nya. Namun, saat ia melihat ke arah belakang lampu tiba tiba menyala lagi. Dan saat ia sudah melihat ke arah belakang wajahnya terlihat sangat terkejut karena ia melihat Jihan berdiri dengan tatapan mata yang tajam dan serius serta ia memegangi pisau di tangannya. Ia seakan ingin menerkam ibunya sendiri.


"Ada apa Ibu? Kenapa Ibu seperti terkejut melihat aku?" tanya Jihan kepada ibunya yang memang terlihat sangat terkejut dengan kedatangan Jihan.


"Jihan!" panggil ibunya dengan lembut lalu ia berlari memeluk Jihan dengan sangat erat. Jihan yang kesal dengan ibunya karena ia lebih peduli dengan Verdi dari pada Juli ataupun dirinya, tanpa berpikir panjang ia pun langsung mendorong ibunya hingga ibunya menjauh dari dirinya.

__ADS_1


"Kenapa Ibu peduli dengan aku, hah? Kenapa? Bukannya selama ini Ibu hanya peduli dengan Kak Sista dan Kak Verdi, lalu kenapa? Kenapa kini Ibu berpura pura peduli dengan aku? Kenapa?!" tanya Jihan dengan nada serius dan tegas kepada ibunya. Terlihat mata yang saat itu terlihat biasa saja tiba tiba di penuhi oleh air mata. Kesedihan nya tampak jelas di mata Jihan. yang saat itu berada di hadapan ibunya.


"Aku selalu berharap, Ibu tulus mencintai dan menyayangi aku dengan sepenuh hati. Tapi nyatanya, Ibu justru menyakiti aku dan mengkhianati aku. Ibu membuang aku, dan Ibu juga membunuh saudara kembar ku. Sekarang apa lagi, hah? Apa lagi yang ingin Ibu lakukan? Apa Ibu juga ingin membunuh aku? Seperti Ibu membunuh Juli, iya?" ucap lanjutan Jihan dengan nada marah dan nada bicara semakin meninggi.


Mendengar Jihan sangat marah dengan dirinya yang terlihat pilih kasih dengan Verdi. Ibu Juli pun dengan sedih menghampiri Jihan dan memegangi kedua pipi Jihan. Dengan kelembutan tangan dari seorang ibu, Ibu Juli berhasil membuat Jihan tersentuh dan terhasut dengan ucapannya dan percaya dengan semua yang di dikatakannya.


Setalah menyadari kalau Ibu Juli mampu membuat Jihan tersentuh dengan ucapannya ia memeluk erat Jihan, Jihan pun membalas pelukan itu dengan erat selama beberapa saat. Menyadari kalau Jihan benar benar sangat menyayangi dirinya, tiba tiba ia justru berubah sikap dimana dia tersenyum dengan jahat dengan mata yang sesekali melirik Jihan.


"Aku kira, selama ini Ibu hanya sayang dengan Kak Verdi dan Kak Sista tidak dengan aku atau pun Juli!. Maafkan Jihan Bu karena sudah berpikiran seperti itu kepada Ibu," ucap Jihan dengan raut muka sedih dan berurai air mata.


"Ibu benar benar menyayangi kamu Jihan, tidak hanya kamu. Ibu juga menyayangi Juli, tapi ibu tidak tahu kalau Verdi akan melakukan hal kejam kepada Juli saudara kamu sendiri!." Seru Ibu Juli lalu ia kembali memeluk Jihan dengan erat dan melemparkan senyum jahat kepada Jihan. Jihan yang saat itu tidak menyadari kalau ibunya tidak suka dengan dirinya, ia justru percaya dengan omongan kosong yang di lontarkan oleh ibunya sendiri.

__ADS_1


Di kantor polisi, terlihat Verdi terbaring lemah dengan luka memar dimana mana. Di situ wanita polisi itu membantu Verdi mengobati luka lukanya. Saat lukanya di obati oleh polisi wanita itu, tampaknya Verdi menaruh rasa kepada wanita itu. Hal itu terlihat dari tatapan mata Verdi yang terus memandangi wanita polisi itu.


"Kamu percaya kalau aku adalah pembunuh ayah ku sendiri?" tanya Verdi kepada wanita polisi itu.


Mendengar ucapan itu, si wanita polisi itu tampak kesal dan ia yang menyadari kalau tidak ada rasa kepada Verdi langsung langsung menatap tajam Verdi, polisi itu lalu melemparkan obat yang ia oleskan kepada Verdi dan berbicara dengan serius.


"Seorang penjahat tetaplah penjahat. Tidak mungkin seorang penjahat atau pun pembunuh akan bersikap baik, kalau pun orang itu bersikap baik. Aku yakin, kalau kamu hanya orang yang ingin memanfaatkan aku!."


Setelah mengatakan hal itu wanita polisi itu pun pergi dari hadapan Verdi, Verdi yang melihat wanita itu pergi hanya diam tanpa mengatakan sepatah kata pun. Ia menatap wanita itu dengan penuh air mata dan kesedihan yang teramat dalam.


Di rumah sakit, Juli masih terbaring lemah tak berdaya. Terlihat orang misterius lain tengah berdiri di dekat Juli. Ia kemudian mendekatkan tubuhnya ke arah Juli dan membisikkan sesuatu hingga membuat Juli tiba tiba kejang kejang. Suasana yang saat itu tenang tiba tiba berubah menjadi kepanikan, dokter dan suster pergi secara bergantian ke ruangan Juli untuk memeriksa keadaan Juli mengapa tiba tiba kejang kejang. Melihat keadaan Juli, orang misterius itu tiba tiba pergi tanpa berpamitan kepada orang dokter atau pun kepada Juli.

__ADS_1


Setelah berusaha melakukan banyak hal, akhirnya Juli pun bisa tenang dan tidak kejang kejang. Ia akhirnya hanya diam dan kembali tidak sadarkan diri setelah di tangani beberapa dokter dan suster di tempat itu. Setelah itu salah satu dokter menghampiri polisi yang saat itu tengah khawatir di luar ruangan Juli. Dokter tersebut memberitahu kalau Juli mengalami masalah hingga membuat dirinya kejang kejang. Setelah di beri tahu tentang keadaan Juli, polisi itu tampak tenang. Tiba tiba ia menerima sebuah surat dari seseorang untuk pergi ke area rumah sakit yang paling belakang dari rumah sakit. Setelah membaca surat itu, ia pun langsung bergegas pergi dari luar kamar Juli dan bergegas pergi ke halaman belakang rumah sakit. Saat itu ia menitipkan Juli kepada anak buahnya yang tengah berada di dalam ruangan itu.


__ADS_2