Reinkarnasi

Reinkarnasi
Part 56 Kekhawatiran


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, Jihan pun sampai di rumah sakit. Dengan terburu buru, ia pun langsung pergi ke kamar Juli, saat itu ia mengira Juli masih ada di rumah sakit. Namun ketika ia sudah masuk ke dalam kamar itu, ia terlihat sangat terkejut. Bukan tanpa sebab ia terkejut, hal itu terjadi karena ia tidak melihat kakaknya lagi, namun yang ia lihat adalah orang lain yang menempati kamar kakaknya. Melihat hal itu, Jihan pun terlihat langsung keluar dari kamarnya. Saat itu Jihan tampak bingung dengan apa yang terjadi, ia terlihat melihat ke sana kemari dengan sangat kebingungan. Sesekali dirinya memanggil manggil nama Juli dengan lirih sambil melihat lihat ke sekitar tempat itu. Tak berpikir panjang akhirnya dirinya pergi menuju ke wanita resepsionis yang berada di dekat pintu masuk. Dengan sangat terburu buru dirinya menghampiri resepsionis, untuk mencari tahu keberadaan kakaknya. Ketika ia sudah berada di dekat ruang resepsionis ia bertanya kepada wanita yang saat itu tengah bertugas.


"Dimana kakak saya?" tanya Jihan dengan sangat khawatir kepada wanita yang berada di dekat pintu.


"Kalau boleh saya tahu, nama nya siapa Tuan?" jawab wanita itu dengan santai.


"Namanya Juli, wajahnya sama persis dengan saya," jawab Jihan dengan panik. Beberapa saat kemudian, wanita itu melihat ke arah Jihan selama beberapa saat. Setelah itu, wanita yang saat itu sedang bekerja di rumah sakit terlihat diam selama beberapa saat. Ia seperti tengah memikirkan sesuatu di benak nya.


Tiba tiba keadaan berubah, dimana setelah melihat wajah dari Jihan ia mengingat ketika seorang polisi menghampiri dirinya dengan gagah bersama dengan seorang laki laki yang duduk di kursi roda dengan wajah yang sama dengan orang di depan nya.


Saat itu, wanita yang tengah bekerja tersebut di peringatan oleh polisi untuk tidak memberi tahu kepada siapapun kalau Juli sudah pulang dari rumah sakit. Mengingat hal itu, wanita yang tengah bekerja itu pun tampak hanya diam selama beberapa saat dengan menundukkan kepalanya, setelah itu ia meninggikan kepalannya dan melanjutkan berkata dengan raut muka sedih.


"Maaf Tuan, saya tidak tahu. Namun, yang saya ketahui pasien dengan nama Juli sudah tidak ada!" jawab si wanita resepsionis itu dengan nada rendah.

__ADS_1


Mendengar ucapan itu, Jihan terlihat sangat terkejut dan dirinya terlihat sangat hancur mendengar kalau Juli pergi, matanya tiba tiba berkaca kaca. Ia benar benar hancur, dengan perlahan ia melangkah mundur menjauhi resepsionis itu dengan raut muka yang sedih.


Ketika Juli sudah jauh dari resepsionis itu, tanpa di sadari oleh Jihan wanita itu mengambil ponselnya. Dan ternyata, wanita itu membaca pesan dari nomor yang tidak di kenal itu. Saat itu, nomor itu menginginkan kalau dirinya memberi tahu Jihan kalau Juli sudah mati. Ia mengirim pesan melalui pesan biasa.


"Beri tahu apapun yang kamu bisa asalkan jangan beritahu orang yang ada di hadapan Anda tentang keberadaan Juli yang sebenarnya!" tulis polisi itu kepada si wanita resepsionis itu. Membaca pesan tersebut wanita misterius itu hanya diam dan ia terlihat sangat ketakutan. Namun, saat itu ia menutupi ketakutannya dari hadapan Jihan. Jihan yang saat itu tidak percaya dengan kematian Juli, ia hanya dapat menangis di tempat itu. Lalu, ia menghentikan tangisnya sejenak dan ia kemudian berpikir untuk mencari keberadaan Juli di kamar mayat.


Disaat itu Jihan pun langsung bergegas pergi dengan raut muka sedih, khawatir dan panik. Ketika ia sudah berada di dalam kamar mayat. Keadaan di ruangan itu sangat gelap, lalu salah satu penjaga yang menjaga ruangan mayat itu menghampiri Jihan.


"Saya tahu itu, saya sedang mencari mayat kakak saya!" jawab Jihan dengan keadaan masih gugup. Mendengar ucapan itu, si penjaga itu pun langsung menghidupkan lampu dari kamar itu. Ketika lampu sudah menyala, suasana gelap dan menyeramkan kini berubah menjadi suasana yang lebih terang dan tidak menyeramkan, namun kengerian masih terjadi di mana Jihan melihat enam mayat orang terbaring di atas tempat tidur rumah sakit dengan keadaan di tutup dengan kain berwarna putih. Melihat hal itu, Jihan yang saat itu sedih, khawatir dan panik ia terlihat ketakutan.


"Mari Tuan, kita lihat" ajak si penjaga ruangan mayat itu kepada Jihan. Langkah berat, tiba tiba di rasakan oleh Jihan ketika mendengar ajakan dari penjaga itu. Namun, saat itu ia tidak mempedulikan ketakutannya, karena ia sangat penasaran dengan mayat mayat tersebut. Akhirnya, ia pun memberanikan diri untuk melihat dan memeriksa satu persatu mayat yang ada di ruangan itu.


Ketika dirinya sudah berdiri di dekat mayat pertama, ia melihat mayat itu bermuka tidak jelas dan si penjaga itu menjelaskan kalau mayat itu meninggal karena kecelakaan. Mendengar itu, Jihan pun kembali menutup muka mayat itu, setelah itu ia menghampiri mayat ke dua namun ketika ia membuka penutup muka mayat itu, yang ia lihat hanyalah seorang kakek tua. Ketika menuju langkah ke tiga, Jihan menarik nafas panjang karena perasaan takutnya. Dengan perlahan ia membuka penutup muka mayat itu, namun mayat itu bukan Juli. Ketika dirinya sudah sampai di titik terakhir atau mayat ke enam, dengan nafas panjang Juli menghela nafas panjang dengan perlahan. Ia juga berjalan dengan perlahan, ketika ia sudah berada di dekat mayat terakhir ia membuka penutup muka mayat itu. Hati Jihan saat itu benar benar sangat degdegan, ia takut kalau mayat terakhir adalah mayat kakaknya yaitu Juli.

__ADS_1


Ketika ia membuka penutup muka nya, betapa terkejutnya ia dimana dirinya tidak melihat Juli juga. Menyadari hal itu, ia terheran-heran namun ia tidak bisa mengatakan apa apa.


"Apa orang yang Anda cari ketemu tuan?" tanya si penjaga itu, namun saat itu Jihan masih diam dengan tatapan mata melihat ke arah mayat itu. "Tuan!" panggil si penjaga itu dengan lirih sambil memegangi salah satu bahu Jihan, hingga membuat Jihan sangat terkejut dan langsung menatap mata si penjaga dengan marah dan takut menjadi satu.


"Apa apaan sih Bapak ini, membuat saya terkejut saja!."


"Maaf, habisnya saya sudah ajak Tuan bicara namun Tuan justru tidak menjawab percakapan saya," jawab penjaga itu.


"Memangnya apa yang bapak tanyakan," jawab Jihan lagi dengan melihat ke arah penjaga itu.


"Saya tanya, apakah Anda menemukan orang yang Anda cari? Namun, Tuan tidak menjawab saya!."


"Maaf, iya tidak ada. Mereka bukan keluarga saya," jawab Jihan lalu ia keluar dari kamar mayat itu bersamaan dengan si penjaga.

__ADS_1


__ADS_2