
Beberapa saat kemudian, Verdi dan Handi datang ke rumah Ibu Juli. Saat melihat mereka datang secara tiba tiba ia bangun dari duduknya dan memanggil nama mereka berdua dengan lantang dan setelah itu, Ibu Juli yang saat itu tegang karena ucapan dari Dokter Ziya berusaha bersikap tenang dengan bertanya kepada Verdi tentang Juli dan Jihan. Namun, saat itu Verdi menjelaskan kepada Ibu Juli kalau mereka masih belum bisa menemukan Amar, Jihan dan Juli.
Mendengar ucapan itu wajah terkejut tergambar di raut muka Ibu Juli, setalah itu beberapa saat kemudian matanya berkaca kaca dan ia memperlihatkan wajah sedihnya.
Menyadari kalau Ibu Juli sedih, Dokter Ziya pun bangun dari duduknya dengan raut muka biasa saja. Saat itu, pelukan hangat di berikan Verdi kepada ibunya yang bersedih atas berita yang di ucapkan oleh Verdi, kalau dirinya tidak menemukan Jihan dan Juli.
Malam hari pun tiba, terlihat di rumah Amar. Seorang laki laki berjalan dengan kepala menunduk dan tergesa gesa berjalan seperti dia tengah di kejar oleh setan.
Ketika laki laki itu, sudah berada di depan rumah Amar. Laki laki itu mengetuk pintu beberapa kali dengan sopan tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Tak berselang lama, Ibu Amar pun terlihat membukakan pintu rumah, saat ia sudah berhadapan dengan laki laki itu. Raut muka yang saat itu biasa saja tiba tiba terlihat sangat terkejut, lalu dengan terburu buru dirinya mengajak laki laki itu masuk ke dalam rumah. Saat laki laki itu sudah berada di dalam rumah, Ibu Amar terlihat melihat ke sana kemari untuk memastikan keadaan sekita dan ia melakukan tindakan itu sesaat sebelum dirinya menutup pintu.
Di rumah Ibu Juli, terlihat Dokter Ziya berada di dalam ruang tamu dan tengah terbaring di atas tempat tidur. Namun tiba tiba, ia teringat kalau hari sudah malam. Akhirnya ia pun berpikir untuk menghubungi suami dan anaknya yang berada di rumah sedangkan dirinya berada di rumah orang lain.
"Halo Mas," sapa Dokter Ziya kepada suaminya yang saat itu tengah mempersiapkan makan malam dirinya dengan anak tercinta.
__ADS_1
"Hello Sayang, gimana kabar kamu?" jawab suami dari Dokter Ziya dengan baik.
"Harusnya aku yang tanya hal ini kepada kamu Mas, bukannya Mas yang tanya ke aku!" jawab Dokter Ziya dengan sedih, sambil melihat suami nya yang terlihat sangat kerepotan mempersiapkan makan malam. "Gimana kabarnya Mas?" ucap lanjut Dokter Ziya dengan sedih melihat ke arah suaminya. Menyadari kalau istrinya sedih melihat keadaannya, suami Dokter Ziya pun menghentikan tindakannya dan mendekati kamera ponselnya.
"Hey, what happened?" jawab suami dari Dokter Zoya dengan lembut dan baik.
Mendengar pertanyaan itu, Dokter Ziya pun menghela nafas panjang lalu ia bangun dari terbaring nya di atas tempat tidur dan ia kemudian duduk di atas ranjangnya.
"Mas, aku sebenarnya takut dengan semua ini!. Tapi, jika aku tidak melakukannya maka kamu dan anak kita akan dalam bahaya, aku tidak mungkin bisa hidup tanpa kalian!."
"Dengar kan aku, kalau kamu melakukan ini demi mendapatkan keadilan bagi semua orang maka jangan takut. Aku dan anak kita baik baik saja, dan aku juga yakin kalau orang orang itu tidak akan menyakiti kita, karena kita tidak melakukan apapun yang merugikan mereka. Lagi pula, kamu memberi tahu kebenaran tentang kematian Sista kepada semua orang itu kan permintaan dari Amar, bukan karena keinginan kamu sendiri.
Kamu tenang saja, dan untuk makan kamu juga tenang saja. Amar sudah membelikan barang barang yang aku perlukan dan selain itu Amar juga... Ia juga mengirim kan penjaga untuk kita semua yang ada di rumah, jadi aku mohon sama kamu, kamu jangan khawatir!."
Ucap suami dari Dokter Ziya dengan baik, mendengar penjelasan dari suaminya, Dokter Zoya tampak lebih tenang dan mencoba untuk tidak berpikiran buruk lagi.
__ADS_1
Saat Dokter Ziya berbincang bincang dengan suaminya, pintu kamar yang di tempati oleh Dokter Ziya terlihat terbuka sedikit. Melihat hal itu, ternyata tanpa di sadari oleh Dokter Ziya, Ibu Juli menguping pembicaraan antara Dokter Zoya dengan suaminya namun saat itu Ibu Juli tidak mendengar apapun dari telepon itu yang ia dengan hanya lah suara dari Dokter Zoya saja.
Ketika Ibu Juli tengah menguping salah satu, anak buah Handi melewati Ibu Juli. Melihat hal itu, ia pun memanggil Ibu Juli dengan perlahan, namun saat itu Ibu Juli terlihat tetap terkejut walaupun sudah di panggil oleh anak buah Handi dengan lirih.
"Kamu itu apa apa sih, kenapa kamu mengagetkan saya?" ucap Ibu Juli dengan nada bicara sedikit tinggi hingga membuat suara terdengar di dalam kamar Dokter Ziya.
Menyadari kalau ada orang lain di luar kamarnya, Dokter Ziya pun akhirnya meminta untuk suaminya melanjutkan mempersiapkan makan malam, sedangkan dirinya keluar dari kamar untuk melihat orang orang yang berada di luar kamar yang ia tempati.
Ketika Dokter Ziya sudah berada di luar kamar, Dokter Ziya terlihat sangat terkejut karena ia melihat Ibu Juli berada di luar kamarnya dengan anak buah Handi.
"Ada apa ini?" tanya Dokter Ziya hingga membuat Ibu Juli terkejut dan langsung berbalik melihat ke arah Dokter Ziya.
"Tidak ada papa, " jawab Ibu Juli dengan singkat lalu ia pergi dari hadapan Dokter Ziya. Dokter Ziya yang melihat hal itu ia hanya diam tanpa mengatakan sepatah kata.
Setalah Ibu Juli pergi dari depan kamarnya, Dokter Ziya pun bertanya kepada anak buah Handi, namun ia tidak menjelaskan apapun yang ia katakan hanyalah dirinya melihat Ibu Juli menguping kamar Dokter Ziya. Setalah mengatakan hal itu, anak buah Handi pun pergi dari kamar dan meninggalkan dirinya. Dokter Ziya yang mendengar pernyataan dari anak buah Handi, ia terlihat berpikir selama beberapa saat di luar kamar setelah itu ia pergi dan kembali masuk ke dalam kamar tanpa bersikap curiga kepada Ibu Juli.
__ADS_1