
Keesokkan harinya Verdi yang tengah tertidur pulas di dalam mobilnya di kejutkan dengan suara telepon di ponselnya. Verdi yang mendengar suara itu, ia langsung terbangun dari tidurnya dan mengangkat ponselnya dengan nyawa yang masih terkumpul setengah.
"Iya, ada apa?" tanya Verdi kepada orang yang menghubungi dirinya.
"Tuan, Nyonya Besar bersikap aneh!" jawab orang di ponsel Verdi yang tidak lain adalah si penjaga yang tengah malam ia telepon.
"Iya, aku segera datang!."
Setalah mengatakan hal itu, Verdi pun bergegas mematikan ponselnya. Ia kemudian pergi dari tempat itu dengan mengendarai mobilnya.
Di dalam kamar, terlihat Ibu Juli teriak teriak memanggil manggil nama suaminya. Ia juga menangis tanpa di ketahui sebabnya oleh si penjaga saat itu ia ingin melakukan sesuatu namun ia tidak mengetahui apa yang harus ia lakukan. Saat itu si penjaga itu sangat kebingungan dengan apa yang terjadi dengan Ibu Juli.
Tak berselang lama, Verdi sampai di rumahnya, dengan terburu-buru ia masuk ke dalam rumah. Saat berada di dalam rumah Verdi langsung menghampiri kamar ibunya. Saat itu, ia mendengar dengan keras di luar kamar ibunya suara ibunya teriak teriak memanggil nama suaminya.
Verdi yang mendengar teriakkan itu, langsung bergegas masuk ke dalam kamar ibunya. Di saat ia berada di dalam kamar ibunya, ia melihat si penjaga terlihat kebingungan dan ibunya terus teriak teriak memanggil nama suaminya. Melihat hal itu Verdi pun langsung bergegas memeluk ibunya sambil menenangkan ibunya.
"Ibu tenang, tenang. Tuan baik baik saja dan dia akan segera pulang!."
__ADS_1
"Kamu bohong, kalau memang suami ku segera pulang seharusnya hari ini dia sudah pulang. Tapi tidak kan," jawab ibunya dengan nada lantang dan keras kepada Verdi.
Verdi yang mendengar hal itu ia hanya terlihat kesal dengan ibunya karena ibunya susah untuk percaya dengan dirinya, namun saat itu Verdi masih menahan amarahnya karena ia tahu ibunya dan si supir punya ikatan batin makanya ibunya susah untuk percaya.
"Melihat ibunya susah untuk percaya dengan dirinya dan sulit di kendalikan oleh Verdi. Ia pun akhirnya meminta si penjaga untuk mengambilkan suntikan penenang di kotak obat yang sudah di siapkan oleh Verdi beberapa saat yang lalu. Ia memberikan kode kepada si penjaga, melihat kode itu si penjaga pun terlihat langsung mengerti apa yang di ingin kan oleh Verdi. Ia pun langsung bergegas mengambil suntikan yang berada di luar ruangan.
Saat si penjaga itu sudah mengambil suntikan itu, ia kemudian masuk kembali ke dalam ruangan. Saat itu, si penjaga menyembunyikan suntikan itu dari Ibu Juli, lalu dengan perlahan ia mendekati Verdi yang memegangi ibunya dengan berusaha menenangkan ibunya. Setalah menerima suntikan itu, Verdi pun langsung menyuntikkan obat bius kepada ibunya agar ibunya tidak sadarkan diri. Ketika hal itu sudah terjadi dengan bantuan si penjaga, Verdi pun menidurkan ibunya di atas tempat tidur.
"Den Verdi, apa yang terjadi dengan Nyonya Besar sebenarnya?" tanya si penjaga itu dengan kebingungan setelah kejadian Ibu Juli yang mengamuk di dalam kamarnya.
Saat berada di luar kamar ibunya, Verdi duduk di sofa yang berada di depan kamar ibunya. Saat itu Verdi terlihat sedih dengan keadaan ibunya yang semakin parah.
Melihat hal itu, si penjaga itu memilih untuk diam dan tidak menanyakan hal apapun kepada Verdi.
"Dengarkan saya Pak, jika saya sedang pergi keluar dari rumah. Saya mohon kepada bapak, tolong jaga ibu saya, saya mohon," ucap Verdi dengan sedih.
Melihat raut muka Verdi yang melas dan sedih, si penjaga itu akhirnya memilih untuk menganggukkan kepalanya dan menyetujui apa yang di minta oleh bosnya.
__ADS_1
Di rumah sakit, terlihat Juli masih saja terbaring di atas setempat tidur dengan mengunakan alat bantu pernafasan dan alat alat yang lainnya. Saat itu keadaan ruangan tengah sepi tidak ada polisi yang menjaga Juli. Melihat hal itu, orang misterius yang meneror Verdi terlihat masuk ke dalam ruangan Juli dengan sebilah pisau di tangannya dan seakan ingin membunuh Juli. Dengan langkah perlahan, orang misterius itu berjalan mendekati Juli yang tengah terbaring di atas tempat tidur. Saat ia sudah berada di dekat Juli, orang misterius itu berdiri di dekat Juli dengan memegangi infus yang di pasang kan kepada Juli. Saat ia ingin melakukan sesuatu kepada infus itu, beberapa polisi yang tak lain anak buah Juli datang. Menyadari ada yang mendekati ruangan Juli orang misterius itu langsung bergegas pergi dan bersembunyi di ruangan itu. Para polisi itu pun sampai di dalam ruangan Juli bersama salah satu dokter rumah sakit itu.
Saat mereka semua berada di dalam ruangan Juli, salah satu polisi minta dokter itu untuk memeriksa keadaan Juli, namun saat itu Juli masih belum membaik dan masih kritis. Mendengar ucapan itu, para polisi itu terlihat sedih.
"Kira kira kapan yan Dokter Juli bisa sembuh dan pulih seperti dulu?" tanya salah satu polisi itu.
"Saya tidak tahu Tuan, yang jelas kematian ataupun kehidupan ada di tangan Tuhan, saya tidak bisa menentukan nasib Juli selanjutnya. Ia hidup atau meninggal, yang saya minta dengan kalian semua, jangan berhenti untuk berdoa," jawab si dokter itu dengan berdiri di hadapan si polisi itu.
Ia kemudian pergi dari ruangan itu setelah memeriksa keadaan Juli, mendengar ucapan dari si dokter salah satu polisi terlihat sedih. Entah apa yang membuat dirinya sangat sedih dengan hal itu.
Di saat para polisi itu sedang sedih, orang misterius yang bersembunyi di sisi lain ruangan Juli justru ia membuat kegaduhan dengan menjatuhkan salah satu benda di ruangan itu. Menyadari ada orang lain di dalam ruangan Juli salah satu polisi memeriksa ruangan. Ia berjalan perlahan lahan agar tidak membuat orang yang berada di sebelah Juli tidak kabur. Saat si polisi membuat gorden yang membatasi ruang Juli dengan ruang lain, saat ia sudah membuka gorden yang menjadi pembatas ruangan di sana ia tidak melihat hal mencurigakan. Ia hanya melihat seorang pasien tua dan Sorang wanita paruh baya yang entah dengan sengaja atau tidak pasien itu menjatuhkan gelas rumah sakit.
"Saya mohon, di ruangan lain ada pasien yang juga sedang sakit. Saya mohon ibu dan keluarga ibu yang sedang sakit jangan membuat kegaduhan," ucap si polisi yang melihat ke arah wanita paruh baya yang tengah menjaga pasien di ruangan itu.
"Baik Pak, saya mint maaf!."
Mendengar permintaan maaf dari si wanita itu, si polisi itu terlihat hanya diam dan kemudian kembali masuk ke dalam ruangan Juli tanpa mencurigai hal hal lainnya.
__ADS_1