Reinkarnasi

Reinkarnasi
Part 28 Kasih Sayang Verdi ke ibunya


__ADS_3

Di dalam sebuah ruangan, laki laki yang sangat mirip dengan Juli terlihat duduk di kursi goyang dengan di temani oleh cahaya lampu yang bergerak ke sana kemari dan membuat suasana lebih sangat menyeramkan. Dengan di temani sepi, laki laki itu menatap tajam ke hadapan dengan berbicara kepada dirinya sendiri.


Saat itu laki laki itu tersenyum dengan jahat kepada dirinya sendiri, sambil menggoyang goyangkan kursi goyang itu.


"Sebuah rahasia sudah terbongkar, namun kalian belum tahu ada rahasia lain yang tidak akan kalian ketahui bahkan sampai aku mati pun kalian tidak akan mungkin mengetahui nya!" ucap laki laki yang mirip dengan Juli. Ia kemudian dan bangun dari duduknya dan menghentikan lampu yang berada di atasnya dan bergerak ke sana kemari.


"Sekarang kita lihat, kebingungan apa lagi yang akan terjadi selanjutnya," ucap orang yang mirip Juli lalu ia tersenyum dengan jahat di bibirnya.


Di rumah sakit, terlihat Juli masih terbaring di atas tempat tidurnya dengan keadaan masih lemas tak berdaya.


Terlihat di dekat Juli, si polisi dan seorang dokter terlihat saling berhadapan. Mereka terlihat tengah membicarakan tentang keadaan Juli yang semakin hari semakin berangsur membaik. Mendengar ucapan itu, raut muka orang yang mirip dengan Juli sangat bahagia dan bersyukur atas keadaan Juli yang semakin membaik.


Di luar ruangan yang di tempati oleh Juli, terlihat kembaran Juli berdiri dengan melihat ke arah orang-orang itu dengan senyum bahagia yang sangat terlihat di raut muka laki laki itu.


"Rahasia dibalik rahasia! Hanya kematian yang akan menentukan apakah akan terbongkar lagi rahasia yang lainnya?" ucap orang yang mirip dengan Juli dengan penuh teka teki yang seakan harus di pecahkan oleh orang orang terdekatnya. Ia kemudian tersenyum dengan jahat sambil melihat ke arah Juli yang terbaring lemah.

__ADS_1


Di dalam kamar Ibu Juli terlihat Ibu Juli tengah menangis di kamarnya dengan sebuah foto di tangannya. Ia menangisi orang orang di dalam foto itu, ia menyalahkan dirinya atas kematian si supir dan Sista. Saat itu ia ingin menghubungi polisi untuk meminta bantuan kepada polisi mencarikan mayat si supir yang di buang oleh Verdi ke sungai, namun ia ingat kalau orang yang ia sayangi hanya Verdi dan ia terlihat tidak ingin kehilangan Verdi. Saat ia memeluk foto itu, terlihat di bawah foto yang sama Ibu Juli memanggil selembar foto yang tidak di lindungi oleh apapun.


Beberapa saat kemudian, Verdi datang ke kamar ibunya. Saat itu ia datang karena ia mendengar suara tangisan seorang wanita dari kamar ibunya dan ia terlihat sangat terkejut saat mengetahui kalau ibunya lah yang tengah menangis.


"Ada apa Ibu?" tanya Verdi dengan duduk di samping ibunya di atas tempat tidur.


Melihat kedatangan Verdi, tanpa di sadari oleh Verdi Ibu Juli terlihat menyembunyikan selembar foto yang ada di tangannya di bawah bantal tempat tidur.


"Verdi, Ibu merasa ini adalah sebuah kesalahan seharusnya kita masuk ke dalam jeruji besi untuk mempertanggung jawabkan semua perbuatan kita!" ucap Ibu Juli dengan sedih dan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.


"Tidak Verdi, Ibu tidak ingin kamu melakukan itu. Karena Ibu tidak ingin kehilangan kamu juga, cukup Tuan dan Sista yang menjadi korban."


"Dengar Ma, Mama tidak perlu menyalah kan diri Mama atas semu kematian ini. Lagian, kalau pun kita sudah membunuh Juli, kita tidak perlu menyesal. Aku mengatakan ini karena untuk apa kita menyesal kalau orang yang kita bunuh saja bisa bernafas, berjalan bahkan membunuh." Ucap Verdi dengan tegas lalu ia mendekati ibunya dan memegangi kedua tangan ibunya dengan duduk bertekuk lutut. "Aku mohon dengan Mama, tolong Ma. Jangan menyalahkan diri Mama dan menyalakan aku. Kita semua sudah setuju kalau kita akan melakukan ini bersama sama, namun hanya saja yang kita tidak ketahui kalau orang yang kita bunuh justru kini mengincar kita!. Ini lah yang tidak kita pahami!."


Setelah mengatakan hal itu Verdi pun bangun dari duduknya dan mengambil foto yang di pegang oleh Ibu Juki dengan perlahan.

__ADS_1


"Sekarang Mama istirahat, besok aku akan bangunkan Mama!" ucap Verdi dengan baik lalu ia membaringkan ibunya dengan baik.


Setelah ibunya terbaring dibatas tempat tidur, ia menyelimuti tubuh ibunya dengan perlahan. Tak berselang lama, Ibu Juli pun terlelap dalam tidurnya. Melihat hal itu, Verdi pun keluar dari pergi dari tempat tidur ibunya dan pergi ke sofa yang terletak tidak jauh dari kamar ibunya. Pada awalnya ia hanya duduk di sofa itu untuk menjaga ibunya, namun lama kelamaan ia juga merasa mengantuk. Ia terlihat menguap beberapa kali, merasa perasaan mengantuk nya sudah tidak bisa di kendalikan lagi akhirnya Verdi pun memilih untuk tidur di sofa itu. Hal itu ia lakukan karena ia ingin menjaga ibunya, yang hanya memiliki dirinya.


Keesokan harinya, ketika Ibu Juli belum terbangun dari tidurnya, Verdi terlihat sudah bangun dari tidurnya. Ia kemudian pergi ke kamar mandi dan membersihkan dirinya, setelah itu ia keluar dari kamar mandi dan memasak untuk ibunya.


Waktu pun menunjukkan pukul 07.00 pagi, terlihat Ibu Juli sudah bangun dari tidurnya. Ia mulai merapikan tempat tidurnya sebelum keluar dari kamarnya. Beberapa saat kemudian, dirinya mendengar ketukan pintu dari luar kamarnya. Mendengar hal itu, Ibu Juki pun langsung bergegas membuka pintu kamarnya. Saat pintu sudah terbuka, Ibu Juli terlihat sangat terkejut. Hal itu terjadi karena ia melihat Verdi datang ke kamarnya dengan beberapa jenis makanan di tangannya.


"Astaga Verdi, ini semua kamu masak untuk ibu?" tanya ibu Juli dengan baik dan tersenyum bahagia di bibirnya. Setalah itu ia membantu Verdi yang terlihat kesulitan membawa makanan yang ia masak sendiri ke dalam kamar ibunya. Ia kemudian menaruh makanan yang i bawa di atas meja yang tidak jauh dari sofa tempat ia tidur.


"Ini buat kita berdua, maaf ya Ma. Masakan ku tidak seenak masakan yang di masak Mama," ucap Verdi dengan baik dan terlihat sedih dengan hal itu.


"Tidak papa."


Setalah bercakap cakap haru, Ibu Juli pun duduk dan memakan makanan yang di masak oleh Verdi, saat ia ingin memasukkan makanan itu ke mulutnya, ia mengingat tentang si supir hingga membuat dirinya tidak melanjutkan makan dan terlihat sedih mengingat masa lalu. Ia kemudian mulai berkaca kaca, beberapa saat kemudian air mata mengalir dan jatuh membasahi pipinya.

__ADS_1


Menyadari hal itu, Verdi yang saat itu tengah makan, ia pun langsung menghentikan sementara tindakannya. Ia kemudian memeluk erat ibunya dengan penuh masih sayang.


__ADS_2