Reinkarnasi

Reinkarnasi
Part 88 Jihan meninggal


__ADS_3

Melihat ancaman itu, Juli pun hanya diam saja dan ia kemudian menurunkan pistolnya dan tidak lagi menodongkan pistolnya ke arah ibunya.


Ia kemudian berbalik melihat ke arah Jihan dan menatap mata Jihan dengan tajam.


"Kamu ingin bunuh diri? Lakukan di hadapan ku," ucap Juli hingga membuat Amar dan yang lain lainnya terlihat sangat terkejut.


Mendengar hal itu Jihan pun hanya terlihat diam dengan pisau yang ia arahkan ke pergelangan tangannya. Saat itu Juli mengatakan hal itu dengan mata yang di penuhi oleh air mata.


Setelah melihat air mata Juli, Jihan pun menjatuhkan pisau yang ada di  tangannya.


"Maafkan aku kak!" ucap Jihan dengan sedih dan tunduk di hadapan Juli. Melihat hal itu, Amar dan orang orang yang lainnya terlihat lebih tenang hal itu terjadi karena Jihan tidak jadi melakukan bunuh diri.


Melihat Jihan tertunduk bersedih di hadapannya, Juli pun membangunkan Jihan dari duduknya dan ia kemudian memeluk Jihan. Pada saat itu, suasana tiba tiba berubah menjadi haru.


"Kakak yang seharusnya minta maaf kepada kamu Jihan, " ucap Juli di pelukan Johan dengan lirih. Pada awalnya, Johan melihat ke arah ibunya dengan sedih. Dan di saat bersamaan, Handi terlihat datang ke kamar yang di tempati oleh Juli dengan sangat marah, namun saat itu ia tidak mengatakan apapun. Namun, saat itu, ia menatap Jihan dan Juli yang tengah berpelukan dengan tatapan mata marah.


Ketika semua orang tengah lengah Handi tiba tiba mengarahkan pistolnya kepada Juli dan Jihan.


Door.....


Suara tembakan pun terdengar namun saat sebelum Handi menembak, Jihan yang saat itu memeluk Juki. Ia menyadari kalau Handi mengarahkan pistol nya ke arah Juli. Menyadari hal itu ia pun langsung memanggil nama kakaknya dengan sangat lantang dan ia kemudian mendorong Juli hingga Juli terjatuh dan terjadi lah penembakan itu. Namun saat itu bukannya Juli yang tertembak, yang tertembak saat itu adalah Jihan. Jihan yang mendapati dirinya tertembak pun hanya diam dengan mata yang melihat ke arah Juli.

__ADS_1


Tak berselang lama, Jihan pun jatuh di hadapan kakaknya. Suasana yang saat itu haru berubah menjadi menegangkan dan kepanikan. Amar yang melihat hal itu ia langsung bergegas mencari dokter untuk menyelamatkan Jihan, sedangkan ibu Juli dan Verdi mendekati Jihan yang sudah terbaring tidak berdaya di lantai.


"Ma... Maafkan a... Aku kak," ucap Jihan dengan terbata bata dan lirih.


"Jihan kamu tenang saja, semuanya baik baik saja. Dan kakak sudah memaafkan kamu, sekarang kita harus pergi mencari dokter," jawab Juli dengan air mata yang terus berderai.


Melihat hal itu, Verdi pun tiba tiba bangun dari dekat Jihan dan ia kemudian menghampiri Handi yang menembak Jihan. Ia kemudian memukul Handi yang saat itu diam saja dengan tatapan mata yang terbuka lebar. Ia terlihat tidak percaya karena dirinya menembak seseorang yang seharusnya tidak di tembak oleh Handi. Saat itu, Handi di hajar oleh Verdi hingga babak belur, saat itu ia tidak sedikit pun melawan Verdi.


"Kamu tenang saja, Kak Amar!" panggil Juli karena ia sudah lama menunggu Amar datang bersama dokter.


"Aku... Pamit ya kak, tolong kakak jaga diri kakak!."


Setelah mendengar hal itu, Jihan pun mengerang kesakitan.


Beberapa saat kemudian, Amar sudah datang dengan bersama dokter dan beberapa suster, mereka pun langsung berusaha menyelamatkan Jihan namun karena saat itu Jihan sudah banyak kehilangan darah dan pelurunya pun juga sudah menembus jantung.


Para dokter dan suster pun berusaha menyelamatkan Jihan dengan membawa ke dalam ruang operasi, namun belum lama Jihan masuk ke rumah sakit, lampu operasi yang hidup di dekat pintu tiba tiba mati.


Saat itu, Amar, Juli dan Ibu Juli terlihat sangat panik sedangkan Verdi ia terlihat tidak ikut mengantar Jihan ke kantor polisi. Hal itu karena Verdi memegangi Handi dan pergi ke kantor polisi dan memenjarakan Handi.


Menyadari kalau lampu operasi sudah mati, Juli, Amar dan Ibu Juli pun mendekati pintu namun saat itu dokter dan suster keluar dari ruangan itu dengan wajah tertunduk dan sedih.

__ADS_1


"Gimana Dokter? Gimana keadaan Jihan, Jihan baik baik saja kan Dok?" tanya Juli dengan nada marah dan sedikit membentak dokter yang mengoperasi Jihan.


Namun, saat itu dokter yang mengoperasi Jihan pun hanya menundukkan kepalanya dan tidak mengatakan sepatah kata pun.


"Jawab Dokter!" bentak Juli lalu ia menarik kerah dari dokter itu.


"Maaf Pak Juli, Pak Jihan tidak bisa kami selamatkan!."


Mendengar ucapan itu, Juli dengan perlahan Juli pun melepaskan kerah dari dokter itu.


"Tidak mungkin, jangan main main dengan aku Dokter. Kalau Dokter berani main main dengan aku, maka aku tidak akan main main dengan dokter," ucap Juli dengan tegas dan marah dan kesal di hadapan dokter itu. Namun, untuk membuktikan apa yang di ucapkan oleh para dokter itu benar, dokter itu pun mempersilahkan Juli untuk masuk ke dalam kamar operasi untuk mencari tahu kebenaran tantang apa yang di ucapkan nya.


Ketika Juli berada di dalam ruangan operasi, seseorang tertidur di atas tempat tidur dengan di tutupi oleh sebuah kain putih. Pada saat itu ia masih tidak percaya kalau orang yang ada di atas tempat tidur itu adalah Jihan adiknya. Saat itu, ia terlihat sudah sedih. Matanya sudah di penuhi oleh air mata.


Saat ia sudah berada di dekat mayat itu, Juli pun dengan perlahan membuka penutup muka mayat itu. Dan betapa terkejutnya ia karena orang yang sudah terbaring di atas tempat tidur itu dengan keadaan tidak bernyawa memang Jihan, Juli yang melihat hal itu sangat hancur dan dirinya benar benar tidak bisa berkata kata atas apa yang terjadi.


Saat itu ia sangat hancur, dan ia tidak bisa membendung air matanya. Ia sempat masih tidak percaya kalau Jihan sudah meninggal.


Tidak hanya Juli, Amar dan Ibu Juli pun terlihat sedih dengan apa yang terjadi.


"Tidak mungkin, ini tidak mungkin. Jihan tidak mungkin meninggal, dia baik baik saja!" ucap Juli dengan air mata yang terus mengalir dan dirinya juga merasa tidak percaya kalau orang yang ia sayangi, adik yang ia sayangi sudah meninggal dirinya saat itu ia benar benar hancur dan ia tidak bisa mengendalikan dirinya.

__ADS_1


__ADS_2