Reinkarnasi

Reinkarnasi
Part 85 Permasalahan lagi


__ADS_3

"Kenapa Ibu tega melakukan ini kepada kakak? Apa karena Kakak masih hidup hingga membuat Ibu ingin membunuh Kak Juli lagi?" ucap Jihan dengan menatap tajam ibunya dengan penuh emosi karena ia percaya dengan ucapan si polisi yang menembak Juli.


Ibu Juli yang melihat tatapan tajam dari Jihan, langsung membantah jika dirinya sudah menyuruh polisi itu untuk menembak Juli. Ia berusaha menyakinkan Jihan atas hal itu, namun saat itu Jihan masih saya tidak percaya dengan ibunya dan tetap menganggap Ibu Juli berusaha untuk membunuh Juli.


Saat itu, Amar yang melihat kemarahan di wajah Jihan dengan perlahan ia berjalan dan mendekati Jihan. Ia kemudian berdiri di belakang Jihan. Melihat hal itu, Juli yang saat itu sedang di obati, ia langsung terkejut dan matanya terbuka lebar. Namun saat itu erangan rasa sakit terdengar keluar dari mulut Juli karena ia sedang di obati oleh para dokter.


"Tidak Jihan, Ibu tidak mungkin melakukan itu!" sahut Verdi dengan nada tinggi dan tegas lalu ia berjalan mendekati ibunya dan berdiri di dekat ibunya.


"Kalian berdua itu sama, sama sama pembunuh. Betul kata kakak, ibu memang tidak pernah menyayangi diri ku dan Kak Juli," jawab Jihan dengan raut muka marah melihat ke arah ibunya.


Melihat hal itu, Juli pun meminta dokter yang mengobati tangannya berhenti dan dirinya menjauhi dokter yang mengobati dirinya. Pada awalnya dokter itu melarang Juli, namun saat itu dokter itu tidak bisa menghentikan Juli, akhirnya dokter itu pun membiarkan Juli pergi dengan memegangi salah satu tangannya yang berlumur darah.


Ketika ia berada di dekat Amar, dengan tatapan sayup Juli pun menghentikan Jihan  terus menerus menuduh ibunya.


"Cukup Jihan," ucap Juli dengan tegas sambil melihat ke arah Ibu Juli.


Mendengar suara dari kakaknya Jihan pun langsung berbalik dan dirinya melihat ke arah Juli dengan secara lirih memanggilnya nama Juli, begitu pula Amar.

__ADS_1


Ketika mata semua orang tertuju kepada dirinya, Juli berjalan perlahan menghampiri Jihan. Dan saat Juli berada di hadapan Jihan, dengan perlahan Juli meraih salah satu tangan Jihan dengan penuh kasih sebagai seorang kakak.


"Dengar kan Kakak, Jihan. Wanita itu memang tidak bersalah, dia tidak melakukan apapun kepada ku!" jawab Juli di hadapan Jihan dan orang orang yang lainnya. Mendengar jawaban itu, Juli terlihat benar benar sangat terkejut, matanya terbuka lebar.


"Apa maksudnya Juli? Sudah jelas kalau polisi gadungan itu mengatakan kalau Ibu kamu yang menyuruh dia untuk menembak kamu, tapi kenapa? Kenapa kamu masih membela dia?" sahut Amar setelah dirinya mendengar ucapan dari Juli. Saat itu ia merasa tidak percaya dengan Juli.


"Aku tidak membela wanita itu Amar, aku memang mengatakan yang sebenarnya. Dia tidak melakukan apapun kepada ku dan dia juga tidak menyuruh polisi itu untuk menembak aku!" jawab Juli dengan tegas di hadapan Amar.


Mendengar jawaban dari Juli, Amar terlihat kesal dan ia masih tidak percaya kalau Juli masih membela Ibu Juli padahal bukti sudah jelas di katakan oleh polisi itu. Merasa tidak ingin berdebat panjang dengan Juli, akhirnya Amar pun memilih untuk mengalah dan memilih untuk memalingkan wajahnya dengan perasaan yang masih tidak percaya.


Beberapa saat kemudian, setelah Juli berbincang dengan Amar selama beberapa saat ia menghampiri ibunya dan berdiri di hadapan ibunya. Saat itu ibunya terlihat hanya menangis dan hanya meneteskan air mata mendengar tuduhan di ucapkan kepada dirinya.


"Dia tidak melakukan apapun kepada ku, tapi orang lain lah yang berusaha membunuh diri ku!" ucap Juli dengan menatap tajam ibunya.


Mendengar ucapan itu, orang orang di ruangan itu pun terlihat sangat terkejut dan mereka terlihat sangat kebingungan dengan yang di ucapan oleh Juli.


Setelah mengatakan hal itu, Juli pun berhenti selama beberapa saat dengan pandangan mata masih melihat ke arah wajah wanita yang membunuh dirinya. Ketika ia melihat wajah ibunya, sekilas ia mengingat kejadian ketika keluarga nya menyiksa dia dan membunuh dirinya, mengingat kejadian itu Juli pun lebih memilih untuk memalingkan wajahnya dari wajah ibunya dan langsung menyebut nama Dokter Ziya, dengan tatapan mata yang tajam.

__ADS_1


Ketika Juli menyebut nama Dokter Ziya, sebagai pelaku dari penembakan itu. Dokter Ziya yang sudah merasa sangat gugup dan cemas, hal itu terlihat dari raut mukanya dan gerakan tangannya yang terlihat sangat tidak tenang. Ia benar benar tidak bisa menguasai dirinya sendiri.  Kecemasan nya semakin menjadi ketika Juli berjalan perlahan menghampiri diri nya dengan tatapan yang serius.


Ketika Juli sudah berada di hadapan Dokter Ziya, mata Juli terlihat tidak berpindah sedikit pun dari wajah Dokter Ziya.


"Betulkan Dokter? Kalau dokter lah yang merancang penembakan ini," ucap Juli dengan nada serius kepada Dokter Ziya.


Mendengar perkataan dari Juli, Dokter Ziya terlihat benar benar tidak bisa menguasai dirinya sendiri dan dirinya terlihat cemas. Ia berusaha menolak dan bersikukuh kalau dirinya tidak melakukan apapun atau pun merencanakan apapun kepada Juli.


Ia mengatakan kalau dirinya tidak merencanakan apapun kepada Juli, ia hanya memberi tahu Juli kalau Amar meminta dirinya untuk mengaku kepada keluarga Verdi kalau Juli masih hidup.


Mendengar jawaban itu Juli pun menjawab Dokter Ziya dengan santai, ia mengatakan kalau memang hal itu adalah yang di inginkan nya. Mendengar jawaban dari Juli, Dokter Ziya terlihat tidak berkutik sedikit pun dan dirinya tidak bisa mengatakan apa pun kepada Juli.


Saat itu pertanyaan pertanyaan yang sama terus di ulang oleh Juli kepada Dokter Ziya, namun saat itu Dokter Ziya masih memberikan jawaban yang melenceng dari pertanyaan Juli dan dirinya seperti menyembunyikan sesuatu.


Jihan yang saat itu, melihat kepolosan Dokter Zoya dan kejujuran Dokter Ziya kalau bukan dirinya yang berusaha menembak Juli, akhirnya Jihan pun menghampiri Juli dan meminta Juli untuk tidak menekan Dokter Ziya dengan pertanyaan pertanyaan.


Mendengar perintah dari Jihan untuk tidak memberikan pertanyaan lagi kepada Dokter Zoya, Juli pun akhirnya pergi dan melangkah menjauhi Dokter Ziya dengan pandangan mata yang masih terus mengarah ke arah Dokter Ziya. Dokter Ziya yang melihat hal itu pun hanya diam dan hanya menunduk kan kepala nya.

__ADS_1


__ADS_2