
Keadaan tiba tiba berubah, dimana terlihat Jihan di ikat di dalam sebuah ruangan dengan suasana yang sunyi dan sepi, hanya terlihat lampu berada di atasnya Jihan. Saat itu Jihan terlihat tidak sadarkan diri kalau dirinya di ikat oleh seseorang dan didudukkan di kursi yang terbuat dari kayu.
Tak berselang lama, terdengar suara langkah kaki mendekati Jihan. Jihan yang saat itu suara langkah kaki itu dengan perlahan terbangun dari pingsannya. Tiba tiba terlihat sebuah kali dengan sepatu berwarna hitam menghentikan langkahnya dan seperti seorang yang tengah mengawasi gerak gerik dari Jihan. Waktu itu Jihan terlihat setengah sadar dari pingsannya, ia mengerakkan tangannya perlahan, namun saat ia sadar kalau tangannya di ikat oleh seseorang, Jihan pun langsung berusaha melepaskan tangannya yang di ikatan kan ke kursi. Setalah ia sadar kalau tangannya di ikat Jihan pun langsung teriak teriak untuk meminta tolong orang orang di sekitarnya namun saat itu tidak ada satu orang pun yang berada di tempat itu. Menyadari kalau Jihan sudah terbangun dari pingsannya, dengan langkah kaki perlahan kaki itu mendekati Jihan. Jihan yang menyadari kalau ada orang lain di tempat itu, ia langsung berusaha memanggil manggil orang itu untuk meminta bantuan dari orang itu untuk melepaskan tali yang ia ikatkan.
Saat ia teriak teriak meminta bantuan kepada orang itu, tiba tiba sebuah pistol di todongkan ke arah kepala Jihan. Jihan yang menyadari hal itu ia langsung terdiam seribu bahasa dengan tatapan mata yang terbuka lebar.
Saat itu ia tidak melihat siapa orang yang menodongkan pistol ke kepalanya. Yang ia lihat hanya lah sebuah tangan yang memegangi pistol.
"Siapa kamu dan apa yang kamu inginkan?" tanya Jihan dengan nada serius dan tegas dengan menatap tajam orang yang menodongkan pistol itu.
Mendengar pertanyaan dari Jihan, orang itu hanya diam tanpa mengatakan sepatah katapun kepada Jihan. Jihan yang melihat sikap orang itu, ia semakin marah dan semakin kesal dengan orang itu.
"Lepaskan aku!" ucap Jihan dengan tegas dan berusaha melepaskan tangannya. Beberapa saat kemudian orang misterius itu membuka penutup mukanya namun hanya Jihan yang melihat wajah asli dari orang misterius. "Kamu!! Lepaskan aku, kalau kamu tidak melepaskan aku, aku akan mengadukan kepada kakak ku!."
Mendengar hal itu, orang itu mendekatkan tubuhnya ke arah Jihan dan ia terlihat membisikkan sesuatu ke telinga Jihan hingga membuat Jihan sangat terkejut dengan apa yang di bisikan oleh orang itu. Semakin lama, bisikan itu justru membuat Jihan sedih, mata yang saat itu terbuka lebar dengan kemarahan tiba tiba di penuhi dengan air mata yang membasahi pipinya.
__ADS_1
"Tidak mungkin, Kakak tidak mungkin bisa seperti itu karena aku. Jangan mengada ada kamu," jawab Jihan setelah ia mendengar apa yang di katakan oleh orang itu.
Melihat Jihan tidak percaya dengan apa yang di bisikannya, orang itu mencekik leher Jihan dengan tangan lainnya yang tidak memegangi pistol. Saat itu, orang itu misterius itu mencekik leher Jihan dengan sangat erat. Jihan yang menerima cekikan itu, ia hanya diam dengan menahan rasa sakit atas cekikan itu.
Setalah beberapa saat mencekik leher Jihan, orang itu melepaskan cekikan nya dengan membuang muka Jihan, Jihan yang melihat orang itu melepaskan cekikan nya, ia tampak lega setalah tangan orang itu terlepaskan dari lehernya.
"Kenapa kamu tidak melanjutkan mencekik leher ku dan menghabisi aku?" tanya Jihan dengan nafas terengah-engah dan tatapan mata yang tajam menatap orang itu.
Mendengar ucapan itu, orang misterius itu pun kembali mengarahkan pistolnya ke arah kepala Jihan.
Suara tembakan terdengar bergema di dalam ruangan itu. Setelah itu, terlihat orang itu pergi dari tempat Jihan dan tidak mempedulikan Jihan dari ruangan itu.
Di rumah sakit, terlihat polisi itu tengah sangat khawatir. Ia ke sana kemari, dengan cemas. Beberapa saat kemudian, salah satu dokter keluar dari ruangan yang di tempati oleh Juli.
"Keluarga Juli?!" tanya dokter itu kepada si polisi. Polisi yang mendengar ucapan itu pun mengatakan kalau dirinya adalah keluarga dari Juli. "Pak, saya mohon kepada Bapak. Tolong, kami sangat membutuhkan pendonor darah, karena Juli sudah sangat banyak kehilangan darah. Jika tidak segera di carikan darah yang cocok dengan darah Juli, maka saya khawatir kalau apa yang tidak kita inginkan terjadi!."
__ADS_1
Mendengar ucapan itu, polisi terlihat sangat terkejut dan khawatir. Ia terlihat sangat kebingungan dengan apa yang terjadi, air matanya tiba tiba meneteskan air mata setelah mendengar ucapan itu.
"Apa golongan darah Juli dokter? Mungkin darah saya cocok dengan Juli dokter!" jawab si polisi itu dengan sedih dan khawatir yang menjadi satu.
"Baik, mari saya periksa darahnya pak," sahut suster yang keluar dari ruangan Juli setelah mengetahui kalau si polisi itu ingin mendonorkan darahnya jika cocok.
Polisi itu pun mempersiapkan dirinya untuk pengambilan darah yang akan di lakukan oleh suster itu. Waktu berlalu begitu cepat, tak menunggu lama suster itu selesai mengambil darah dari si polisi itu dan memeriksa darah si polisi. Setelah selesai melakukan pemeriksaan golongan darah, polisi itu menghubungi nomor dengan nama *Misteri 2* ia memberi tahu tentang keadaan Juli yang membutuhkan donor darah. Mendengar penjelasan dari si polisi itu, orang misterius v
itu hanya mengangguk kan kepalanya ia kemudian menutup pintu panggilan itu dan terlihat diam saja selama beberapa saat.
Ia kemudian kembali ke ruangan yang di tempati oleh Jihan, saat ia berada di dalam ruangan itu. Orang itu berdiri di hadapan Jihan, saat itu Jihan terlihat hanya diam dengan tatapan tajam menatap mata orang itu. Saat itu ia terdengar mengerang beberapa saat di dalam ruangan itu. Hal itu terjadi karena orang itu menembak salah satu tangan Jihan hingga mengeluarkan darah.
Melihat hal itu, Jihan terlihat sangat marah dan kesal dengan hal itu.
"Kenapa kamu hanya menembak tangan ku? Kenapa kamu tidak menghabisi aku juga?" ucap Jihan dengan nada serius dan tegas kepada orang misterius itu. Mendengar perkataan dari Jihan, orang misterius itu hanya diam saja lali dengan perlahan ia mendekatkan tubuhnya ke tubuh Jihan dan ia kembali membisikkan sesuatu kepada Jihan. Jihan yang mendengar bisikan itu ia hanya diam dengan raut muka terkejut, khawatir dan sangat gelisah. Saat itu orang misterius itu membisikkan tentang keadaan Juli yang membutuhkan donor darah untuk secepatnya.
__ADS_1
Setelah mendengar ucapan dari orang misterius itu, air mata Jihan menetes. Ia meminta orang itu untuk melepaskan ikatan tangannya dan membiarkan Jihan pergi ke rumah sakit. Saat itu, Jihan tampak sangat amat sedih setelah mendengar ucapan dari orang itu, ia hanya menangis dan sedih dengan semua yang terjadi kepada kakaknya.