
Saat itu Verdi dan para polisi yang mengejar anak buah Juli, tengah berada di sekitar sungai untuk mencari keberadaan anak buah Juli yang tidak ragu untuk terjun ke sungai demi bisa meloloskan dirinya sendiri.
Waktu itu hari sudah mulai malam, namun anak buah Juli masih saja belum di temukan keberadaannya menyadari hal itu Verdi dan para polisi itu pun memilih untuk melanjutkan pencarian esok hari. Pada awalnya, Verdi sedikit tidak setuju dengan keputusan polisi itu yang memilih untuk mengakhiri pencarian.
Namun, akhirnya ia pun menuruti apa yang di inginkan oleh polisi itu karena ia merasa ia bukan siapa siapa. Akhirnya para polisi dan Verdi pun kembali ke mobilnya lalu ia pergi ke kantor polisi lagi.
Di kantor polisi, Ibu Juli sudah mulai tenang. Saat itu ia juga sudah mulai mau makan di tangan polisi wanita yang menjadi incaran Verdi, namun saat itu ia masih khawatir dengan keadaan Jihan yang di bawa pergi oleh orang itu.
"Jihan baik baik saja kan? Tidak akan terjadi apa pun dengan Jihan kan, Mbak?" tanya Ibu Juli kepada polisi wanita yang saat itu tengah duduk di rumah samping Ibu Juli.
"Iya Bu, Jihan anak ibu pasti baik baik saja. Ibu jangan berpikir yang aneh aneh," jawab polisi wanita itu dengan nada rendah dan santai.
Mendengar hal itu Ibu Juli pun menganggukkan kepalanya sebagai tanda bahwa dirinya mengerti apa yang di ucapkan oleh polisi wanita itu.
Beberapa saat kemudian, Verdi dan para polisi pun datang. Melihat hal itu dengan penuh harapan, Ibu Juli menghampiri Verdi dan bertanya kepada Verdi tentang keberadaan dari Jihan. Namun, saat itu Verdi hanya menundukkan kepalanya dan dirinya tidak mengatakan sepatah katapun kepada ibunya.
"Verdi, jawab Ibu!. Dimana Jihan?" tanya Ibu Juli kepada Verdi dengan nada tegas, ia kemudian memegangi kedua lengan Verdi dan ia menggerakkan tubuh Verdi dengan kasar. Namun, tetap saja Verdi masih tidak mengatakan apapun kepada ibunya.
__ADS_1
Menyadari hal itu, akhirnya polisi yang mengintrogasi Verdi pun mengatakan kepada Ibu Juli tentang hal yang sebenarnya kalau polisi yang menculik Jihan terjun ke sungai dan keselamatannya masih di pertanyakan. Mendengar hal itu Ibu Juli terlihat sangat terkejut dan ia langsung jatuh lemas dengan derai air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.
Saat itu ia merasa tidak percaya dengan apa yang terjadi, melihat hal itu seketika suasana yang tenang tanpa ada keributan tiba tiba berubah menjadi suasana kepanikan yang tidak terkontrol karena setelah Ibu Juli menangis tiba tiba ia pingsan tidak sadarkan diri di hadapan orang orang itu. Melihat hal itu, Verdi dan para polisi itu pun langsung membawa Ibu Juli ke tempat yang lebih layak. Ketika mereka sudah berada di ruangan obat yang di milik oleh kantor polisi, ia pun menaruh Ibu Juli di atas tempat tidur yang ada di dalam ruangan itu.
Setelah itu, polisi wanita itu pun langsung memeriksa keadaan Ibu Juli yang tiba tiba pingsan, setelah beberapa saat di periksa, polisi wanita itu memberi tahu kalau keadaan Ibu Juli baik baik saja. Melihat hal itu, raut muka Verdi terlihat mulai tenang dan ia tidak khawatir.
Di luar ruangan itu, polisi yang mengintrogasi Verdi tengah berdiri dengan memikirkan polisi yang kabur tersebut.
"Kira kira dia masih hidup apa tidak ya?" ucap polisi yang mengintrogasi Verdi.
Beberapa saat kemudian, Verdi keluar dari ruangan itu dan duduk di kursi yang berada di depan kamar itu. Melihat hal itu, polisi yang mengintrogasi Verdi pun menghampiri Verdi dan duduk di samping Verdi.
Polisi yang mendengar hal itu pun, langsung menatap Verdi dan melihat ke arah Verdi.
"Hal itu juga yang aku pikirkan, dia masih hidup atau sudah mati?" jawab Polisi itu lalu ia hanya diam dengan memikirkan hal itu.
Mendengar jawaban itu, Verdi pun melihat ke arah si polisi dengan tatapan mata tajam dan terlihat garis merah di kelopak matanya.
__ADS_1
"Pak, kalau orang itu tidak kita temukan lalu bagaimana kita bisa menemukan Juli?" jawab Verdi.
Mendengar Verdi menyebut nama Juli, polisi itu terlihat sangat terkejut.
"Juli? Juli siapa maksud nya?" tanya si polisi yang mengintrogasi Verdi setelah dirinya mendengar Verdi menyebut nama Juli.
Setelah mendengar hal itu, Verdi pun hanya diam saja hal itu ia lakukan karena ia tidak ingin kalau rahasianya yang sudah membunuh Juli terbongkar di hadapan si polisi itu. Melihat Verdi hanya diam tanpa mengatakan sepatah kata, polisi itu melihat ke arah Verdi dengan tatapan mata yang tajam dan ia kemudian memegangi Verdi dengan sangat erat.
"Katakan kepada saya yang sebenernya!" ucap polisi itu dengan tegas dan menatap tajam Verdi.
Melihat hal itu Verdi masih saja diam membisu seribu bahasa. Ia kemudian menelan ludahnya sendiri di hadapan polisi itu dan ia menjawab polisi itu.
"Saya sangat sayang dengan Juli! Dia adalah adik yang paling saya sayang. Wajah Jihan dan Juli sangat mirip, saya tidak bisa membedakan antara Jihan ataupun Juli. Maka dari itu, setiap kali saya melihat Jihan saya selalu melihat Juli, saya nyaman dengan nama itu!" jawab Verdi pun mengelabuhi polisi itu. Saat itu Verdi mengatakan hal itu dengan mata yang di penuhi oleh air mata.
Melihat hal itu, polisi itu pun percaya dengan apa yang dibicarakan oleh Verdi, namun ia masih belum seutuhnya percaya dengan dirinya masih ada kasus kematian ayah tirinya yang membuat Verdi menjadi tersangka.
"Baik lah kalau memang itu benar, tapi.... Kalau seandainya apa yang Anda katakan saat ini adalah sebuah kebohongan. Maka, aku tidak akan segan segan menyiksa kamu seperti saat kamu berbohong tentang kematian ayah tiri kamu. Paham!" ucap Polisi yang mengintrogasi Verdi itu dengan nada serius lalu ia melepaskan tangannya yang memegangi lengan Verdi dengan erat dan ia kemudian pergi meninggalkan Verdi sendiri.
__ADS_1
"Untunglah polisi itu percaya dengan aku!" ucap Verdi di dalam hatinya dengan sesekali melihat ke arah polisi itu yang pergi meninggalkan dirinya yang berada di depan ruangan yang di tempati oleh ibunya sendiri.