
Juli yang menerima dorongan itu terlihat semakin murka, dengan tatapan tajam ia menatap wajah ibunya yang terlihat sangat ketakutan.
Menyadari kalau Juli menatap dirinya dengan penuh kemarahan, Ibu Juli pun melangkah kan kakinya ke belakang untuk menjauhi Juli dengan raut muka yang sangat ketakutan.
Mengetahui hal itu, dengan perlahan Juli menghampiri dirinya. Ia kemudian mengeluarkan pisau yang ia sembunyikan di balik bajunya. Dengan mata yang di penuhi air mata, Juli melangkah secara perlahan dan mendekati ibunya yang terlihat sangat ketakutan.
"Ibu mohon Jihan, tolong jangan lakukan ini kepada ibu, ibu tahu ibu salah. Ibu sudah tidak adil dengan kamu ataupun dengan Juli, tapi Ibu mohon tolong jangan sakiti Ibu!" ucap Ibu Juli dengan sedih dan berurai air mata.
"Untuk apa Ibu meneteskan air mata untuk ku? Untuk apa?!!!" bentak Juli kepada ibunya hingga membuat ibunya terkejut. Saat setelah Juli membentak ibunya, tiba tiba darah di perutnya kembali keluar dan ia merasakan rasa sakit di perutnya. Namun, saat itu ia tidak mempedulikan rasa sakitnya dan darah yang terus keluar dari perut Juli.
Melihat ada noda darah dari perut Juli, Ibu Juli pun berusaha mendekati Juli dan berusaha mengobati Juli. Namun, karena Juli tidak ingin di sentuh okeh ibunya. Ia pun akhirnya memilih untuk menolak dan membiarkan lukanya semakin parah.
Ketika kemarahan Juli semakin memuncak dan Juli sadar kalau darah keluar banyak dari perutnya. Beberapa dokter masuk ke dalam rumah Ibu Juli tanpa permisi kepada Ibu Juli ia kemudian membantu Juli yang sudah sempoyongan dengan memegangi luka di perutnya. Ibu Juli yang melihat hal itu terlihat sangat heran dan kebingungan, karena ia melihat dokter tiba tiba datang ke rumahnya tanpa permisi kepada dirinya dan langsung membantu Juli.
Saat itu Ibu Juli terlihat sangat kebingungan dengan yang dilihatnya. Ia hanya diam saat melihat Juli di angkat dan di bawa ke rumah sakit. Ia yang mengira kalau Juli adalah Jihan, ia pun memutuskan untuk mengikuti mobil ambulance itu ke rumah sakit.
__ADS_1
Di dalam ambulance, saat itu beberapa dokter berusaha untuk menghentikan pendarahan di perutnya dengan menekan perut Juli dengan kain. Lalu, salah satu suster terlihat tengah sibuk memasangkan infus kepada Juli dan oksigen kepada Juli. Saat itu Juli benar benar kritis dan ia kembali harus menjalani masa komanya.
Beberapa saat sebelum dirinya berada di rumah Ibu Juli...
Di rumah sakit, terlihat Juli masih terbaring dengan alat bantu pernafasan dan yang lain lainnya. Tak berselang lama, anak buahnya yang seorang polisi datang menghampiri Juli setelah ia menemui orang misterius itu di belakang rumah sakit. Ia kemudian berdiri di samping Juli dan dengan perlahan ia mendekatkan wajahnya ke arah telinga Juli.
"Tuan, Den Jihan sudah terperangkap dalam jebakan Ibu Anda!" bisik si polisi itu dengan raut muka serius. Menyadari kalau Juli yang koma, dapat mendengar ucapan nya ia pun membisikkan hal itu untuk membuat Juli segera sadar. Namun sia sia, hal itu terjadi karena Juli tidak merespon apapun kepada si polisi itu. Mengetahui hal itu, Juli pun akhirnya menjauhi Juli dengan sedih. Saat ia berada di luar ruangan, tiba tiba Juli kejang kejang dan tidak terkontrol. Saat dirinya tengah kejang kejang, mata Juli tiba tiba meneteskan air mata. Suasana saat itu terlihat sangat panik, dokter dan suster ke sana kemari untuk memeriksa keadaan Juli dan membuat Juli tenang, namun tiba tiba mata Juli terbuka lebar. Melihat hal itu, suster dan dokter di tempat itu terlihat sangat terkejut. Setelah terbangun Juli hanya diam saja, namun justru setelah hal itu terjadi keadaan Juli semakin membaik.
Ketika Juli sudah tenang salah satu suster di ruangan itu, memasangkan alat bantu pernafasan kepada Juli dan saat itu Juli tidak menolak dengan hal itu.
"Ada apa Dokter?" tanya polisi itu dengan kebingungan dan terlihat khawatir dengan keadaan Juli.
"Baru kali ini, saya melihat pasien yang setelah kejang kejang justru ia membaik. Ini sebuah keajaiban Tuan, karena tidak ada penjelasan tentang hal hal seperti ini!" jawab dokter itu dengan baik. Mendengar ucapan dari dokter itu, polisi itu hanya diam seribu bahasa dan hanya mendengar cerita dari dokter. Setelah menjelaskan panjang lebar akhirnya dokter itu pergi dari hadapan polisi. Menyadari kalau Juli sudah sadar, polisi itu langsung menghampiri Juli. Saat itu Juli masih terbaring dengan tatapan mata memandang ke arah langit langit rumah sakit dengan air mata terus mengalir membasahi pipinya.
Melihat kalau Juli benar benar sudah sadar, polisi itu menghampiri Juli dengan perlahan dan ia kemudian berdiri di samping Juli dengan mata berkaca-kaca. Melihat polisi itu sedih, Juli yang saat itu sedih ia pun akhirnya bertambah sedih dengan apa yang dilihatnya.
__ADS_1
"Untuk apa menangis sekarang?" tanya Juli dengan lirih.
Mendengar ucapan itu polisi itu pun mencium kening Juli dan tangan Juli. Polisi itu terlihat sangat sayang dengan Juli.
"Maafkan aku, maafkan aku tidak bisa menjaga Jihan seperti yang kamu lakukan!" ucap polisi itu dengan sedih di hadapan Juli dan ia kemudian menundukkan kepalanya.
Juli yang mendengar hal itu, ia hanya diam lalu ia berusaha duduk walaupun dirinya masih dalam keadaan lemah. Ia kemudian meninggikan kepala polisi itu dengan perlahan mengangkat kepalanya.
"Jangan pernah menyalahkan diri kamu sendiri atas hal ini, karena aku tahu hal ini akan terjadi dengan aku dan Jihan. Aku sudah memprediksi kalau Jihan akan melakukan hal ini, aku bisa membuat dia kembali jangan khawatir dengan hal ini!" jawab Juli dengan lirih lalu ia menghapus air mata yang menetes dari mata polisi itu.
Setelah menghapus air mata dari polisi itu, Juli pun bertanya tentang orang misterius itu.
"Dimana dia?" tanya Juli kepada polisi itu dengan nada serius.
"Dia sedang mengawasi rumah Ibu Den Juli," jawab polisi itu dengan perlahan mulai tenang.
__ADS_1
Mendengar ucapan itu Juli pun melepaskan alat bantu pernafasan yang ia pakai dan ia juga melepaskan infus yang ia kenakan. Melihat hal itu, polisi itu terlihat sangat terkejut dan ia berusaha menghentikan Juli untuk melakukannya. Namun, karena Juli keras kepala ia pun tidak mempedulikan larangan dari si polisi dan tetap melepaskan alat alat rumah sakit dengan kasar dan bangun dari rumah tanpa mempedulikan keadaannya yang masih lemah dan masih pucat. Ia kemudian berdiri tegak di hadapan si polisi dan memegangi ke dua lengan polisi yang ada di hadapannya dengan serius, ia kemudian tersenyum kecil di bibirnya.