
Keesokan harinya, pagi pun tiba. Saat itu, Juli masih saja mengurung dirinya di dalam kamar. Beberapa saat kemudian, Verdi dan ibunya datang menghampiri Ibu Amar dan Amar.
Ketika ia sedang berhadapan dengan Ibu Amar, Ibu Juli terlihat melihat ke sana kemari untuk melihat Juli.
"Dimana Juli?" tanya Ibu Juli dengan nada baik dan rendah di hadapan Ibu Amar.
"Sejak kemari dia mengurung diri di dalam kamar, coba kamu minta dia untuk keluar mungkin dia menuruti kamu!" pinta Ibu Amar kepada Ibu Juli dengan baik. Namun, saat Ibu Juli akan mengetuk pintu kamar Juli. Juli keluar dari kamarnya, dengan pakaian serba hitam.
"Ada apa ?" tanya Juli kepada Ibu Juli dengan nada baik dan tidak kesal lagi.
"Tadi, ibu kamu mengatakan kalau kamu mengurung diri kamu sejak kemarin, makanya ibu kira ibu akan mengajak kamu keluar dari kamar kamu," jawab Ibu Juli dengan baik.
Mendengar jawaban dari Ibu Juli, Juli pun tersenyum kepada Ibu Juli dan ia kemudian pergi menghampiri orang orang dan mengambil foto yang berada di atas meja yang berada di dekat kamarnya.
Melihat hal itu, Ibu amar terlihat sedih.
Beberapa saat kemudian, pemakaman Jihan pun di lakukan. Ketika, Jihan di masukkan kedalam tanah derai air mata Ibu Juli dan Ibu Amar terus mengalir membasahi matanya.
Ketika pemakaman berlangsung seseorang misterius dengan pakaian berwarna hitam berdiri di balik sebuah pohon dan tengah mengawasi pemakaman Jihan.
__ADS_1
Waktu berlalu begitu cepat, akhirnya pemakaman Jihan pun sudah selesai.
Setalah melakukan pemakaman, Juli pun masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan dirinya, saat ia sudah bersih Juli langsung masuk ke dalam kamarnya.
Saat ia berada di dalam kamarnya, ia duduk di pojok ruangan dengan mematikan lampu dan ia mulai menangis. Ia menangis adiknya yang sudah pergi dan ia juga depresi atas apa yang terjadi dengan hidup nya setelah dendam.
Malam hari pun tiba, saat itu Ibu Amar ingin menawari Juli makan malam namun saat itu Juli tidak memberi respon sedikitpun kepada ibunya.
Menyadari hal itu, Ibu Amar pun masuk ke dalam kamar Juli karena saat itu kamar Juli tidak terkunci. Setelah ia masuk ke dalam kamar Juli, ia sangat terkejut karena melihat kalau kamar Juli sangat gelap.
Ia kemudian mencari tombol lampu. Ketika ia sudah mendapatkan tombol lampu, ia terlihat sangat terkejut melihat keadaan Juli yang hanya duduk di pojok ruangan dengan terus menangis.
"Ibu, aku bersalah kepada Jihan. Seharusnya aku tidak memisahkan Jihan dengan keluarga Verdi," jawab Juli dengan sedih di pelukan ibunya.
"Tidak Juli, ini bukan kesalahan kamu. Ibu mohon tolong jangan salah kan kamu sendiri, ibu mohon!."
Setalah mengatakan hal itu, Ibu Juli pun mengajak Juli pergi ke atas tempat tidurnya. Ketika ia sudah berada di atas tempat tidur. Ibu Amar mendudukkan Juli di atas tempat tidur dan ia kemudian duduk di samping Juli.
Ketika Juli sudah berada di atas tempat tidur, Ibu Amar meminta Juli untuk makan, namun saat itu Juli menolak dan memilih untuk tidur. Saat Ibu Juli terus membujuk Juli, namun Juli tetap menolaknya.
__ADS_1
Melihat hal itu, akhirnya Ibu Amar pun hanya diam dan membawa makanan itu pergi, saat itu Amar melihat keadaan Juli yang terlihat seperti orang depresi. Melihat hal itu, Amar pun menghampiri Juli saat Juli ingin tidur.
"Ada apa Juli? Kenapa kamu menolak makan?" tanya Amar dengan baik kepada Juli.
"Aku masih kenyang kak!."
Mendengar jawaban itu, Amar pun menghampiri Juli dan ia kemudian duduk di dekat Juli dengan memeriksa keadaan Juli, saat itu Amar merasa kalau Juli panas dan ia sedang demam. Menyadari hal itu, Amar pun meminta Juli istirahat dan ia ingin mengambilkan air hangat dan kain untuk Juli.
Ketika Amar baru berdiri, Juli memegangi tangan Amar.
" Kak, aku sudah tidak punya Jihan. Tolong kakak jangan pergi Juga," ucap Juli dengan sedih.
Mendengar ucapan itu, Amar pun kembali duduk di samping Juli. Namun beberapa saat kemudian Amar naik ke atas tempat tidur dan menyandarkan tubuhnya ke sandaran tempat tidur, setalah itu Juli pun menghampiri kakaknya dan ia menyandarkan kepalanya di dekat kakaknya.
Melihat hal itu, Ibu Amar terlihat sedih. Ia kemudian meninggalkan mereka dan pergi ke sebuah foto yang ada di rumahnya.
Saat itu ia berdiri di dekat foto Ayah Juli.
"Kenapa kamu menjadi ayah yang tidak baik? Kenapa kamu menyembunyikan rahasia rahasia seperti ini? Mungkin kalau kamu tidak menyembunyikan rahasia ini Jihan akan baik baik saja dan tidak akan pergi menyusul kamu!" ucap Ibu Amar dengan sedih.
__ADS_1
"Sekarang kamu lihat, lihat Juli. Lihat keadaan Juli, kenapa kamu menjadi ayah yang sangat tega dengan anaknya?" ucap Ibu Amar melanjutkan ucapannya selama beberapa saat yang lalu. Ia kemudian menangis di dekat foto itu.