Reinkarnasi

Reinkarnasi
Part 36 Penyelamatan dan kesempatan


__ADS_3

Hari berlalu begitu cepat, terlihat waktu sudah pagi. Saat itu Juli masih terlihat terbaring di atas tempat tidurnya dan terlihat tertidur lelap. Tak berselang lama, Jihan datang dengan sebuah nampan yang berisi makan pagi untuk Juli dan obat yang harus di minum oleh Jihan. Saat Jihan sudah berada di dalam kamar Juli, matanya tertuju ke arah luka tusukan yang ada di perut Juli. Ia melihat luka itu masih saja belum sembuh dan mengeluarkan banyak darah terlihat dari perban yang membungkus luka itu.


Melihat hal itu, Jihan terlihat sedih dengan keadaan Juli. Tiba tiba matanya meneteskan air mata, menyadari kalau Jihan sudah datang ke kamarnya dan terlihat sedih. Juli pun bangun dari tidurnya dengan sesekali mengerang kesakitan.


"Ada apa Jihan?" tanya Juli dengan baik dan sopan kepada Jihan. Jihan yang menyadari kalau Juli sudah bangun dari tidurnya, ia langsung menghampiri Juli dan ia memberikan sarapan kepada Juli. Juli yang melihat perhatian sangat bahagia dengan hal itu.


"Terimakasih Jihan, walaupun kakak tidak pernah peduli dengan kamu selama puluhan tahun. Tapi kamu peduli dengan kakak," ucap Juli dengan tersenyum kecil di bibirnya.


"Tidak perlu berterima kasih Kak, selama ini aku tidak pernah merasakan kasih sayang seorang keluarga. Kalau pun ayah sering menghampiri aku, tapi ayah kan tidak pernah menemui aku. Dia hanya memberi aku uang, dan aku bahagia karena aku bisa menemui Kakak," ucap Jihan dengan baik lalu ia tersenyum kepada Juli.


Saat Juli akan makan, tiba tiba salah satu polisi anak buah Juli menghampiri Juli. Ia berkata di dekat telinga Juli, Juli yang mendengar ucapan itu langsung terkejut dan ia terlihat tidak melanjutkan makannya.


"Kak, apa kakak tidak makan dulu?" tanya Jihan yang melihat kakaknya langsung turun dari tempat tidur saat setelah mendengar ucapan dari anak buahnya.


Di tempat lain, terlihat Verdi akan pergi ke rumah sakit untuk berkerja. Saat itu terlihat Verdi sudah rapi dengan pakaian dokternya dan alat alat kedokteran nya. Saat ia ingin keluar dari rumah tiba tiba seseorang mengetuk pintu rumahnya. Mendengar ucapan itu, Ibu Juli pun langsung membukanya, saat ia sudah membuka pintu ia terlihat sangat terkejut hal itu terjadi karena Ibu Juli melihat beberapa polisi berasa di luar rumah dan mencari keberadaan Verdi. Verdi yang melihat hal itu langsung ketakutan dan ia kebingungan untuk bersembunyi. Ketika para polisi itu bertanya tentang Verdi kepada ibunya, Ibu Juli terlihat menutupi nutupi keberadaan Verdi.

__ADS_1


Merasa tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Ibu Juli, akhirnya polisi itu mengeledah dalam rumah dan setiap kamar yang ada di ruangan itu. Perasaan takut dan khawatir terlihat dari raut muka Ibu Juli.


"Pak saya sudah memeriksa semua kamar namun tidak ada tanda tanda kehadiran Pak Verdi," ucap salah satu anak buah dari polisi itu.


"Saya sudah katakan Pak, kalau Verdi tidak ada di rumah. Saya tidak tahu entah di mana dia berada, memangnya ada apa Bapak mencari Verdi?" tanya Ibu Juli dengan santai saat menyadari kalau Verdi tidak ada di dalam rumah.


Mendengar pertanyaan itu, polisi itu pun menjelaskan kepada Ibu Juli mengenai penemuan sapu tangan yang berlumur darah. Di sapu tangan itu terlihat, sebuah noda darah dan terlihat sebuah sidik jari Verdi.


Setelah menjelaskan panjang lebar kepada Ibu Juli, polisi itu pun pergi dari rumah Ibu Juli. Saat polisi itu sudah pergi, Ibu Juli memanggil manggil nama Verdi dengan mencari ke sana kemari namun tidak ada tanda tanda kehadiran Verdi di ruangan itu. Tapi tiba tiba, Verdi keluar dari salah satu kamar di rumah itu dengan pisau yang berada di lehernya dan terlihat Juli sudah berada di belakang Verdi dengan memegangi pisau itu dan menutup mukanya dengan pakaian berwarna hitam. Saat itu Verdi terlihat tidak bisa berkutik saat menerima ancaman dari Juli. Melihat Verdi tengah dalam bahaya, Ibu Juli terlihat sangat terkejut melihat hal itu.


"Jihan!" panggil Ibu Juli karena ia mengira kalau Juli adalah Jihan.


Mendengar ibunya memanggil dirinya dengan nama Jihan. Juli pun langsung menatap tajam mata ibunya dan melepaskan tangannya yang memegangi pisau. Ia kemudian mendorong Verdi dengan sesekali menunjukkan ekspresi kesakitan.


Menyadari dengan jelas kalau orang yang di belakang Verdi adalah Juli kembaran dari Jihan, Ibu Juli pun langsung mendekati orang itu dan mengucapkan terimakasih kepada orang itu.

__ADS_1


"Jihan, Ibu berterima kasih dengan kamu karena kamu sudah menyelamatkan Verdi!" ucap Ibu Juli dengan mata yang sedih dan berurai air mata.


"Terimakasih?! Maaf Nyonya, saya tidak berniat untuk membantu anak Anda. Saya hanya tidak ingin kalau anak Anda masuk ke kantor polisi dengan mudah, saya ingin Anda dan anak Anda hanya tersiksa karena saya!" jawab Juli dengan nada yang tegas dan serius.


Mengetahui kalau ibunya dalam bahaya, Verdi pun langsung menghampiri Juli dan menendang perut Juli yang terbungkus oleh perban. Juli yang menerima tendangan itu, ia langsung terjatuh ke tanah dan ia memegangi perutnya yang terluka.


"Jangan pernah kamu mendekati Ibu ku, pembunuh!" ucap Verdi dengan nada tegas setelah menendang perut Juli.


Saat itu Juli menatap tajam mata Verdi dengan tangan yang memegangi perutnya. Ia kemudian bangun dari tidurnya dengan terlihat sempoyongan. Melihat perut Juli mengeluarkan darah, Ibu Juli terlihat sangat khawatir dan berusaha membantu Juli yang dia anggap Jihan. Namun, saat itu Juli menghentikan langkah ibunya dengan membentak ibunya.


"Berhenti! Jangan pernah dekati aku, kalau kamu mendekati aku, aku tidak akan segan segan menghabiskan kamu!" ancam Juli kepada ibunya dengan tangan telunjuk yang terlihat berlumur darah menunjuk nunjuk Ibu Juli.


"Ibu hanya ingin membantu kamu Jihan, " jawab Ibu Juli dengan baik dan sedih. Saat itu mata Ibu Juli terlihat meneteskan air mata dengan sangat deras. Ia merasa sedih melihat keadaan Juli yang terluka. Menyadari kalau Juli terluka, Verdi pun menjadikan hal itu menjadi sebuah kesempatan yang bagus untuk dirinya. Saat Juli tengah fokus dengan ibunya, secara tiba tiba Verdi menyerang Juli dengan memukul kepala Juli dengan vas bunga yang tidak jauh dari dirinya. Juli yang menerima pukulan itu, ia pun langsung terjatuh ke lantai dan kepalanya membentur ke lantai. Tak berselang lama, saat Juli sudah terbentur kepalanya ke lantai, cairan merah berwarna seperti darah keluar dari mulut Juli dan di saat bersamaan darah di perutnya semakin keluar banyak.


Melihat hal itu, wajah terkejut terlihat di raut muka Ibu Juli. Sedangkan, Verdi terlihat kesal dengan tatapan mata penuh kemarahan. Di waktu itu, Juli yang menerima pukulan dari Verdi ia langsung tak berdaya dan tak sadarkan diri.

__ADS_1


__ADS_2