
Tak berselang lama, Juli dan polisi itu datang ke rumah Ibu Juli, ketika Juli melihat ke arah rumah ibunya. Ia justru tidak melihat siapapun, yang ia lihat hanya sebuah rumah besar yang tampak kosong tidak berpenghuni.
"Rumahnya kosong Juli!" ucap polisi itu yang berada di dalam mobil dengan tatapan mata melihat ke arah rumah Juli. Mendengar hal itu, Juli pun hanya diam dengan tatapan mata yang sedih dan bingung atas hilangnya Jihan dari rumah.
"Kemana kamu Jihan?" tanya Juli kepada dirinya sendiri dengan raut muka sedih dan berurai air mata.
"Juli aku mohon jangan sedih, aku yakin Jihan ada di tempat lain bukan di rumah ibu kamu. Dan aku yakin, Jihan akan baik baik saja," jawab Polisi itu dengan nada khawatir. Namun, saat itu ia berusaha untuk menutupi kesedihannya dari Juli.
Setalah beberapa saat diam dengan deraian air mata membasahi pipi, akhirnya anak buah Juli pun melaJukan mobilnya dan pergi dari tempat itu. Ketika di pertengahan Jalan, Juli dan polisi itu di hentikan oleh seseorang yang berpenampilan misterius.
Melihat hal itu, Juli yang saat itu sedih secara tiba tiba ia berubah serius dan menatap tajam orang misterius itu dengan tanpa mengedipkan matanya.
Melihat orang misterius itu tidak berpindah tempat dari tengah jalan, polisi itu terlihat sangat kesal dan marah, namun berbeda dengan si polisi. Melihat orang misterius itu tidak berpindah tempat sedikitpun, dengan perlahan dan terus memandang ke arah orang misterius itu, Juli turun dari mobil dan berusaha menghampiri orang itu tanpa memperlihatkan wajah takut di raut mukanya.
"Apa yang kamu mau dari kami?" tanya Juli kepada orang misterius itu dengan tatapan tajam yang melihat ke arah orang misterius. Saat itu, orang misterius itu tidak mengatakan sepatah katapun di hadapan Juli, namun ia hanya memberikan sebuah baju yang di kenakan oleh Jihan.
Saat itu Juli masih belum menyadari tentang baju itu. Saat itu ia menerima baju itu dengan raut muka kebingungan dengan pandangan mata yang melihat ke arah pakaian itu. Saat itu ia sangat bingung dengan hao yang di rasakan nya.
__ADS_1
"Apa apaan ini?" tanya Juli kepada orang misterius itu namun tiba tiba mobil yang di tumpangi oleh si polisi di tabrak oleh seseorang hingga membuat Juli dan polisi itu tampak sangat terkejut dengan orang yang menabrak mobilnya. Tidak hanya polisi itu, Juli pun tampak sangat terkejut ia langsung menoleh ke arah mobil yang di tumpangi nya setelah melihat mobilnya di tabrak.
Ketika ia berbalik untuk melihat ke arah orang misterius, orang misterius itu tidak ada di hadapan Juli, Juli yang melihat hal ini, ia hanya diam dan terlihat heran dengan hilangnya orang misterius itu. Ia melihat ke sana kemari dan sekitar tempat ia berdiri.
Melihat hal itu, polisi yang saat itu berada di dalam mobil pun langsung turun dari mobil dan menghampiri Juli.
"Kemana orang itu? Dan apa yang ia berikan kepada kamu?" tanya polisi itu saat ia sudah berada di hadapan Juli.
Mendengarkan pertanyaan itu, Juli pun dengan perlahan memberi tahu polisi itu tentang pakaian yang dia dapat dari Jihan, saat itu Jihan meninggalkan ponselnya di rumah. Pada saat Polisi itu sudah melihat ke arah pakaian itu, saat itu polisi itu masih belum sadar dengan pakaian yang di bawa oleh Juki adalah pakaian dari Jihan.
"Apa maksudnya semua ini?" tanya polisi itu dengan kebingungan dengan sesekali masih melihat ke arah pakaian yang di bawakan oleh Juli.
Dengan melihat ke arah pakaian itu, Juli dan polisi itu pun berpikir sejenak sebelum mereka masuk ke dalam mobil. Saat mereka berdua sudah masuk ke dalam mobil, orang misterius itu kembali muncul daro balik sebuah pohon yang berdiri kokoh di pinggir jalan. Orang misterius itu tampak sangat terus memandangi mobil Juli dan polisi itu.
Beberapa saat kemudian, Juli dan polisi itu pun pergi dari tempat itu dengan pikiran yang masih memikirkan tentang adik Juli bukan yang lainnya.
Hari pun semakin malam, namun Jihan masih saja belum ada kabar. Melihat hal itu, air mata Juli terus menetes dan dirinya terus menyalahkan dirinya sendiri atas ketidakadaan kabar Jihan. Polisi yang melihat hal itu, ia tidak bisa apa apa ia hanya dapat berusaha menguatkan Juli agar ia tidak sedih dan ia juga berusaha untuk membuat Juli yakin kalau Jihan baik baik saja.
__ADS_1
Saat air mata kesedihan karena ketidakadaan kabar tentang Jihan terus mengalir membasahi pipi Juli, tiba tiba terdengar suara seseorang yang mengetuk pintu rumah. Mendengar hal itu Juli pun menghapus air matanya, ia berpikir kalau orang itu adalah Jihan, namun saat ia membuka pintu rumah ia tidak melihat siapapun. Yang ia lihat hanya sebuah kotak kecil berwarna hitam, ketika ia mengambil kotak itu dan membukanya, ia melihat sebuah kain putih yang berlumur dengan noda berwarna merah seperti darah.
Melihat hal itu, Jihan semakin kebingungan dengan hal itu. Ketika Juki berada di luar rumah dengan memandangi kain itu, polisi itu menghampiri Juli.
"Ada apa?" tanya Juli kepada Juli.
Juli yang mendengar ucapan itu, ia pun menunjukkan kotak itu kepada polisi itu. Saat ia ingin memberikan kotak itu kepada polisi itu, Juli sadar kalau di dalam kotak itu terdapat kertas putih. Melihat hal itu, Juli pun kembali menarik kotak itu dan mengambil kertas tersebut, setalah itu ia membaca kertas itu.
Ketika Juli membaca surat itu, raut muka Juli terlihat seketika berubah. Melihat perubahan raut muka Juli setelah membaca surat itu, polisi itu pun mendekati Juli dan juga membaca surat itu.
"Ini hanya sebatas kertas, namun kertas ini aku tulis dengan darah ku sendiri. Aku bukan siapa siapa dalam hidup kamu tapi aku..... Punya orang yang paling kamu sayangi, maksud ku Adik kamu ada dengan ku dan dia akan baik baik saja!."
Ucap polisi itu dengan membaca tulisan yang ada di kertas putih tersebut.
"Apa apaan semua ini?" lanjut polisi itu dengan ekspresi kesal setelah membaca surat itu.
"Entahlah, apa yang di inginkan oleh orang ini! Tapi yang jelas aku merasa Jihan dalam bahaya, aku mohon... Gimana pun cara nya, tolong kamu cari tahu tantang orang ini!."
__ADS_1
Mendengar permintaan Juli akhirnya
Polisi itu pun menuruti apa yang di inginkan Juli dan mencari tahu tantang orang misterius itu.