
Di rumah Ibu Juli terlihat, Ibu Juli tengah memegangi foto di tangan nya. Ia terlihat sedih melihat foto itu. Air matanya terus berderai membasahi pipinya.
"Maafkan Ibu Juli, Ibu benar benar minta maaf dengan kamu kini sekarang ibu menanggung beban penyesalan ini. Terutama setelah Ibu mengetahui kalau Jihan masih hidup dan dia membalaskan dendam atas kematian kamu, ibu semakin hancur!" ucap Ibu Juli dengan deraian air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.
Tak berselang lama, Ibu Juli kembali tidur di tempat tidurnya. Ia terbaring dan dengan perlahan ia memejamkan matanya dengan memeluk erat foto Juli.
Ketika Ibu Juli sudah terlelap dalam tidurnya, Ibu Juli kembali terbangun dengan tatapan mata kebingungan karena ia sadar kalau dirinya berada di dalam sebuah ruangan hitam gelap dengan lampu yang menyala di atas kepalanya.
"Dimana aku? Apa ada orang di sini?" tanya Ibu Juli sambil melihat ke sana kemari dengan kebingungan melihat keadaan sekitar. Merasa tidak ada satu orang pun di ruangan itu, Ibu Juli pun terlihat sangat ketakutan dengan apa yang terjadi.
"Tolong, jawab ada orang atau tidak di ruangan ini?" tanya Ibu Juli dengan nada sedih dan raut muka ketakutan.
Saat itu suasana terasa sangat menakutkan, keadaan sangat sunyi, hanya terdengar suara derik kan dari lampu yang bergerak ke sana kemari. Ketika suasana takut menghantui Ibu Juli, tiba tiba terdengar suara langkah kaki mendekati Ibu Juli. Mendengar hal itu, Ibu Juli yang saat itu menangis ketakutan tiba tiba langsung mengehentikan tangisannya dan bangun dari duduk sedihnya.
"Apa ada orang di sini? Kalau ada memang ada orang tolong bantu saya keluar dari tempat ini!" pinta Ibu Juli dengan sedih.
"Bagaimana mungkin Ibu keluar dari tempat ini?" jawab Juli dengan tatapan mata serius dengan keadaan tubuh berlumur darah. Saat itu Juli berdiri di belakang ibunya dengan memegangi lampu yang berada tepat di atas tubuhnya.
__ADS_1
Mendengar suara dari Juli, dengan perlahan Ibu Juli membalikkan tubuhnya, saat ia sudah berbalik dan melihat ke arah belakangnya. Ia terlihat sangat terkejut dan sangat ketakutan dengan apa yang terjadi di hadapannya, karena ia melihat Juli dengan keadaan penuh luka dan berlumuran darah berdiri di hadapannya. Saat itu Ibu Juli benar benar tidak bisa berkata kata melihat Juli berada di hadapannya. Ia hanya diam mematung seribu bahasa dengan tatapan mata yang terbuka lebar.
"Kenapa Ibu menyesali atas semua yang sudah ibu lakukan kepada ku?" tanya Juli dengan nada serius dan tatapan mata terus menatap ibunya. Dan dengan perlahan, ia juga berjalan mendekati ibunya, merasa Juli mendekati ibunya, Ibu Juli justru terlihat menjauh dari Juli dengan berjalan mundur dan ekspresi muka yang terlihat ketekunan.
"Kenapa bu? Bukannya Ibu bahagia kalau aku mati, Ibu bisa menguasai semua yang aku punya. Lalu kenapa? Kenapa sekarang Ibu menyesali?" tanya Juli dengan serius dan semakin mendekat ibunya.
Merasa sudah terpojokkan Ibu Juli pun tiba tiba duduk bertekuk lutut di hadapan Juli, dengan tatapan mata yang sedih dan kepala yang hanya menunduk tanpa berani menatap Juli.
"Maafkan Ibu, Ibu benar benar menyesali atas semua yang terjadi dengan kamu Nak!" jawab Ibu Juli dengan sedih dan air mata yang terus berderai membasahi pipinya.
Mendengar ucapan ibunya yang penuh dengan penyesalan, Juli pun terlihat meneteskan air matanya di hadapan ibunya namun saat itu ibunya tidak menyadari kalau Juli meneteskan air mata.
"Tidak ada penyesalan yang layak kamu ucapkan, karena aku tahu penyesalan yang kamu keluarkan dari mulut kamu adalah sebuah kebohongan yang patut mendapatkan sebuah penghargaan," jawab Juli dengan serius. Lalu, ia mendekatkan mukanya yang penuh dengan luka ke arah ibunya. Ia kemudian menarik tangan pistol yang ia sembunyikan di balik bajunya, ia kemudian berbisik di dekat telinga ibunya.
"Jangan kamu pikir, dengan kamu meneteskan air mata seperti itu aku bisa luluh dan kamu bisa melunakkan hati ku. Tidak, tidak akan mungkin!" ucap Juli dengan tegas kepada ibunya. Ia kemudian mengarahkan pistolnya ke arah ibunya, ia menatap wajah ibunya tanpa ragu.
Door....
__ADS_1
Suara tembakan pun terdengar di ruangan itu, namun di saat bersamaan Ibu Juli terbangun dari tidurnya dengan nafas terengah-engah dan naik turun tidak beraturan. Sesekali ia menelan ludahnya sendiri.
"Kenapa aku merasa Juli benar benar dendam dengan aku?" tanya Ibu Juli kepada dirinya sendiri.
Beberapa saat kemudian, Verdi datang ke dalam kamar ibunya saat setelah ia mendengar teriakan dari ibunya. Ia pun duduk di samping ibunya dengan raut muka yang terlihat sangat khawatir.
"Ada apa Bu?" tanya Verdi setelah melihat ibunya yang terlihat sangat ketakutan.
Saat itu hari sudah pagi, karena sinar matahari sudah masuk ke sela sela jendela kamar ibunya. Melihat Verdi datang ke kamarnya, Ibu Juli terlihat langsung memeluk erat Verdi dan berusaha menenangkan dirinya. Melihat sikap ibunya yang aneh, Verdi terlihat diam saja selama beberapa saat. Tak berselang lama, Ibu Juli melepaskan pelukannya dan menceritakan apa yang di impikannya kepada Verdi. Saat itu Verdi hanya mendengar apa yang di ceritakan oleh ibunya. Saat ibunya sudah menyelesaikan menceritakan mimpi yang di alaminya, Verdi mengambilkan segelas air yang tidak jauh dari ibunya.
"Ibu, mimpi hanya lah sebuah mimpi. Mimpi hanya bunga tidur, yang tidak akan mungkin terjadi," ucap Verdi saat dirinya sudah selesai memberi minum kepada ibunya.
Mendengar ucapan itu, pada awalnya Ibu Juli tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Verdi dan ia percaya kalau mimpinya adalah mimpi yang nyata. Di saat itu Verdi dan ibunya melakukan perdebatan kecil mengenai mimpi yang di alami oleh ibunya.
Tak ingin berdebat lebih panjang dan lebih ******* lagi akhirnya Verdi pun memilih untuk pergi dan meninggalkan ibunya. Ibu Juli yang melihat sikap Verdi hanya diam dengan pandangan mata terus menatap Verdi yang pergi meninggalkan dirinya di dalam kamar sendiri.
Saat Verdi sudah pergi mata Ibu Juli tiba tiba memerah dan berkaca kaca. Tiba tiba ia bersedih dan menangis di dalam kamarnya.
__ADS_1
"Aku merasa mimpi itu benar benar nyata, bukan hanya sebuah mimpi. Aku merasa Juli benar benar sangat membenci aku, bahkan dia tidak ingin aku meminta maaf kepada dirinya. Kenapa hati ku sangat sedih dengan hal itu?" ucap Ibu Juli dengan air mata terus mengalir membasahi pipinya.