Reinkarnasi

Reinkarnasi
Part 51 Rahasia Juli dan peringatan dari polisi


__ADS_3

"Apa yang kamu inginkan hingga kamu datang ke tempat ku?" tanya Juli dengan nada serius dan tegas di hadapan orang misterius itu. Mendengar pertanyaan dari Juli, orang misterius itu terlihat hanya diam saja dan terlihat terus menatap mata Juli.


"Kalau kamu memang tidak ingin mengatakan sepatah kata pun, lebih baik kamu pergi dan jangan kamu temui aku lagi, kalau kamu tidak memiliki tujuan yang jelas untuk menemui aku!" ucap Juli dengan terlihat seperti kesal kepada orang misterius itu. Setelah mendengarkan ucapan Juli yang seperti orang marah, akhirnya orang misterius itu mendekatkan tubuhnya ke arah telinga Juli, ia kemudian membisikkan sesuatu ke telinga Juli hingga membuat Juli terlihat sangat terkejut setelah mendengarkan bisikan itu.


Setelah itu orang misterius itu menjauhkan tubuhnya dari telinga Juli, ia kemudian kembali berdiri dengan tegak di hadapan Juli dengan tatapan mata tajam mengarah ke arah Juli. Saat itu Juki terlihat hanya diam dengan mulut ternganga, ia merasa tidak percaya dengan apa yang terjadi. Entah apa yang di bisikan oleh orang misterius itu kepada Juli, hingga membuat Juli terlihat sangat yg terkejut.


Di kantor polisi, Verdi masih terbaring di lantai. Namun, saat keadaannya sudah lebih baik dari hari hari sebelumnya. Beberapa saat kemudian, polisi yang mengintrogasi Verdi datang dengan santai. Ia kemudian duduk di kursi kayu yang berada di ruangan itu. Saat itu, Verdi tengah beristirahat, ia terbangun dari istirahatnya setelah menyadari kalau ada orang lain di ruangan itu. Menyadari kalau orang yang berada di ruangannya adalah polisi itu, Verdi pun menatap tajam polisi itu.


"Tenang saja, Tuan Verdi. Santai! Saya tidak akan melakukan apapun dengan Anda, saya hanya ingin menemani Anda. Saya lihat Anda sangat perlu perhatian hingga Anda, mencari cari perhatian dari orang orang!. Terutama..., anak buah saya."

__ADS_1


Ucap polisi itu dengan tegas lalu ia mendekatkan tubuhnya ke tubuh Verdi, ia kemudian memegangi pipi Verdi dengan sangat kasar. Verdi yang merasakan hal itu ia hanya dapat diam dengan raut muka kesal dan ia menatap tajam mata polisi itu dengan penuh amarah. Namun, karena saat itu Verdi tidak memiliki banyak tenaga untuk melawan si polisi akhirnya Verdi pun menerima apa yang akan di lakukan oleh Verdi.


"Tidak akan pernah ku biarkan kamu mendekati wanita itu, dan aku tidak akan pernah membiarkan kamu mendapat atau meraih perhatian dari dia, kamu paham!" ucap polisi itu dengan tegas dan serius lalu ia membuang muka Verdi, hingga Verdi memalingkan wajahnya.


Saat itu, wanita yang menjadi incaran Verdi tengah berdiri di luar ruangan interogasi, ia terlihat sedih melihat tindakan polisi itu kepada Verdi, namun ia juga kesal dan berusaha untuk tidak bersikap peduli. Ia berusaha untuk tetap acuh tak acuh. Menyadari kalau wanita yang menjadi incarannya tengah melihat dirinya, Verdi menunjukkan wajah sedihnya di hadapan wanita itu. Ia seakan berbicara dengan matanya, ia meminta untuk wanita polisi itu percaya dengan dirinya melalui matanya. Melihat hal itu, wanita polisi itu pun juga terlihat sedih.


Melihat hal itu, polisi itu kembali meraih muka Verdi. Dan ia memegangi wajah Verdi dengan kasar.


"Pak polisi!!!" panggil Verdi hingga membuat polisi itu menghentikan langkahnya dengan secara tiba tiba. Polisi itu pun kemudian berbalik dan melihat ke arah Verdi, tatapannya terlihat sangat terkejut dengan apa yang di lihat oleh dirinya. Saat itu ia hanya diam dengan tatapan mata yang masih terus memandangi wajah Verdi. Menyadari kalau polisi itu melihat dirinya dengan tatapan mata yang terkejut, Verdi pun mendekati polisi itu, lalu ia berdiri di hadapan polisi itu dengan tatapan mata serius ke arah dirinya.

__ADS_1


"Aku akan membuktikan, kalau aku tidak bersalah atas kasus kematian Tuan. Dan aku...., Aku juga akan membuktikan siapa pelaku yang membunuh Tuan. Aku akan membawa dia kehadapan kamu!" ucap Verdi dengan tegas dan serius.


Mendengar ucapan itu, selama beberapa saat polisi itu terdiam dengan pandangan mata menatap ke arah Verdi, lalu ia mendekatkan tubuhnya ke tubuh Verdi. Saat ia sudah berada di dekat Verdi, dengan tiba tiba ia langsung meraih leher Verdi dan mencekik leher Verdi. Verdi yang merasakan cekikan itu ia hanya dapat diam dan berusaha melepaskan cekikan itu dengan sesekali dirinya mengerang kesakitan akibat dari cekikan itu.


"Baiklah, kalau kamu memang tidak bersalah buktikan. Aku tunggu pembuktian kamu!" jawab polisi itu lalu ia melepaskan cekikan tangannya dengan kasar. Ia juga mendorong Verdi hingga jatuh ke lantai. Melihat hal itu, Verdi hanya merintih kesakitan. Setalah itu polisi itu pun pergi dari ruang interogasi dengan raut muka acuh tak acuh lagi kepada Verdi.


Saat polisi itu sudah berada di luar ruangan itu, polisi yang mengintrogasi Verdi pun langsung bergegas menghampiri wanita polisi itu. Ketika wanita polisi itu sudah berada di dekat si polisi. Polisi wanita itu hanya diam dengan kepala yang menunduk di hadapan si polisi tersebut.


"Dengarkan aku baik baik, kamu tidak boleh sampai terbawa dengan wajah sedih yang di perlihatkan oleh laki laki penjahat itu. Karena apa? Karena seorang penjahat akan tetap menjadi seorang penjahat, sampai kapan pun dan dimana pun. Kamu mengerti!" ucap polisi itu dengan serius dan tatapan mata yang tajam kepada polisi wanita itu, lalu dengan raut muka kesal dan marah ia pergi dari hadapan polisi wanita itu dan tidak mempedulikan keadaan polisi wanita itu lagi.

__ADS_1


Mendengar hal itu, polisi wanita itu hanya diam dengan kepala yang menunduk di hadapan si polisi itu. Ketika polisi yang mengintrogasi Verdi sudah pergi, polisi wanita itu meninggikan wajahnya dan sesekali dirinya melihat ke arah Verdi yang terbaring di dalam ruangan interogasi. Saat itu hatinya seakan tergerak untuk membantu Verdi namun apalah daya, ia tidak bisa melakukan apapun karena jika ia membantu Verdi ia akan mendapatkan masalah di hidupnya dan di pekerjaan nya. Akhirnya, ia pun memilih untuk pergi dari depan ruangan interogasi. Ketika polisi wanita itu sudah pergi, dengan berusaha sekuat tenaga Verdi mengerakkan tubuhnya dan berusaha untuk duduk dengan menyenderkan tubuhnya ke dinding. Saat itu, nafasnya terdengar terengah-engah karena luka yang tidak di obati oleh siapapun.


__ADS_2