
Saat itu entah bagaimana cara polisi itu mendengar batinan dari si Ibu Juli yang sangat bertanya tanya dengan kehadiran polisi itu. Ia seakan secara tiba tiba menyadari dan memiliki kekuatan seperti itu.
Setelah menatap wajah Ibu Juli dengan tatapan mata tajam, polisi itu pun menjauh dari Ibu Juli, dan ia menghampiri Juli yang saat itu terbaring di atas tempat tidur. Ketika ia berada di dekat Juli, polisi itu memegangi salah satu tangan Juli. Ketika ia memegangi salah satu tangan Juli, tanpa polisi itu sadari dengan lirih ia menyebut nama Juli, hingga membuat Ibu Juli langsung melihat ke arah polisi itu. Saat ia lupa karena kesedihan yang teramat dalam ia rasakan hingga membuat dirinya seperti itu.
Mendengar polisi itu menyebut nama Juli bukannya Jihan, Ibu Juli pun dengan tatapan terus mengarah ke arah polisi itu Ibu Juli menghampiri polisi itu, ia menatap tajam polisi itu.
"Juli?!" ucap Ibu Juli hingga membuat polisi itu langsung terdiam, mematung selama beberapa saat. Seketika ia menghentikan tangisan matanya dan melihat ke arah Ibu Juli yang terus menatap ke arah nya. "Kamu jawab jujur!" ucap lanjut Ibu Juli dengan nada tinggi, hingga membuat Verdi dan Juli secara bersamaan terbangun dari tidurnya.
Verdi yang tidak tahu menahu tentang ibunya ia pun akhirnya berusaha bangun dan duduk di atas tempat tidur yang ia tempati dengan bertanya kepada ibunya tentang apa yang terjadi. Saat Juli bangun, ia juga terlihat terkejut karena melihat polisi yang tak lain adalah anak buahnya berada di ruangan itu dan saling berhadapan hadapan dengan ibunya. Melihat hal itu, tanpa di sadari oleh Verdi dan ibunya, Juli memegangi salah satu tangan polisi itu. Saat ia terbangun ia sadar ibunya, mencurigai siapa dirinya yang sebenarnya namun ia berusaha untuk tetap menjaga rahasia kalau dirinya adalah Jihan dan bukan Juli.
Menyadari kalau salah satu tangannya di pegang oleh Juli, polisi itu yang saat itu tampak terlihat tegang seketika luluh dan terharu karena Juli sudah sadar.
__ADS_1
"Katakan yang sebenarnya?!" pinta Ibu Juki dengan nada tegas dan tinggi di hadapan polisi, Verdi dan Juli.
"Apa yang ibu maksud? Kenapa dia harus mengatakan yang sebenarnya dan siapa sebenarnya dia?" sahut Verdi dengan nada kebingungan.
Mendengar teriakan dan bentakan itu, polisi itu tetap saja diam hal itu ia lakukan kerena ia menuruti apa yang di inginkan oleh Juli. Ketika polisi itu tidak mengatakan sepatah kata pun kepada Ibu Juli, kemarahan Ibu Juli semakin menjadi jadi ia terus memaksa anak buah Juli untuk mengatakan yang sebenarnya, namun semua itu sia sia polisi itu tetap diam dan tidak mengatakan sepatah kata pun kepada dirinya.
Kemarahan Ibu Juli yang sudah tidak bisa terbendung pun akhirnya terlupakan diam dia benar benar mengamuk dan tidak bisa terkontrol hingga membuat polisi yang saat itu berada di luar ruangan yang di tempati oleh Juli dan Verdi pun berbondong bondong untuk memegangi ibunya dan menenangkan Ibu Juli.
Saat orang orang sibuk untuk menenangkan Ibu Juli, tanpa di sadari oleh orang orang itu polisi itu mengajak Juli pergi dari tempat itu dengan keadaan Juli yang masih belum pulih seutuhnya dan masih terlihat lemas.
"Juli, maafkan kakak. Kakak membawa kamu dalam keadaan seperti ini! Kakak benar benar minta maaf, " ucap polisi itu dengan sangat khawatir. Namun, saat ia tengah sibuk mengemudikan mobilnya, ia menyadari kalau mobilnya di ikuti oleh seseorang. Hal itu terjadi karena mobil nya tiba tiba mengeluarkan bunyi seperti ditabrakkan oleh sesuatu. Saat ia menoleh ke belakang ia menyadari kalau mobilnya memang di tabrak oleh mobil lain. Menyadari hal itu, polisi itu langsung menyadari kalau orang yang menabrak mobilnya dengan sengaja adalah orang misterius yang punya masalah dengan Juli dan dirinya.
__ADS_1
Melihat hal itu, polisi itu tampak sangat kesal dan marah kepada orang itu karena orang itu berusaha mencelakai dirinya dan Juli.
"Kurang ajar kamu!" ucap polisi itu dengan sangat marah dan kesal kepada orang yang dengan sengaja menggores mobilnya.
Ketika, ia tengah sibuk menghindar dari mobil itu. Ponselnya tiba tiba berbunyi dan orang yang menghubungi dirinya adalah orang misterius yang tidak lain adalah anak buah Juli. Saat itu ia mengirimi panggilan Video kepada polisi itu, menerima panggilan itu polisi yang saat itu mengendarai mobil langsung menuduh orang misterius, tapi betapa terkejutnya ia karena ia melihat orang misterius itu berada di rumah dan tengah menunggu Jihan di dalam kamarnya karena Jihan tidur setelah di beri obat tidur oleh orang misterius itu.
Menyadari hal itu, raut muka bingung terlihat jelas di wajah si polisi itu, ia juga sesekali melihat ke arah belakang mobilnya dan ia masih melihat mobil itu berada di belakangnya dan mengikuti dirinya.
Di rumah sakit, orang orang yang saat itu tengah sibuk untuk menenangkan Ibu Juli, mulai menyadari kalau Juli yang di anggap Jihan sudah tidak ada di atas tempat tidurnya.
"Jihan!" panggil Ibu Juli dengan sangat terkejut saat dirinya tidak melihat Juli yang ia anggap sebagai Jihan berada di atas tempat tidurnya. Mendengar teriakan itu, orang orang yang berada di ruangan itu pun langsung melihat ke arah tempat tidur yang di tempati oleh Juli, namun menyadari kalau Juli tidak ada di tempat tidur itu. Mereka pun juga terlihat terkejut, tak terkecuali Verdi yang juga terlihat sangat terkejut dengan tidak adanya Juli.
__ADS_1
Menyadari kalau Juli tidak ada, Ibu Juki pun langsung terlihat kebingungan. Ia berjalan ke sana kemari dengan memanggil manggil nama Jihan, namun ia tidak melihat tanda tanda kedatangan Jihan. Menyadari Juli yang ia anggap Jihan sudah pergi, air mata Ibu Juki tiba tiba berderai dan ia terlihat tidak bisa membendung air matanya. Ia seperti sangat sedih atas kehilangan anaknya lagi.
"Sebenarnya ibu itu serius atau hanya sekedar bercanda? Kenapa dia seperti itu?" ucap Verdi dalam hatinya dan terlihat kebingungan dengan sikap ibunya. Ia merasa tidak percaya dengan semua air mata yang di teteskan oleh ibunya di hadapan orang orang. Namun, saat itu Ibu Juli tidak lah sedih berpura pura. Ia benar benar sedih, air matanya benar benar menetes dan kesedihannya bukan lah kepura-puraan untuk membuat tipu daya.