Reinkarnasi

Reinkarnasi
Part 86 Terungkap


__ADS_3

Ketika Juli sudah berada jauh dari Dokter Ziya, tiba tiba sebuah peluru di luncurkan oleh seseorang dari gedung lainnya dan di arahkan ke polisi itu hingga polisi itu meninggal dunia.


Suasana pun seketika berubah menjadi kepanikan, saat melihat hal itu para polisi pun berusaha mengejar pelakunya. Sedangkan orang orang yang berada di dalam ruangan itu sibuk untuk memeriksa keadaan si polisi yang menembak Juli. Namun, saat Verdi sudah memeriksa polisi itu, Verdi mengatakan kalau polisi yang menembak Juli sudah meninggal karena tembakan itu. Melihat hal itu, orang orang semakin terkejut. Hal itu di terlihat dari wajah Dokter Ziya yang melihat penembakan itu di hadapannya secara langsung. Saat itu ia benar benar tidak bisa berkata kata dengan apa yang di lihat oleh matanya.


Juli yang melihat ada korban lagi, akhirnya ia pun menghampiri Dokter Ziya dan mengatakan kepada Dokter Ziya. Ia menekan Dokter Ziya agar mengatakan siapa orang yang merencanakan hal ini. Namun, Dokter Ziya terlihat hanya diam dengan tatapan mata yang sangat ketakutan berdiri di hadapan Juli.


"Kak, sudah cukup Kak. Jangan paksa Dokter Ziya lagi, yang jelas kita harus urus mayat ini dulu. Kita harus cari tahu pelaku yang sesungguhnya," jawab Jihan dengan tegas dan serius dengan membantu mayat itu dan membawa mayat itu ke atas tempat tidur yang sudah tersedia di dalam ruangan itu. Setelah itu beberapa dokter dan beberapa suster pun membawa mayat itu pergi dari ruangan itu.


Saat mayat itu sudah pergi, tatapan mata Juli terlihat langsung serius melihat ke arah Dokter Ziya. Dokter Ziya yang melihat hal itu, ia hanya menundukkan kepalanya.


"Jawab saya Dokter Ziya, siapa pelaku yang sebenarnya?" ucap Juli dengan serius dan tegas, namun saat itu Dokter Ziya masih saja tidak mengatakan kepada Juli. Akhirnya Juli yang saat itu sudah naik darah, tanpa berpikir panjang Juli pun langsung menghampiri Jihan dan mencekik lehernya, setalah itu ia menghantamkan tubuh Jihan ke tembok yang berada tidak jauh dari mereka berdua.


Jihan yang menyadari kalau lehernya di cekik oleh Juli, ia pun hanya bisa meronta dan berusaha melepaskan dirinya dari cekikan itu.


Melihat Juli yang langsung mencekik Jihan dengan penuh amarah, Amar dan orang orang yang saat itu berada di dalam satu ruangan itu terlihat sangat terkejut. Dimana, saat itu suasana diam dan senyap karena menyaksikan kemarahan Juli, tiba tiba berubah menjadi kepanikan yang saat itu tergambar jelas di wajah orang orang di ruangan itu.


Melihat Juli mencekik Jihan hingga Jihan tidak bisa bernafas, Amar dan Verdi pun langsung menghampiri Juli dan berusaha melepaskan tangan Juli yang mencekik leher Jihan. Ketika tangan Juli sudah terlepas dari leher Jihan, Amar langsung memberi pukulan kepada Juli hingga Juli jatuh tersungkur dengan memalingkan wajahnya dari hadapan Amar.

__ADS_1


Jihan yang saat itu merasa lehernya sudah bebas dari tangan Juli, ia terlihat sangat lega dan sesekali dirinya batuk batuk karena cekikan dari Juli.


Saat itu Juli yang menerima pukulan dari Amar, ia hanya tersungkur di lantai.


"Kamu kenapa sih Juli? Dia itu adik kamu, kenapa kamu ingin membunuh dia?" ucap Amar dengan nada marah dan kesal kepada Juli.


Mendengar hal itu, selama beberapa saat ia diam lalu ia bangun sendiri dari jatuh tersungkur nya. Saat itu sudah berdiri di hadapan Amar, Juli menatap tajam Jihan yang saat itu berdiri dengan di bantu oleh Handi.


"Adik? Hahaha," jawab Juli dengan nada serius dan menatap ke arah Jihan. Jihan yang saat itu baru terlepas dari cekikan kakaknya, ia hanya dapat melihat ke arah kakaknya dengan tatapan mata yang penuh dengan air mata.


Setalah dirinya tertawa terbahak bahak di hadapan Amar, tak berselang lama ia melihat ke arah Amar dengan tatapan mata berkaca kaca.


Mendengar ucapan itu, Amar pun terlihat kebingungan dan heran dengan apanya di ucapakan oleh Juli. Tidak hanya Amar, Ibu Juli dan orang orang lain di tempat itu pun terlihat terkejut mendengar ucapan itu, tidak hanya orang orang Jihan pun juga terlihat terkejut dengan apa yang di ucapkan oleh Juli kakaknya.


"Apa maksudnya Juli?" jawab Amar dengan mendekat ke arah Juli dan kemudian ia memegang erat kedua lengan Juli.


"Kak, aku minta maaf dengan kakak," sahut Jihan dengan sedih dan ia kemudian menghampiri Juli dan Amar yang saat itu berdiri saling berhadapan.

__ADS_1


Mendengar hal itu, Amar pun seketika langsung berpikir kalau Jihan lah yang menyuruh polisi itu untuk menembak Juli. Saat itu, raut muka Amar terlihat sangat kebingungan dan ia masih terlihat tidak percaya kalau orang yang sudah di perlakukan baik, justru ia ingin menyakiti kakaknya sendiri.


"Jadi benar, apa yang di ucapkan oleh Juli? Kalau kamu berusaha membunuh Juli?" tanya Amar dengan tatapan mata serius melihat ke arah Jihan. Jihan yang melihat hal itu ia hanya diam dan hanya menundukkan kepalanya dengan sedih.


Melihat kalau Jihan hanya diam, Amar pun akhirnya yakin kalau memang Jihan lah yang merencanakan penembakan ini kepada Juli.


Amar yang menyadari hal itu, dengan penuh amarah dan emosi yang sudah di ujung tanduk ia langsung memegangi kedua lengan Jihan dengan sangat erat.


"Kenapa kamu tega melakukan hal itu kepada Juli, Jihan? Kenapa?!" ucap Amar dengan membentak Jihan dan memegangi kedua lengan Jihan dengan semakin lama semakin erat.


Juli yang saat itu melihat kejadian itu ia hanya dapat diam dan ia tidak membela adiknya. Namun, saat itu air matanya terlihat sangat deras mengalir dari matanya.


Jihan yang melihat air mata dari kakak nya ia pun juga terlihat ikut menangis dan dirinya ikut bersedih.


"Maafkan aku kak," ucap Jihan dengan sedih sambil melihat ke arah Juli yang saat itu berdiri di belakang Amar. Namun, saat itu Juli tidak merespon permintaan maaf dari Jihan.


Saat itu Juli benar benar tega dengan dirinya, tidak hanya Juli, Ibu Juli pun juga terlihat sangat tidak percaya dengan kejahatan yang di lakukan oleh Jihan kepada Juli. Ia yang biasanya membela Jihan, pada saat itu ia hanya diam dengan tatapan mata melihat ke arah Jihan dengan sesekali melihat ke arah Jihan dan Juli.

__ADS_1


Namun, saat dirinya melihat ke arah Jihan ia menggelengkan kepalanya dengan raut muka yang sedih dan mata yang di penuhi oleh air mata melihat kejahatan Jihan.


__ADS_2