Reinkarnasi

Reinkarnasi
Part 50 Pertemuan Polisi dan Jihan


__ADS_3

Mendengar ucapan itu, polisi itu pun naik fital dan ia pun langsung mencekik leher Jihan. Ia seakan tidak mempedulikan siapa orang di hadapannya.


"Jelas ini urusan aku, kalau ini ada hubungannya dengan kesehatan Juli. Sampai kapanpun ini akan menjadi urusan ku," jawab polisi itu dengan nada tegas lalu ia semakin mencekik leher Jihan dengan semakin erat. Saat itu, Jihan hanya dapat mengerak gerakkan tubuhnya dengan tatapan mata tajam menatap mata si polisi itu.


Saat itu Jihan benar benar merasakan, sakit yang sangat luar biasa di lehernya akibat dari cekikan itu. Setelah cekikan yang di lakukan oleh polisi itu di lepaskan, Jihan terlihat langsung terjatuh ke tanah dan sesekali ia batuk batuk. Ia juga memegangi lehernya dengan tatapan mata tajam mengarah ke arah si polisi itu.


Setalah menenangkan dirinya di tanah, Jihan pun bangun dari terjatuhnya dan langsung berhadapan langsung dengan si polisi itu. Tanpa ada ekspresi muka yang takut, ia meninggikan dadanya di hadapan si polisi itu.


"Kenapa? Kenapa kamu tidak melanjutkan untuk mencekik leher ku?" ucap Jihan lalu ia berhenti beberapa saat, setelah itu ia membentak si polisi itu dengan mengatakan "KENAPA?!!! Kenapa kamu tidak habisi aku sekalian?"


"Kamu ingin tahu alasan ku, mengapa aku tidak menyakiti kamu lebih parah lagi. Aku beri tahu kamu, aku melakukan ini karena perintah Juli!" jawab polisi itu dengan mata di penuhi oleh air mata. Mendengar ucapan itu Jihan sempat tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh si polisi, namun ia mulai percaya ketika polisi memberikan handset yang ia pakai kepada Jihan. Pada awalnya, Jihan ragu untuk menerima handset itu namun lama kelamaan ia akhirnya menerima handset itu dan mendengar suara di handset itu.


"Dek, kamu baik baik saja kan?" tanya Juli yang saat itu tengah duduk di atas tempat tidur dengan tangan menggunakan infus dan ponsel yang ia letakkan di dekat telinganya.

__ADS_1


Mendengar suara itu benar benar suara dari Juli kakaknya, Jihan terlihat sedih. Matanya tiba tiba berkaca-kaca, kemarahan yang saat itu tampak jelas di raut muka Jihan tiba tiba sirna dan hanya tersisa kelembutan hati dari matanya.


"Kak Juli, ini benar benar kakak kan?" jawab Jihan dengan tidak percaya kalau dirinya akan mendengar suara kakaknya lagi. Saat itu, Juli hanya menjawab senyuman, walaupun Jihan tidak melihatnya. "Maafkan aku Kak, aku sudah mengecewakan kakak berulang kali!."


"Kamu tidak salah, ini adalah kesalahan kakak. Kakak tidak menyadari dengan kakak membekas kamu menjauhi ibu, sama saja Kakak menyakiti hati kamu!. Seharusnya orang yang pantas meminta maaf adalah kakak bukannya kamu," jawab Juli dengan air mata terus mengalir membasahi pipinya. Ia kemudian menghentikan perbincangannya dan menghapus air matanya. "Gimana kabar kamu? Kakak harap kamu bersama ibu, kamu baik baik saja!."


"Iya kak, aku baik baik saja!. Bagaimana dengan kakak?" jawab Jihan dengan baik dan raut muka yang terlihat sedih.


"Kakak juga baik," jawab Juli dengan senyum kecil di bibirnya lalu ia melanjutkan "kakak tidak akan memaksa kamu untuk tinggal lagi dengan kakak, namun kamu harus ingat ucapan kakak. Jangan mudah percaya dengan ucapan ibu, karena kamu hanya tahu sedikit tentang ibu. Kamu tidak tahu sikap asli ibu!."


"Kenapa sekarang kamu sedih?" tanya polisi itu dengan nada serius di hadapan Jihan. Ia kemudian memegangi salah satu bahu Jihan dengan sangat erat. Saat itu, Jihan yang sedih tiba tiba ia marah dan murka dengan sikap polisi itu. Ia menatap tajam mata polisi itu dengan raut muka yang di penuhi kemarahan yang sangat luar biasa tergambar jelas di wajahnya.


"Mau aku sedih atau pun tidak, itu bukan urusan kamu!. Karena apa? Karena kamu itu bukan siapa pun di hidupku, kamu hanya anak buah dari kakak ku," ucap Jihan dengan raut muka kesal dan marah, ia kemudian melepaskan tangan polisi tersebut dengan kasar. "Jangan pernah kamu ikut campur lagi dengan kehidupan ku, kamu harus sadar, siapa kamu dan apa urusan kamu. Paham!" lanjut Jihan lalu ia mendorong polisi itu dengan kasar.

__ADS_1


Melihat sikap Jihan, polisi itu tampak sedih dan kesal. Namun, saat itu polisi tersebut tidak dapat mengatakan sepatah katapun. Tanpa di sadari oleh polisi itu, air matanya menetes membasahi pipinya. Ia kemudian pergi dari tempat itu dan terlihat tidak mempedulikan Jihan lagi, saat polisi itu pergi dari halaman rumah dengan raut muka yang sedih dan kecewa. Tiba tiba ia menghentikan langkahnya dan berdiri di belakang Jihan dengan mengubah tatapannya menjadi tatapan mata yang serius.


"Jika aku melanjutkan perdebatan ini, maka semuanya tidak akan pernah berakhir, aku yakin pada waktunya kamu akan tahu siapa aku, dan apa tujuan ku!" ucap polisi itu dengan berhenti di belakang Jihan sambil sesekali melirik ke arah Jihan, beberapa saat kemudian ia  melangkah kan kaki nya pergi dari rumah Ibu Juli dan tidak mempedulikan Jihan lagi.


Ucapan polisi itu pun menyisakan banyak pertanyaan di benak Jihan, Jihan yang saat itu kesal dan marah dengan Juli tiba tiba ia meluluh dan memikirkan apa yang di ucapkan oleh si polisi itu.


"Apa maksudnya? Dan rahasia apa lagi yang di sembunyikan oleh kakak dan polisi itu?" tanya Jihan dengan dirinya sendiri dengan raut muka heran dan kebingungan. "Bagaimana pun caranya, aku harus cari tahu rahasianya!."


Di rumah sakit dengan tubuh yang terlihat masih lemas dan wajah yang masih terlihat pucat, Juli duduk di atas tempat tidur, saat itu Juli tengah  menggunakan alat bantu pernapasan dan infus. Saat itu ia terlihat tengah menerima telepon dari seseorang.


"Kamu tidak mengatakan yang sejujurnya kan? Tentang siapa kamu, dan apa tujuan kamu?" tanya Juli kepada orang yang ia telepon, entah apa yang di katakan oleh orang yang di hubungi Juli dan entah siapa orang yang di telepon Juli, hak itu masih menjadi rahasia besar Juli.


"Bagus lah, kalau kamu tidak mengatakan hal yang sesungguhnya. Yang harus kamu.... Rahasia kamu dan aku, tidak boleh ada yang tahu terutama Jihan. Kalau dia sampai tahu, siapa kamu dan apa tujuan kamu, aku pasti akan kehilangan dirinya!."

__ADS_1


Setelah mengatakan hal itu, Juli pun menutup panggilan itu dan ia kemudian kembali beristirahat. Saat ia baru beberapa saat beristirahat, orang misterius lain datang dan menghampiri Juli ke kamarnya. Melihat hal itu, Juli yang saat itu ingin beristirahat dengan perlahan ia pun akhirnya terbangun dari terbaring nya. Ia menatap tajam mata orang itu dan orang itu pun membalas tatapan mata Juli dengan serius.


__ADS_2