Reinkarnasi

Reinkarnasi
Part 34 Kasih Sayang Jihan kepada Juli


__ADS_3

Tak berselang lama, Juli sampai di kamarnya. Ia kemudian berbaring di atas tempat tidurnya, ia menatap ke arah langit langit ruangan itu dengan tatapan matanya yang seakan ingin menutup. Saat itu salah satu polisi yang menjadi anak buah Juli menyadari hal itu, ia yang menyadari hal kalau Juli seakan ingin menutupi matanya langsung bergegas pergi menuju ke luar kamar untuk memberi tahu atasnya dan Jihan. Saat ia sudah berada di luar kamar, orang itu memberi tahu Jihan tentang keadaan Juli yang sebenarnya. Mendengar keadaan Juli, Jihan terlihat sangat terkejut tanpa berpikir panjang Jihan pun langsung berlari masuk ke dalam kamar Juli. Melihat Juli terbaring di kamarnya dengan keadaan perut berlumur darah Jihan pun menangis di hadapan Juli.


"Aku mohon dengan Kakak, kita pergi ke rumah sakit. Aku tidak tega melihat kakak seperti ini," ucap Jihan dengan air mata terus berderai dari matanya. Ia terlihat memegang erat tangan Juli, ia kemudian menundukkan kepalanya dengan air mata yang terus menetes. Menyadari kalau Jihan menangis di sampingnya, Juli pun membuka lebar matanya. Ia kemudian berusaha bangun dari terbaring nya, menyadari kalau Juli akan terbangun Jihan pun meninggikan kepalanya dan kemudian ia membantu Juli untuk bangun dari terbaring nya.


"Jangan menangis, Kakak tidak akan pernah meninggalkan kamu. Saat ini Kakak memang terluka, tapi... Tapi kakak baik baik saja," jawab Juli dengan baik dan bernada rendah si hadapan Jihan.


"Maafkan aku Kak, aku mohon dengan Kakak. Tolong, kita pergi ke rumah sakit," pinta Jihan dengan sangat baik kepada Juli.


Mendengar ucapan dari Jihan, Juli hanya tersenyum kecil di bibirnya lalu ia meminta Jihan untuk mengambilkan kotak obat di salah satu laci lemari. Mendengar perintah itu, Jihan pun langsung bergegas mencari kotak obat itu. Saat ia sudah menemukan kota obat itu, Juli meminta Jihan untuk membantu dirinya membersihkan luka yang di dera nya. Saat membuka baju Juli, terlihat perban yang berwarna-warni putih terlihat berwarna merah darah. Melihat hal itu tanpa ada keraguan di hati Jihan, ia memperbaiki perban itu dan membersihkan darah darah yang ada di perutnya. Saat itu benar benar terlihat luka bekas tusukan di perut Juli, merasakan perutnya yang di bersihkan oleh Jihan sesekali Juli mengerang kesakitan. Jihan yang menyadari kalau Juli masih kesakitan ia pun akhirnya membersihkan luka Juli dengan semakin perlahan.


Ketika Jihan sudah membersihkan luka Juli dan Jihan juga sudah mengganti perban yang pakai oleh Juli. Juli pun membaringkan tubuhnya di tempat tidur, saat itu pandangan mata Jihan masih mengarah ke Juli yang terbaring tidak berdaya.


"Ada apa?" tanya Juli setelah menyadari kalau Jihan terus memandangi dirinya.

__ADS_1


"Aku hanya sedih melihat keadaan Kakak yang seperti ini!."


"Kamu tidak perlu sedih dengan semua hal ini, yang harus kamu tahu. Aku tidak akan pergi meninggalkan kamu, walaupun aku dalam keadaan tidak baik baik saja. Kakak berjanji dengan kamu, kakak tidak akan meninggalkan kamu di saat kamu dalam masa apapun," jawab Juli dengan nada baik dan rendah.


Mendengar ucapan itu Jihan pun hanya diam dan tersenyum melihat ke arah Juli. Ia kemudian memeluk Juli yang terbaring di atas tempat tidur. Tiba tiba air matanya menetes, Juli saat itu menyadari kalau Jihan sedih Juli pun berpura pura kesakitan. Mendengar ucapan itu, Jihan pun terlihat khawatir dan sedih. Saat Jihan sangat khawatir dengan erangan yang di ucapkan oleh Juli, justru Juli tersenyum di hadapan Jihan. Jihan yang menyadari kalau dirinya di bohongi oleh kakaknya, ia hanya tersenyum kecil di bibirnya dengan menghapus air mata yang mengalir dari matanya.


"Maafkan Kakak, kakak melakukan ini karena kakak ingin kamu tersenyum dan tidak bersedih lagi," ucap Juli lalu di balas Jihan dengan anggukan kepala. Setalah itu Juli melanjutkan berkata "sekarang kamu pergi ke kamar kamu, dan tidur. Kakak janji, besok setelah kamu terbangun dari tidur mu, luka kakak akan sembuh."


Saat itu terlihat orang itu menaruh foto Ibu Juli di atas meja sebelum polisi itu pergi dari kamar Jihan, saat menyadari kalau foto ibunya masih ada di ruangan itu, Jihan menghentikan langkah dari anak buah Juli dengan pandangan mata menatap ke arah selembar foto yang ada di atas meja di dekat tempat tidur.


Menyadari kalau Jihan menghentikan langkahnya, anak buah Juli pun menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah Jihan lalu ia menundukkan kepalanya.


"Kenapa foto itu masih ada di dalam kamar ku?" tanya Jihan dengan nada serius dengan mata yang memerah dan seakan menahan air mata di matanya.

__ADS_1


"Saya kira, foto itu masih Anda butuhkan!" jawab anak buah Juli dengan terlihat ketakutan.


Mendengar ucapan anak buah dari kakaknya, air mata yang saat itu tertahan tiba tiba menetes dan membasahi pipinya. Menyadari kalau dirinya menangis, Jihan pun menghapus air matanya dan menatap tajam foto yang ada di atas meja tersebut.


"Buang foto itu, aku tidak mau kalau ada foto dari Ibu dan Verdi," ucap Jihan dengan tegas kepada anak buah Juli. Anak buah Juli yang mendengar ucapan itu, ia hanya diam dengan raut muka yang terlihat heran berserta kebingungan, hal itu ia rasakan karena ia tahu kalau Jihan sangat menyayangi ibunya.


Melihat anak buah Juli tidak melakukan apa yang di perintahkan nya, Jihan pun membentak orang itu untuk melakukan apa yang ingin kan nya. Mendengar bentakan dari mulut Jihan anak buah Juli pun menuruti permintaan dari Jihan untuk membersihkan foto foto yang berhubungan dengan ibunya. Setelah merasa semua foto ibunya sudah bersih di ruangan itu, Jihan meminta anak buah Juli untuk membakar semua foto itu tanpa meninggalkan satu foto pun. Anak buah Juli pun melakukan apa yang di inginkan Jihan tanpa memprotes Jihan.


Setalah anak buah Juli sudah pergi, Jihan berbaring di atas tempat tidur. Ia memandang ke arah langit langit kamarnya dengan mata yang terlihat sedih.


"Kenapa dengan aku? Kenapa aku sedih dengan orang yang sama sekali tidak peduli dengan aku? Kenapa aku justru sangat menyayangi orang yang sedikit pun tidak peduli dengan aku? Kenapa?" ucap Jihan dengan air mata yang mengalir deras di matanya. Setalah itu, ia terbangun dari tidurnya dan menatap ke arah dirinya di depan cermin. Ia menatap dirinya dengan tatapan mata yang tajam dan penuh kemarahan.


"Tapi sekarang tidak lagi, bagiku yang terpenting saat ini adalah kakak ku bukan ibu ku, aku berjanji kak, sebelum aku mati aku tidak akan pernah meninggalkan dendam ini, tidak akan pernah!" ucap Jihan dengan nada serius dan tegas.

__ADS_1


__ADS_2