Reinkarnasi

Reinkarnasi
Part 82 Juli dan Jihan Sadar


__ADS_3

Di rumah Ibu Amar, laki laki misterius itu terlihat berdiri di hadapan sebuah foto yang tak lain adalah foto Amar dan Juli. Beberapa saat kemudian, terlihat Ibu Amar menghampirinya laki laki misterius itu dan saat itu ia terlihat sangat bahagia melihat laki laki misterius itu.


"Kamu kemana saja Amar? Kenapa kamu beberapa hari ini tidak pulang ke rumah?" tanya Ibu Amar dengan raut muka sedih dan bahagia menjadi satu saat dirinya melihat Amar sudah pulang.


Melihat hal itu, dengan perlahan laki laki misterius itu pun membuka penutup mukanya dan benar dia adalah Amar, di saat itu Amar pun langsung memeluk ibunya saat setalah dirinya membuka penutup mukanya.


"Ibu sangat bahagia kamu pulang Amar, dan dimana Juli?" tanya Ibu Amar saat dirinya di peluk oleh Amar.


"Juli ada di tempat yang aman Bu, tapi maafkan Amar, Amar tidak bisa memberi tahu Ibu dimana Juli berada tapi yang jelas, Juli baik baik saja!" jawab Amar lalu ia melepaskan pelukannya dan ia kemudian duduk di sofa yang berada di dekatnya. Namun, saat sebelum dirinya duduk di sofa, ia mengambil foto dirinya dengan Juli.


"Aku rindu dengan ketenangan kita dulu Ibu," ucap Ridwan dengan raut muka sedih.


Mendengar ucapan itu, Ibu Amar pun menghampiri Amar dan duduk di samping Amar dengan melihat ke arah foto yang di pegang oleh Amar.


"Kalau kamu memang rindu dengan ketenangan dulu, kenapa kamu tidak menghentikan semua ini dan pergi ke kantor polisi?" jawab Ibu Amar dengan mata yang terlihat berkaca kaca.


Mendengar jawaban dari ibunya, Amar terlihat sangat terkejut. Ia langsung menatap tajam wajah ibunya yang saat itu tengah duduk di samping nya.

__ADS_1


"Bagaimana bisa Ibu bisa mengatakan hal itu? Keluarga Verdi tidak pernah menyayangi Juli dan Jihan, lalu mengapa Ibu bisa menyuruh aku untuk menyerah ke polisi. Ibu dengarkan aku Ibu, aku bahkan siap mengorbankan nyawa ku demi Juli, asalkan dendam dendam nya kepada keluarga nya berhasil!."


Jawab Amar dengan nada serius, dan ia kemudian bangun dari duduknya dan menjauhi ibunya, namun saat ia baru melangkahkan kakinya beberapa langkah. Langkah Amar di hentikan oleh ibunya.


"Dengar Amar, kamu bisa dengan sekuat tenaga melindungi Juli dan Jihan. Tapi kamu harus ingat, dengan  sikap Jihan kepada kamu!" jawab Ibunya dengan nada yang serius. Mendengar hal itu, Amar sempat diam beberapa saat. Melihat Amat diam Ibu Amar pun menghampiri Amar dan dirinya memegangi salah satu bahu Amat dengan penuh kasih sayang.


"Ibu tahu, kamu sangat menyayangi Juli dan tidak ingin kehilangan dirinya lagi. Tapi kamu juga harus tahu, Ibu juga tidak ingin kehilangan kamu!. Setidaknya, kalau kamu dan Juli masuk ke dalam penjara, ibu masih bisa melihat kamu!" ucap Ibu Amar untuk melanjutkan ucapannya di awal.


Mendengar ucapan ibunya, Amar sempat sedih, namun ia berusaha menguatkan dirinya dengan berkata kepada ibunya dengan nada tegas.


"Aku dan Juli, akan masuk ke penjara kalau Verdi dan ibunya mati Ibu!."


"Begitu sayang nya kah kamu dengan Juli, hingga kamu bisa tidak mempedulikan perkataan ibu lagi Amar," ucap Ibu Amar dengan pandangan mata yang terus melihat ke arah Amar yang berjalan menjauhi dirinya. Saat itu pandangan matanya terlihat sangat sedih dan berkaca kaca.


Beberapa saat kemudian, terlihat Amar berada di rumah sakit tempat ia menaruh Juli dan Jihan. Saat itu, terlihat Juli sudah mulai pulih keadaan nya mulai siuman, begitupula dengan Jihan.


Keesokan harinya, Amar terlihat tertidur di samping Juli dengan memegangi salah satu tangan Juli. Juli yang saat itu sudah terbangun dan sadar ia memegangi kepala Amar dan mengelus rambut hitam Amar dengan penuh kasih sayang. Menyadari kalau rambutnya di Sentul oleh seseorang, sontak Amar pun  langsung terkejut dan bangun dari tidurnya. Pada awalnya ia terkejut karena sentuhan tangan itu, namun tiba tiba ia terlihat bahagia karena melihat Juli sudah dasar. Juli yang melihat kebahagiaan Amar, Juli pun tersenyum kecil di bibirnya.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, setelah Juli sadar dari masa masa komanya, Jihan pun juga tersadar. Namun, saat itu yang di cari oleh Jihan bukanlah Juli melainkan ibunya. Amar yang mendengar hal itu ia terlihat sangat marah dan ingin menyakiti Jihan namun saat itu Juli menghentikan langkah Amar dengan memegangi salah satu tangan Amar.


"Jangan lakukan apapun!" ucap Juli dengan lirih di dekat Amar.


Amar yang melihat larangan itu, ia pun akhirnya memilih menurut Juli dan memalingkan wajahnya dari Jihan yang terus menyebut nyebut ibunya. Walaupun, saat itu ia terlihat sangat kesal dan marah namun ia tetap berusaha untuk mengendalikan amarahnya agar tidak menyakiti Jihan.


Tak berselang lama, Jihan pun membuka matanya dan dirinya  bangun dari masa komanya. Saat itu, ia hanya melihat ke arah langit langit rumah sakit dengan raut muka kebingungan.


"Dimana aku?" tanya Jihan dengan lirih namun saat itu sudah di dengar oleh Amar dan Juli. Melihat dan mendengar suara dari Jihan. Amar yang saat itu kesal tiba tiba luluh dan ia terlihat sangat bahagia dengan kesadaran Jihan.


"Kamu sudah sadar Jihan?" tanya Amar dengan baik.


Mendengar seseorang bertanya kepadanya, Jihan pun berusaha melihat orang itu namun pandangan nya masih terlihat kabur. Ia kemudian melihat kearah sekitar ruangan dengan terus menetes bertanya tentang keberadaan nya. Dengan tenang dan santai, Amar pun menjelaskan kepada Jihan apa yang terjadi antara dirinya dan Juli. Ketika pandangan matanya sudah jelas ia melihat ke arah Juli, dan saat itu Juli yang sudah bisa duduk ia tersenyum kepadaku Jihan saat melihat Jihan sudah sadar.


Melihat hanya Amar dan Juli tidak ada ibunya, Jihan pun bertanya kepada Amar tentang ibunya. Amar yang mendengar hal itu ia pun terlihat sangat kesal dan marah. Karena ia sudah tidak bisa menguasai emosinya ia pun berusaha mencekik Jihan hingga membuat Jihan tidak bisa apa apa dan hanya bisa meronta ronta. Menyadari hal itu, Juli pun langsung mendorong Amar hingga membuat dirinya jatuh ke lantai. Amar yang melihat hal itu, ia langsung membangunkan Juli dan dirinya meminta maaf kepada Juli tentang tindakan yang ia lakukan kepada Jihan.


"Jangan pernah kamu menyakiti Jihan, kalau pun Jihan mencari ibunya biarkan saja jangan lakukan apapun kepadanya!. Kamu ingat hal itu," ucap Juli dengan tegas kepada Amar lalu ia melepaskan tangan Amat dengan kasar dan ia kemudian melihat keadaan Jihan, namun saat itu Jihan sudah baik baik saja.

__ADS_1


"Maafkan aku, Juli aku hanya tidak suka jika Jihan terus menyebut nama ibunya, itu saja!."


Mendengar perkataan itu, Juli pun hanya diam dan bersikap tidak peduli dengan Amar.


__ADS_2