
Setelah berbincang bincang dengan ibunya selama beberapa saat, akhirnya Juli pun memutus panggilan itu dan kembali menaruh ponsel Jihan di atas meja seperti awal dia saat mengambil ponsel itu.
Beberapa saat kemudian, polisi itu datang dan bertanya kepada Juli tentang orang yang menghubungi ponsel Jihan. Juli yang mendengar ucapan itu, Juli pun hanya diam seribu bahasa dengan tatapan mata kosong.
"Juli!" panggil polisi itu dengan memegangi salah satu bahu Juli untuk memecah lamunan Juli. Ketika lamunan Juli sudah terpecahkan dan ia kembali fokus kepada si polisi itu, dengan spontan Juli mengatakan kalau dirinya harus ke rumah ibunya. Mendengar ucapan itu, raut muka terkejut tergambar jelas di wajah polisi itu.
"Kamu jangan bodoh deh," ucap polisi itu dengan nada sedikit tinggi hingga membuat Juli terkejut. Melihat hal itu, Juli pun memegangi salah satu tangan si polisi itu dengan sangat erat dan ia kemudian menarik polisi itu keluar dari kamar Jihan. Saat ia dan polisi itu sudah berada di luar kamar, Juli melepaskan tangannya.
"Aku punya alasan untuk melakukan ini! Dan alasan ku tidak bisa aku jelaskan ke kamu!" jawab Juli dengan tegas kepada polisi itu.
"Apa pun alasannya, aku tidak pernah mengizinkan kamu untuk melakukan ini!."
Kemarahan polisi itu pun semakin memuncak, begitupula Juli yang juga tidak mau mengalah dengan si polisi itu. Ketika perdebatan antara Juli dan si polisi itu semakin memanas dengan melihat di balik salah satu dinding seseorang yang terlihat misterius tengah mengawasi perselisihan mereka. Setalah beberapa saat melihat perdebatan kedua orang itu, orang misterius itu pergi dari tempat ia sembunyi dan entah kemana ia pergi.
Hari pun semakin malam, saat itu terlihat Verdi masih di dalam penjara. Ia tengah duduk dengan luka yang sudah mengering dan tubuh yang terlihat lusuh dan kotor. Beberapa saat kemudian, salah satu polisi menghampiri Verdi dan memberi tahu Verdi kalau ada yang menjenguk dirinya. Mendengar hal itu, dengan lemah ia bangun dari duduk nya di lantai. Ketika ia berjalan menuju ke tempat pertemuan ia tiba tiba terjatuh, entah apa yang membuat dirinya seperti itu, menyadari hal itu polisi wanita yang saat itu melihat Jihan refleks dan bergerak seakan ingin membantu Verdi. Namun, saat itu ketika ia ingin melangkahkan kakinya, tangannya di pegang oleh polisi laki laki yang tak lain polisi yang mengintrogasi Verdi.
__ADS_1
Melihat tindakannya di hentikan oleh polisi laki laki itu, akhirnya polisi wanita itu pun hany diam dan berusaha untuk tidak membantu Verdi. Namun, saat itu tatapan wanita polisi itu terlihat sedih melihat Verdi.
Tak berselang lama, Verdi pun di bantu oleh polisi lain untuk bertemu dengan orang yang menjenguk dirinya. Ketika ia berada di rumah pertemuan, Verdi terlihat sangat terkejut karena ia melihat ibunya berada di kantor polisi untuk menjenguk dirinya. Melihat anaknya yang tidak berdaya dan lemah, Ibu Juli pun langsung meneteskan air mata dan memeluk erat Verdi.
"Apa yang terjadi dengan kamu Verdi?" tanya Ibu Juli kepada Verdi yang penuh dengan luka memar di area tubuhnya dan wajahnya.
Melihat kalau orang yang menjenguk dirinya adalah ibunya, Verdi terlihat sangat bahagia. Ia pun membalas pelukan ibunya dan memanggil ibunya dengan lirih di dekat telinga ibunya.
"Apa yang terjadi dengan kamu, Nak?" tanya Ibu Juli dengan deraian air mata terus membasahi pipinya.
Setalah mendengar pertanyaan itu, Verdi pun menceritakan apa yang terjadi dari awal hingga akhir, ia mengatakan kalau ia sudah membuang ayah tirinya ke sungai hingga ia berada di ruangan interogasi dan di tampar berulang kali oleh petugas yang mengintrogasi Verdi. Mendengar cerita dari Verdi , Ibu Juli pun juga terlihat sedih. Ia kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Verdi dan mengatakan kepada Verdi di dekat telinga Verdi.
"Apa maksud dari ibu?" jawab Verdi ia kemudian berhenti beberapa saat dan kemudian melanjutkan "apa..... Apa maksud ibu adalah Juli?" Verdi terlihat sangat bertanya tanya di dengan hal itu. Ia seakan menyimpan sebuah pertanyaan besar dibenaknya.
"Dia bukan Juli, Juli itu sudah mati. Yang ibu maksud..., adalah Jihan. Jihan itu adalah adik kamu, dia adalah kembaran dari Juli, namun dia tidak pernah tinggal dengan kita. Karena apa? Karena dia berada di panti asuhan di buang oleh ayah kamu!."
__ADS_1
Saat itu, Verdi hanya mendengar penjelasan dari ibunya dan tidak mengatakan sepatah katapun. Namun, tiba tiba salah satu polisi menghampiri Verdi dan ibunya untuk memberi tahu bahwa jam jenguk sudah selesai. Mengetahui hal itu, Verdi dan ibunya pun hanya saling tatap tatapan sebelum Verdi di bawa ke dalam sel.
Ketika Verdi sudah di bawa ke dalam sel tahanan. Dengan tatapan mata tajam dan penuh dengan hasrat. Ibu Juli berjanji kepada dirinya sendiri untuk menukarkan Verdi dengan Jihan.
Hari pun benar benar sudah malam. Saat itu, Ibu Juli berpikir kalau Jihan memang benar benar tengah menunggu temannya di rumah sakit. Dengan pedenya ia masuk ke dalam rumah dan mencari tombol lampu, saat ia sudah berada di dekat tombol lampu dan ia menekan nya hingga lampu menyala tiba tiba Ibu Juli terlihat masih tidak menyadari kalau Juli yang berpura pura sebagai Jihan sudah duduk di sofa dan terlihat tengah menunggu ibunya datang.
"Ibu! Dari mana saja?" tanya Juli yang berpura pura sebagai Jihan di rumah ibunya sendiri.
Mendengar suara dari Jihan, Ibu Juli pun langsung mengehentikan langkahnya dan dengan perlahan ia berbalik melihat ke arah Juli.
"Jihan!" ucap Ibu Juli dengan nada seperti terkejut melihat kehadiran Juli. "Bukannya kamu mau menunggu teman kamu yang ada di rumah sakit?" lanjut ibunya lagi dengan nada sedikit gugup melihat Juli yang di anggapnya Jihan.
Mendengar ucapan itu, Juli pun bangun dari duduknya di sofa yang ia duduki. Saat ia bangun dari duduknya, ia terlihat memegangi perutnya yang terluka, namun saat itu Ibu Juli tidak menyadari kalau orang yang ia anggap Jihan adalah Juli. Ketika ia sudah bangun dari duduknya, ia menghampiri ibunya yang berdiri di dekat tombol lampu. Ketika ia sudah berada di hadapan ibunya, Juli terlihat menatap tajam mata ibunya.
"Ada apa Ibu? Kenapa ibu seperti orang yang gugup?" tanya Juli dengan nada serius kepada ibunya, tanpa memalingkan wajahnya dari wajah Juli.
__ADS_1
"Ibu tidak gugup, ibu hanya bahagia karena ternyata kamu pulang dan tidak menunggu teman kamu lagi. Ya sudah kalau begitu, ibu masuk ke kamar ibu dulu ya," jawab Ibu Juli dengan santai lalu ia tersenyum kepada Juli yang dia anggap sebagai Jihan.
Setelah mengatakan hal itu, Ibu Juli pun benar benar pergi dari tempat itu dan menuju ke kamarnya. Melihat hal itu, Juli pun hanya menatap ibunya yang pergi menjauhi pandangan matanya.