Reinkarnasi

Reinkarnasi
Part 76 Pencarian


__ADS_3

"Kalau memang Juli dan Jihan adalah orang yang berbeda, maka kita harus cari tahu mereka berdua. Jalan satu satunya kali ini hany lah orang yang melarikan diri waktu itu. Apakah bapak tahu tentang orang itu?" tanya Verdi kepada polisi yang mengintrogasi dirinya.


Mendengar pertanyaan itu, polisi itu hanya diam dengan ekspresi muka yang terlihat seperti orang tengah memikirkan sesuatu dan ia melamun, entah kenapa polisi itu tiba tiba melamun setelah mendengar tentang polisi yang menjadi anak buah Juli.


Menyadari hal itu, Verdi pun memegangi salah satu bahu si polisi itu untu memecah lamunannya.


"Ada apa Pak?" tanya Verdi untuk memecah lamunannya.


"Iya, kamu tanya soal polisi itu ya! Ya saya tahu!" jawab polisi itu dengan nada tergesa gesa seperti menyembunyikan sesuatu tentang si polisi itu.


Setelah itu ia pergi dari kumpulan itu dan menuju ke ruangan nya, untuk mencari tahu tentang polisi itu. Saat ia sudah berada di dalam ruangan nya, polisi itu tiba tiba memukul meja yang ada di ruangan itu dan menghancurkan barang-barang yang ada di ruangannya hingga membuat suara kemarahannya terdengar sampai ke luar ruangan nya.


Ia kemudian mengambil sebuah foto yang berada di atas meja dengan sangat marah besar dan penuh dengan emosi, namun saat itu tidak tampak foto itu foto apa, yang jelas foto itu adalah foto yang menjadi kenangan antara polisi yang mengintrogasi Verdi. Ia kemudian menghantamkan foto itu dengan posisi terbalik, hingga membuat foto itu sama sekali tidak terlihat gambarnya.

__ADS_1


"Aaaaaa" teriak polisi yang mengintrogasi Verdi dengan sangat keras dan penuh emosi.


Beberapa saat kemudian, polisi itu keluar dengan membawa sebuah berkas yang berisi tentang data diri dari Amar, polisi yang menjadi anak buah Juli dan polisi yang mengintrogasi Verdi bernama Handi.


Setelah ia keluar dengan membawa berkas, Handi pergi dari kantor polisi dan sebelum dirinya pergi ia meminta salah satu cleaning servis merapikan ruangannya yang sudah ia buat seperti kapal pecah.


"Ini adalah biodata milik orang itu! " ucap Handi lalu ia memberikan dokumen itu kepada Verdi dan Verdi menerima dokumen itu dari si polisi itu. Setelah itu polisi itu pergi.


Ketika Handi sudah pergi, Verdi dan yang lainnya membuat tentang data diri dari polisi itu. Di saat ia membuka dokumen itu, ia melihat nama, alamat dan beberapa hal lainnya bahkan juga tercantum nomor dari ponsel polisi yang bernama Amar.


Ketika Verdi mendapatkan izin, dengan raut muka bahagia dirinya berterima kasih kepada polisi itu. Dan setelah itu ia langsung masuk ke dalam ruangan komunikasi.


Ketika ia berada di dalam ruangan komunikasi, Verdi mulai mengetik nomor yang tertera di dokumen itu, namun nomor itu tidak bisa di hubungi dan Verdi merasa kalau nomor itu memang sudah lama tidak di gunakan.

__ADS_1


Menyadari hal itu, Verdi pun keluar dari ruangan itu dengan kesal dan marah karena nomor itu tidak bisa di hubungi.


Pada saat ia berada di luar kamar, Ibu Juli langsung menghampiri Verdi dan bertanya kepada Verdi tentang nomor itu. Namun, Verdi mengatakan kalau nomor itu tidak bisa di gunakan.


"Verdi, gimana? Apa kamu bisa menghubungi nomor itu?" tanya Ibu Juli dengan raut muka berharap kalau nomor itu dapat di hubungi. Namun, Verdi tidak menjawab sepatah katapun, ia hanya menggelengkan kepalanya sebagai tanda tidak atau tidak bisa. Melihat gelengan kepala Verdi, Ibu Juli pun sadar kalau nomor itu tidak bisa di hubungi oleh Verdi. Ibu Juli pun langsung sedih, karena ia merasa kalau harapannya untuk bertemu dengan Jihan akan sia sia.


Namun, saat itu Verdi membantah apa yang di ucapkan oleh ibunya dimana dirinya masih memiliki alamat tempat tinggal si polisi itu. Mendengar hal itu, Ibu Juli merasa ada harapan untuk melihat Jihan dan Juli dan memeluk mereka.


Di rumah sakit terlihat Juli dan Jihan masih terbaring lemah di rumah sakit, beberapa saat kemudian terlihat polisi yang menjadi anak buah Juli berjalan mendekati Jihan dan Juli dengan beberapa luka di beberapa area tubuhnya. Ia kemudian berjalan dan menghentikan langkahnya di samping Juli, lalu ia duduk di kursi yang ada di samping tempat tidur Juli. Saat itu Amar tengah memegangi salah satu tangan Juli dengan penuh perhatian, saat itu mata Amar terlihat sedih. Matanya memerah dan di penuhi oleh air mata.


"Juli, aku mohon. Kamu harus segera pulih, balas dendam ini tidak akan berhasil jika kamu terus terusan seperti ini, aku mohon dengan kamu tolong kamu segera pulih!" ucap Amar dengan mata merah dan seolah olah menahan kesedihan di matanya.


Saat itu tidak ada respon dari Juli, hal itu terjadi karena Juli tengah dalam masa koma. Namun saat itu, Juli membalas pegangan tangan Amar dengan sengat erat. Merasakan hal itu, Amar sempat terkejut selama beberapa saat, namun setelah dirinya terkejut Amar kembali sedih.

__ADS_1


"Aku tahu kamu dapat mendengar diri ku, aku tahu kamu dapat merasakan kehadiran ku, maka dari itu aku mohon sama kamu. Tolong, tolong segeralah pulih, kita harus balas dendam. Kita harus segera menyelesaikannya," ucap Amar setelah dirinya menerima balasan pegangan tangan Juli dengan sangat erat. Saat itu ia sedikit melempar senyuman kecil ke Juli setelah dirinya menyadari kalau Juli dapat merasakan kehadirannya.


__ADS_2