Reinkarnasi

Reinkarnasi
part 60 Rencana Ibu Juli


__ADS_3

Hari pun benar benar sudah larut malam, saat itu Juli terlihat baru saja masuk ke dalam kamarnya dan dengan perlahan ia berjalan menuju ke tempat tidurnya dengan sesekali memegang luka di perutnya. Saat Juli baru duduk di tempat tidur dan menaruh ponselnya di atas meja kecil di dekat tempat tidurnya. Ketika Juli ingin pergi dan tidur, ponselnya tiba tiba berbunyi. Mendengar ponselnya berbunyi, dengan perlahan Juli pun menghampiri ponselnya dan mengangkat panggilan itu.


"Gimana kabar kamu?" tanya polisi dengan duduk di atas sofa yang tidak jauh dari tempat tidur yang di tempati oleh Jihan. Saat itu terlihat Jihan sangat terlelap dalam tidurnya.


"Aku baik baik saja, hanya...., Perutku sedikit sakit!" jawab Juli dengan baik lalu ia melanjutkan "tapi tenang saja, aku baik baik saja. Lalu gimana keadaan Jihan?"


"Dia baik baik saja, hanya saja aku sedikit sedih. Terutama melihat ada bahaya di depan mata kamu Juli," jawab polisi itu dengan raut muka yang memang tampak sedih dengan semua kejadian yang terjadi.


Mendengar ucapan itu, Juli pun hanya diam selama beberapa saat. Ia kemudian mengatakan dengan lirih.


"Jangan khawatir, semuanya akan baik baik saja. Aku hanya ingin kamu untuk menjaga diri dan menjaga Jihan, jangan pedulikan aku!."


Setelah mengatakan hal itu, Juli pun memutuskan panggilan itu. Dan ia menaruh ponselnya kembali di atas meja yang tidak jauh dari dirinya. Ia kemudian membaringkan tubuhnya untuk mengistirahatkan dirinya. Saat ia sudah beristirahat dan sudah terlelap dalam tidurnya, tiba tiba terlihat dua orang dengan penampilan seorang maling berjalan masuk ke kamar yang di tempati oleh Juli.


Saat kedua orang itu sudah berada di dalam kamar Juli dan berada di dekat Juli, salah satu orang itu memberi kode kepada orang lain yang menjadi komplotannya untuk mendekap JuliĀ  dan membawa Juli pergi. Ketika apa yang di kodekan oleh kedua orang itu di lakukan, Juli pun langsung terbangun dari tidurnya dan meronta ronta untuk berusaha melepaskan dirinya sendiri, namun merasa Juli akan bisa melepaskan dekapan itu. Salah satu orang itu pun mengambil sebuah lampu tidur yang berada tidak jauh dari Juli. Setelah itu, ia memukulkan lampu itu ke kepala Juli hingga Juli pingsan dan kepalanya mengeluarkan sedikit noda darah.

__ADS_1


Menyadari kalau Juli sudah pingsan dan tidak sadarkan diri, kedua orang itu pun membawa Juli pergi dari tempat itu dan entah kemana kedua orang itu membawa Juli pergi.


Keesokkan harinya dengan keadaan luka di kepalanya dan kedua tangannya di ikat di sebuah kursi dengan sebuah tali, dengan perlahan Juli membuka matanya. Dengan sesekali dirinya mengeluhkan sakit di kepala dan perutnya.


Saat itu, keadaan sangat sunyi. Sekitar tempat itu terlihat sangat gelap, hanya terlihat sebuah lampu tepat berada di atas tubuhnya Juli. Menyadari kalau dirinya di sandra oleh seseorang dan di letakkan di tempat itu, Juli pun langsung terlihat kesal dan ia berusaha untuk melepaskan tangannya namun ketika ia sedang berusaha melepaskan tangannya yang di ikat dengan tali. Tiba tiba dirinya mendengar sebuah suara langkah kaki dari kegelapan. Mendengar hal itu, Juli pun langsung diam dan menatap tajam suara itu.


Ketika Juli merasa langkah itu sudah sangat dekat dengan dirinya, tiba tiba orang itu menghentikan langkahnya dan di saat bersamaan lampu lampu pun menyala dengan terang. Saat lampu sudah menyala, Juli terlihat sangat terkejut, karena ia melihat seorang wanita dengan pakaian serba hitam berdiri di hadapannya dengan membawa balok kayu di tangannya. Melihat hal itu, Juli hanya menatap orang itu dengan tajam dan penuh dengan amarah, namun saat itu ia tidak mengatakan sepatah kata pun kepada orang itu ia hanya menatap orang itu dengan penuh kemarahan.


Beberapa saat kemudian, orang itu membuka penutup mukanya hingga membuat Juli terlihat sangat terkejut dan sangat kesal dimana dirinya melihat ibunya berdiri di hadapannya dengan membawa sebuah balok kayu di tangannya.


Mendengar pertanyaan itu, ibunya Juli pun mendekati Juli dan dengan serius ia menatap wajahnya Juli.


"Kenapa Jihan? Apa kamu terkejut dengan ibu yang melakukan ini? Jihan, kamu harus terbiasa dengan sikap ibu yang seperti ini. Asal kamu tahu, ibu itu tidak pernah menyayangi kamu yang ibu sayangi hanya Sista dan Verdi, namun..., " ucap Ibu Juli lalu ia menjauhi wajah Juli, melihat hal itu Juli terlihat sangat kesal terutama saat dirinya mendengar perkataan ibunya.


"Namun, ibu tidak bisa apa apa. Karena apa?" lanjut Ibu Juli, lalu ia berbalik dan menghampiri Juli dan mendekatkan wajahnya dengan kedua tangan berada di pipinya. Saat itu, Ibu Juli memegangi wajah Juli dengan sangat erat. "Karena kamu sudah merenggut hidup ibu!. Kamu sudah membunuh, Sista dan suami ibu. Sekarang Verdi masuk ke kantor polisi pun juga karena kamu. Tapi, tidak lagi. Tidak lagi aku biarkan kamu menyakiti keluarga ku," ucap lanjut Ibu Juli dengan membuang wajahnya Juli seperti membuang sampah. Saat itu Juli terlihat sangat marah dan kesal dengan ibunya, ia hanya memandang ke arah ibunya dengan raut muka marah bercampur sedih.

__ADS_1


"Lalu apa yang ibu inginkan dari ku?" jawab Juli dengan nada serius.


"Ibu akan beri tahu kamu tentang apa yang ibu inginkan, tapi sebelum itu, ibu akan menjelaskan ini tentang perasaan ibu. Ibu tidak pernah sayang dengan kamu, begitu pula dengan kakak kamu. Semua yang ibu lakukan selama ini hanya untuk ke pura pura saja, kamu paham."


Mendengar ucapan itu, Juli semakin marah dan kesal. Jiwa iblis nya terlihat muncul dan ia seakan ingin menghabisi ibunya. Ia meronta ronta melepaskan dirinya dari ikatan itu dengan sesekali memanggil manggil ibunya dengan penuh amarah dan kekesalan, namun ibunya justru memukul Juli lagi dengan balok kayu itu hingga membuat kepala kembali mengeluarkan darah. Menerima pukulan itu, Juli langsung diam dan dirinya seakan lemas tak berdaya. Matanya melirik ke arah ibunya dengan penuh emosi dan kemarahan yang sangat luar biasa.


Setelah memukul Juli dengan balok itu, Ibu Juli menjatuhkan balok kayu itu ke lantai dan ia terlihat sedih dengan apa yang ia lakukan.


"Maaf Jihan, maafkan ibu. Ibu melakukan itu dengan tidak...., Ups, ibu melakukan ini dengan sengaja," ucap ibunya lalu ia mendekatkan wajahnya ke wajah Juli lagi. "Apa yang aku lakukan tidak akan sebanding dengan apa yang kamu lakukan dengan keluarga ku!."


Mendengar ucapan itu, Juli pun hanya diam. Ia tiba tiba mengepalkan tangannya dengan penuh amarah.


"Jadi ini rencana ibu yang sebenarnya! Ibu hanya memanfaatkan aku untuk membebaskan Verdi!. Kalau memang ibu melakukan hal ini, maka siap siap saja Verdi akan mati seperti Sista dan si supir bajingan itu."


Mendengar ucapan itu, Ibu Juli terlihat sangat marah dan dengan sekuat tenaga ia menampar Juli hingga Juli memalingkan wajahnya dari hadapan ibunya. Saat itu nafas ibunya terlihat naik turun tidak beraturan.

__ADS_1


__ADS_2