
"Menjauh dari pisau itu Juli, kalau tidak....," ucap Handi dengan mengarahkan pistolnya ke arah Juli yang masih terlihat tidak mempedulikan Handi.
"Kalau tidak apa?" jawab Juli dengan tatapan mata tajam dan bernada serius. Namun, saat itu dirinya masih belum melihat ke arah Handi.
Mendengar ucapan itu, Handi pun terlihat mulai ragu untuk melanjutkan apa yang di ucapkan olehnya. Saat itu ia hanya diam dengan tatapan mata yang terlihat ragu. Juli yang melihat kalau Handi tidak menjawab ucapan nya, ia pun akhirnya murka dan dengan perlahan tanpa di sadari oleh Handi, ia mengambil salah satu pisau yang ada di atas nampan itu. Beberapa saat kemudian, ia langsung memukul nampan itu hingga membuat pisau pisau yang ada di atas nampan itu jatuh ke lantai semuanya.
Setalah itu ia berbalik melihat ke arah Handi dan dirinya terlihat sangat marah dan sedih yang menjadi satu.
"Jawab aku Handi! Kalau aku tidak menjauh dari pisau pisau ini ala yang ingin kamu lakukan?" tanya Juli dengan nada marah dan tinggi. Saat itu sebuah pisau yang terlihat mengkilap dan sangat tajam berada di tangan Juli.
Saat itu Handi pun terlihat tidak bisa apa apa. Melihat hal itu, Verdi pun dengan perlahan mendekati Juli dan berusaha untuk menenangkan Juli, namun saat Verdi baru melangkah kan kakinya menuju ke Juli. Mata Juli pun terlihat langsung tertuju ke arah Verdi.
"Kamu mau kemana Verdi? Kamu ingin mencoba menenangkan aku?" ucap Juli lalu ia berhenti beberapa saat bersamaan dengan langkah Verdi yang juga terhenti. Melihat kalau Verdi tidak jadi mendekati dirinya, Juli pun melihat pisau yang ia pegang dengan pandangan mata yang terlihat sedih bercampur dengan marah.
"Sangat tajam sekali pisau ini!" ucap Juli sambil membulak balikan pisau yang ia pegang.
Mendengar hal itu, Jihan yang saat itu tengah di peluk ibunya. Ia pun akhirnya melepaskan pelukannya dan meminta Juli untuk memberikan pisau itu kepada dirinya, namun saat itu Jihan tidak berani mendekati Juli karena sikap Juli. Juli yang melihat permintaan Jihan, ia hanya pasrah dengan sang adik namun saat ia ingin menaruh pisau itu dengan tatapan mata yang serius mengarah ke arah Handi dan Verdi, Juli pun berkata dengan tegas.
__ADS_1
"Jihan, aku akan memberikan kamu pisau ini asal kamu kembali kemari"
Jihan yang mendengar hal itu pun hanya diam dan ia menggeleng kan kepalanya. Permasalahan pun semakin memuncak di mana saat itu, tiba tiba terdengar suara tembakan dari salah satu anak buah Handi. Tembakan itu di arahkan langsung ke Juli, namun untung lah saat itu Juli berhasil lolos dan menghindar dari tembakan itu walaupun salah satu peluru dari pistol mengenai salah satu tangan nya.
Pada saat mendengar suara tembakan di ruangan itu, semua orang yang berada di dalam ruangan itu tampak terlihat sangat terkejut dan panik.
Saat itu, suasana tegang berubah menjadi kepanikan, Jihan dan Amar langsung menghampiri Juli yang menerima tembakan itu sedangkan orang orang yang lainnya dirinya terlihat sibuk menangkap anak buah Handi yang menembak Juli.
Setelah menembak tangan Juli, orang yang berpura pura menjadi anak buah Handi pun kabur dari ruangan itu.
Waktu itu, erangan sakit dan marah terdengar keluar dari mulut Juli. Pisau yang saat itu di pegang erat di tangannya pun terlepas dari tangan Juli, dokter yang saat itu berada jauh dari Juli. Melihat Juli terluka ia pun langsung menghampiri Juli dan mengobati tangan Juli yang terluka.
Wajah panik dan khawatir terlihat tergambar jelas di wajah Amar dan Jihan, tidak hanya mereka berdua Ibu Juli pun juga terlihat khawatir dengan yang terjadi kepada anaknya yang ia kira sudah mati.
Saat Juli sedang di obati oleh dokter, Juli menggeliat liat kesakitan dan dirinya tidak bisa menguasai dirinya.
Beberapa saat kemudian, Handi dan Verdi pun berhasil menangkap orang itu dan dirinya membawa orang itu ke dalam kamar yang di tempati oleh Juli. Saat itu orang itu hanya diam, dengan kepala yang menunduk dan ia terlihat sangat ketakutan.
__ADS_1
Menyadari kalau orang yang berpura pura menjadi anak buah Handi sudah tertangkap, Amar pun bangun dan dirinya langsung menarik kerah laki laki itu dan memukuli laki laki itu hingga babak belur.
Ketika laki laki yang menembak Juli sudah tidak berdaya, dengan sangat marah dan penuh amarah, Amar mengangkat tubuh orang itu dan menatap tajam orang itu bah singa yang ingin menerkam mangsanya.
"Siapa yang menyuruh kamu melakukan ini?" tanya Amar kepada laki laki yang sudah tidak berdaya itu dengan raut muka yang sangat marah dan bernada tinggi.
Saat itu, laki laki itu masih saja tidak mengatakan sepatah katapun. Melihat hal itu, Handi dan Verdi pun hanya diam dan tidak melerai Amar dengan laki laki itu.
Amar yang sudah tersulut emosi, dan di tambah lagi laku laki itu tidak mengatakan siapa yang menyuruh dirinya akhirnya ia pun bertambah murka dan di hadapan para polisi dan orang orang yang lainnya Amar pun membenturkan kepala laki laki ke dinding hingga membuat laki laki itu benar benar tidak berdaya dan sekarat.
Melihat hal itu, Amar pun kembali mendekati laki laki itu dan kembali bertanya kepada laki laki itu dengan pertanyaan yang sama. Merasa dirinya sudah tidak berdaya dan tidak mempunyai tenaga lagi, laki laki itu pun menunjukkan Ibu Juli.
Menyadari kalau laki laki itu masih kuat menunjuk, Amar dan yang lainnya pun melihat ke arah telunjuk laki laki itu dan betapa terkejutnya Jihan dan orang orang yang lain karena laki laki yang berusaha menembak Juli adalah suruhan dari ibunya.
Melihat hal itu, secara seketika semua orang terdiam dan tidak mengatakan sepatah katapun. Menyadari kalau Ibu Juli adalah pelaku dari penembakan Juli, Amar pun menghampiri Ibu Juli setalah dirinya melepaskan laki laki itu ke lantai. Di saat bersamaan, Jihan yang saat itu tengah duduk di dekat Juli yang baru tertembak, ia pun bangun dan juga menghampiri ibunya dengan memperlihatkan ekspresi muka yang tidak percaya dengan apa yang di lihatnya.
Saat itu, Ibu Juli mengelak atas tuduhan yang di luncurkan kepada dirinya. Selain itu, Verdi yang merasa kalau ibunya memang tidak bersalah akhirnya ia pun membela Ibu Juli dan berdiri di hadapan Ibu Juli untuk melindungi Ibu Juli dari Amar. Amar yang melihat hal itu langsung menghentikan langkahnya begitu pula Jihan.
__ADS_1