
Akhirnya pertempuran yang
sangat sengit itu di menangkan
oleh pasukan peri.
Kabar bahagia ini pun sudah samapai
ke istana kerajaan peri, Sang kaisar
sangat senang begitu mendengar
kabar kemenagan ini, terlebih lagi
pangeran Hai fengsi telah
kembali bergabung bersama
pasukannya dan membawa
bala bantuan yang tidak pernah
ia duga duga.
Kali ini para pasukan peri
akan di sambut dengan meriah
oleh sang kaisar, kaisar pun
memerintahkan penasehatnya
untuk mengadakan pertemuan
di istana.
"Perhatian perhatian kaisar akan
segera memasuki istana" ucap
dari seorang pengin struktur.
Para kandidat di istana pun
memberikan hormat kepada
kaisar.
"Duduk lah, aku rasa kalian sudah
mengetahui bahwa putraku Hai fengsi
dan para pasukannya, telah berhasil
memenangkan pertempuran, dan
aku ingin menyambutnya dengan
sangat meriah, lebih megah dari
pesta biasanya, kali ini harus
spesial. " ucap sang kaisar dengan
hati yang sedang bahagia.
"Baik yang mulia, sesuai perintah mu
kami akan menyiapkan nya. "
Persiapan penyambutan pun mulai
di lakukan, dengan berbagai tugas
di kerjakan di saat itu, di waktu yang
bersamaan di sebuah kamar yang
sunyi sulin duduk di sebuah kursi
sambil memegang jarum dan benang
ingin mebuat sebuah syal hangat
nampak nya ia sedang merenung
entah memikirkan apa, sambil
menjahit pakaian ia terus melanjutkan
__ADS_1
pekerjaannya itu, tiba tiba terdengar
suara dari luar kamar, membuka pintu
dan ternyata,
"Bibi lin, aku kira siapa tadi, bibi
mengagetkan ku saja, tapi ada
apakah gerangan bibi lin
datang kemari. " ucap sulin
bertanya ke pada bibi lin.
"Bibi mau kasih tau kalau
pangeran Hai fengsi telah
kembali ke pada pasukan
dan berhasil memenangkan
pertempuran non. " sahut bibi lin
sambil tersenyum.
"Apa... bibi serius, bibi lin
tidak berbohong kan. " sambar sulin
dengan raut muka yang setengah
tidak percaya.
"Iya non, pangeran sendiri yang
menyampaikannya, melalui
burung elang hitam, pangeran bilang
jangan khawatir karena pangeran
baik baik saja, ini surat nya ada
di tangan bibik non, non sulin
sambil menyerahkan isi surat
yang Hai fengsi kirim.
"Sulin aku kembali dengan selamat
berkat baju zirah buatan mu ini, aku
terlindungi dari serangan musuh,
terimakasih karena sudah perhatian
pada ku dan kau tidak perlu khawatir
karena aku baik baik saja, tunggu
aku pulang, sulin tersayang. " tulis
Hai fengsi di surat tersebut dengan
penuh cinta kasih.
Sulin tersenyum ketika membaca
isi surat tersebut ia tidak sadar bahwa
senyumnya itu menandakan cinta nya
sangat dalam pada Hai fengsi, bibi lin
paham akan hal itu dan mengatakan.
"Non kalo pangeran ada di sini
pasti non sulin akan lebih bahagia
lagi, bibi do'ain kalian akan jadi
pasangan yang tidak akan
pernah terpisahkan meskipun
__ADS_1
di antara kalian ada yang mati
percayalah kalian akan
ber reinkarnasi kembali
demi kembali bersama
untuk selamanya. " dengan wajah
yang tersenyum tulus.
"Makasih banyak bibi lin,
selama pangeran tidak ada
di sini, bibi lin yang selalu ada
buat sulin ngebantuin sulin
dari kesulitan, bibi jangan
bosan bosan ya sama sulin,
karena sulin bakalan masih
terus ngetepotin bibi lin. " gurau
sulin pada bibi lin sambil tersenyum.
"Non sulin bisa aja". sahut bibi lin
sambil tertawa.
Dari tempat yang berbeda
di sebuah taman yang indah,
ratu chuan Yun yang sedang menikmati
secangkir teh, ia menyuruh para
pelayannya untuk segera menyiapkan
hadiah untuk anak nya Hai fengsi,
sambil menyeruput teh hangat ia
mengatakan.
"Dia memang tidak pernah
mengecewakan ibu nya, tapi
selalu saja membuat ku khawatir
aku tidak bisa tidak menyiapkan kan
hadiah untuk nya. " ucap ratu chuan Yun
kepada pelayan kepercayaan nya,
chang ze bagai mana menurut mu
hadiah apa yang kiranya tepat untuk
ku berikan.
" jawab yang mulia ratu, aku rasa
hadiah yang tidak ternilai adalah
sebuah pasangan hidup untuk
pangeran Hai fengsi, beliau
sudah cukup umur untuk
mempunyai seseorang
yang bisa mendampinginya,
bagai mana pendapat yang
mulia ratu. "
"Aku rasa itu juga bukan
pilihan yang buruk. " jawab
__ADS_1
ratu chuan Yun kepada
pelayan kepercayaan nya.