
Ketika mereka semua sudah berada di dalam mobil polisi, Verdi yang saat itu duduk di samping Handi pun dirinya memberi tahu Handi kalau dirinya melihat seseorang misterius dengan pakaian serba hitam berdiri di dekat gerbang dan seolah olah tengah mengawasi dirinya yang datang ke rumah Amar, mendengar cerita itu Handi hanya diam dengan pandangan mata melihat ke arah wajah Verdi.
Setelah menceritakan panjang lebar kepada Handi, Verdi pun akhirnya menghentikan selesai menjelaskan penjelasannya.
"Pak Handi, apa orang yang saya lihat tadi adalah Amar?" tanya Verdi kepada Handi. Mendengar pertanyaan itu, Handi pun tiba tiba diam selama beberapa saat setelah itu ia memimpin semua anak buahnya, kembali turun dari mobil dan mencoba mencari seseorang yang di maksudkan oleh Verdi.
Setelah keluar dari mobil Verdi dan Handi pun saling berpencar, berpisah jalan untuk mencari keberadaan dari orang misterius itu.
Ketika mereka sudah berpencar untuk mencari orang itu, Verdi dan Handi kembali bertemu di titik awal mereka berdiri. Hal itu terjadi karena Verdi dan Handi tidak menemukan orang yang di maksud oleh Verdi.
Menyadari kalau Verdi dan Handi tidak menemukan apa apa di tempat itu akhirnya mereka pun memilih untuk pergi dari rumah Amar.
Ketika Verdi dan Handi kembali masuk ke dalam mobil polisinya dari dalam rumah, Ibu Amar membuka sedikit gorden kaca yang menutup kaca depan di dekat pintu. Saat itu ia melakukan hal itu karena ia ingin melihat Handi dan Verdi pergi dari rumahnya.
Melihat Verdi dan Handi pergi dari rumah nya, Ibu Amar hanya menggeleng kan kepalanya dengan memberi sedikit senyuman jahat kepada mereka. Tak berselang lama, ia pun menutup gorden itu dan pergi dari dekat jendela itu.
Di rumah Ibu Juli, Dokter Ziya dan Ibu Juli tengah duduk berhadapan hadapan di ruang tamu rumah Ibu Juli.
__ADS_1
"Dokter Ziya, bolehkah saya tanya sesuatu ke dokter?" tanya Ibu Juli kepada Dokter Ziya.
Mendengar hal itu, Dokter Ziya pun. Menganggukkan kepalanya dengan perlahan lalu ia tersenyum kecil di bibirnya.
"Ibu mau tanya apa?" jawab Dokter Ziya dengan santai dan sopan.
" Kenapa Dokter mengatakan kalau Juli masih hidup? Dan kenapa juga Dokter mengatakan semua kebenarannya di hadapan Pak Handi?" tanya Ibu Juli kepada Dokter Ziya dengan raut muka sedikit heran.
"Apa yang harus saya jelaskan lagi? Kebenaran harus di ungkapkan!. Bahkan, saya pun tahu kalau Juli itu meninggal karena pembunuh, tapi dia sangat beruntung karena dia bisa hidup kembali!."
Melihat Ibu Juli langsung pergi dari hadapan nya setelah mendengar perkataan dari Dokter Ziya, saat itu pandangan mata Dokter Ziya pun terlihat hanya mengikuti setiap langkah yang di ambil oleh Ibu Juli yang meninggalkan dirinya di ruang tamu.
Saat Ibu Juli sudah berada di dapur, nafasnya naik turun tidak beraturan. Ia terlihat sangat gelisah, nafasnya sangat tidak bisa di kontrol. Ia kemudian mengambil segelas air minum untuk ia meminum. Ketika ia sudah mengambil air minum, seperti orang yang baru saja bertemu dengan hantu, tangannya sangat gemetar dan sesekali ia menelan ludahnya sendiri.
"Apa Dokter Ziya tahu tentang pembunuhan yang aku lakukan kepada Juli?" tanya Ibu Juli kepada dirinya sendiri dengan ekspresi muka yang terlihat sangat ketakutan dan tidak karuan.
"Bagaimana kalau Dokter Ziya memang benar benar tahu, kalau aku dan Verdi lah yang membunuh Juli? Bagaimana? Apa yang akan terjadi?" ucap Ibu Juli dengan raut muka masih khawatir dan masih belum tenang.
__ADS_1
Ketika merasa Ibu Juli membuat kopi terlalu lama, akhirnya Dokter Ziya pun memanggil Ibu Juli dengan perlahan. Mendengar panggilan itu, Ibu Juli punĀ langsung bergegas menghidupkan kompornya dan mulai memasak air.
Beberapa saat kemudian, Ibu Juli pun terlihat sudah mulai tenang. Ia terlihat keluar dari dapur dengan membawa sebuah nampan yang berisi dengan dua cangkir kopi.
"Maafkan saya Dokter, kalau saya terlalu lama membuat kopi nya!."
"Tidak papa ibu," jawab Dokter Ziya lalu ia tersenyum kepada Ibu Juli dan setalah itu Ibu Juli menaruh satu cangkir kopi itu di hadapan Dokter Ziya dan satu cangkir kopi lain di hadapannya. Setalah itu ia kembali masuk ke dalam dapur untuk menaruh nampan yang ia pakai.
"Silakan Dokter minum," pinta Ibu Juli dengan baik lalu ia melempar senyuman kecil di bibirnya. Mendengar permintaan dari Ibu Juli, Dokter Ziya pun mengambil cangkir kopi itu dan meminum seseruput kopi yang ada di cangkirnya.
"Huuuh, tenang saja Ibu. Saya tidak akan memberi tahu siapa pun rahasia Ibu kepada orang orang. Saya akan membiarkan dia yang membongkar rahasia yang ibu simpan selama ini!" ucap Dokter Ziya hingga membuat Ibu Juli tersedak oleh kopi yang ia minum.
"Siapa yang Dokter Ziya maksud?" tanya Ibu Juli dengan nada kebingungan.
"Saya tidak akan memberi tahu Dokter, tapi yang jelas, Ibu akan mengetahuinya sebentar lagi!."
Mendengar hal itu, Ibu Juli pun hanya diam dan tidak bisa berkata kata. Berbeda dengan Ibu Juli yang terlihat khawatir, Dokter Ziya justru terlihat sangat sangat dan menikmati minuman kopi yang di buat oleh ibu Juli.
__ADS_1