
Melihat kepedulian ibunya ke orang itu, Verdi terlihat kebingungan. Saat Ibu Juli sudah selesai mengobati tangan orang itu dan membungkus lukanya dengan sebuah perban. Tiba tiba orang itu menghentikan tindakan Ibu Juli dengan mengatakan hal yang membuat Ibu Juli sangat terkejut.
"Kenapa Ibu peduli dengan ku? Bukannya Ibu bahagia kalau aku meninggal, Ibu bisa mendapatkan semua harta ku.
Mendengar ucapan itu, Ibu Juli pun langsung menghentikan tindakannya dan terlihat diam dengan pandangan mata yang terus melihat ke arah orang itu.
"Untuk apa Ibu mengobati luka kecil ini, sedangkan Ibu membuat luka yang sangat besar di hidup ku!. Bahkan, kalau pun Ibu ingin mengobati luka yang satu ini, Ibu tidak akan pernah bisa" lanjut orang itu dengan mata memerah dan berkaca kaca. Setalah mengatakan hal itu orang itu menjauhi Ibu Juli dengan melepaskan perban yang sudah dililitkan oleh Ibu Juli ke tangan orang itu.
"Kalau kamu memang Juli, Ibu mohon tolong turuti Ibu. Ibu tidak ingin kehilangan kamu lagi," ucap Ibu Juli dengan raut muka sedih dan mata yang di penuhi oleh air mata.
"Untuk apa Ibu menangis? Untuk apa?" jawab orang itu dengan nada serius dan tatapan mata yang tajam menatap mata ibunya yang di penuhi oleh air mata.
Ia kemudian mengepalkan tangannya dengan penuh emosi dan kemarahan. Ia terlihat terus menatap tajam ibunya dengan mata yang memerah dan setetes demi setetes mengeluarkan air mata di matanya.
"Kenapa? Kenapa ketika aku sudah hidup kembali, Ibu justru menangisi aku?" jawab orang itu dengan nada tinggi dan emosi yang seakan sudah berada di puncak, lalu ia menurunkan nada bicaranya dan memegangi kedua lengan ibunya "dulu Ibu dimana? Dimana? Ibu justru menyakiti aku, tidak hanya Ibu, semua orang kenapa menyakiti aku? Dan Ibu tidak peduli dengan hal itu!."
"Maafkan Ibu, Ibu benar benar minta maaf!."
"Kenapa aku muak dengan maaf yang Ibu katakan? Maaf dari seorang pembunuh adalah sebuah kebohongan!. Iya kan, Ibu ku sayang?" jawab orang itu dengan nada serius dan tegas.
Mendengar ucapan itu Verdi yang saat itu mendengar ucapan itu, ia terlihat sangat marah dan membentak orang itu dengan menyebut nama Juli dengan lantang.
__ADS_1
Mendengar teriak dari Verdi, orang itu terlihat melepaskan tangannya dengan mendorong Ibu Juli dengan kasar. Melihat hal itu Verdi pun terlihat semakin marah dan emosi. Ia menghampiri orang itu dan memegangi salah satu bahu orang itu dengan sangat erat.
Menyadari bahunya di pegang oleh Verdi dengan sangat erat, orang itu menghapus air matanya. Tatapan mata yang saat itu di penuhi dengan kesedihan kini terlihat penuh dengan amarah dan hasrat untuk membalas dendam.
Saat itu orang itu memasukkan tangannya ke dalam bajunya, saat itu ia seakan ingin mengambil sebuah benda yang di sembunyikan di balik bajunya.
Merasa keadaan Verdi dalam bahaya setalah melihat mata orang itu, Ibu Juli pun langsung mendekati orang itu dan memohon untuk keselamatan Verdi. Saat itu Verdi terlihat heran karena ia melihat ibunya justru duduk di depan orang yang mirip dengan Juli dengan kedua kaki bertekuk lutut dan kedua tangan terlipat di depan dadanya.
"Ibu mohon dengan kamu Juli, tolong jangan sakiti Verdi. Ibu tidak ingin kamu menjadi seorang pembunuh lagi, cukup Sista dan Tuan!."
Saat itu Ibu Juli terlihat sangat sedih di hadapan si laki laki itu. Melihat hal itu, Verdi pun langsung melepaskan tangannya yang memegang bahunya. Ia kemudian menghampiri ibunya yang duduk bertekuk lutut di hadapan orang yang mirip dengan Juli itu.
"Ibu apa apaan sih? Tidak sepatutnya Ibu memohon seperti ini kepada anak Ibu sendiri," ucap Verdi dengan membantu ibunya bangun dari duduk bertekuk lututnya.
"Ibu melakukan ini demi kamu Verdi, Ibu tidak ingin kehilangan kamu!."
Plak.... plak.... plak...
Terdengar suara tepukan tangan dengan perlahan dari tangan orang itu. Lalu, orang itu sedikit memiringkan kepalanya dengan tatapan mata yang sangat tajam melihat ke arah kedua orang itu.
"Wah, hebat sekali Ibu. Ibu tidak ingin kehilangan Verdi, namun kenapa.... Kenapa Ibu justru tidak peduli entah aku mati atau pun hidup?" ucap orang itu dengan tatapan mata tajam melihat ke arah ibunya.
__ADS_1
Verdi yang mendengar ucapan itu pun langsung berbalik dan seakan ingin melindungi ibunya. Saat itu, Ibu Juli hanya diam melihat orang yang mirip dengan Juli sangat marah mendengar ucapan nya. Ia hanya sedih dengan diam, melihat kemarahan yang sangat terpancar jelas di raut muka orang itu.
"Apa yang sebenarnya kamu inginkan Juli?" tanya Verdi dengan nada serius dan mantap tajam mata orang itu.
"Apa yang aku inginkan, akan aku dapatkan sendiri tanpa bantuan dari kamu ataupun orang lain!. Yang aku pikirkan saat itu, hanya tetes darah yang jatuh antara kau atau aku!" jawab orang itu lalu ia tersenyum kepada Verdi. Mendengar kalau orang yang mirip dengan Juli menginginkan pertumbuhan darah, Ibu Juli berjalan dengan tatapan mata yang sedih melewati Verdi.
"Kalau kamu menginginkan pertumbuhan darah antara kamu dan keluarga, maka yang harus mati untuk pertama kali adalah Ibu, Juli."
Hal lain terlihat dari wajah orang yang mirip dengan Juli, ia seakan mudah untuk luluh dengan kata kata manis yang di ucapkan oleh ibunya. Ia seakan mudah untuk meneteskan air mata, karena saat itu air matanya menetes di saat ibunya mengatakan hal itu dengan penuh kesedihan.
"Sebuah kebohongan akan tetap menjadi sebuah kebohongan, cinta Ibu itu palsu kepada ku. Jadi jangan main main dengan aku, karena aku sudah mati dan hati ku pun sudah mati karena keluarga ku sendiri. Maka kalian harus sadar, perubahan ku itu semua karena kalian. Kalian yang mengubah seorang malaikat menjadi seorang iblis. Kalian paham, " jawab orang yang mirip dengan tegas. Ia kemudian pergi dari kamar itu tanpa mempedulikan ibunya dan Verdi yang sedih di dalam kamar. Saat itu, tanpa ada perasaan takut, ia keluar dari kamar ibunya dengan melewati pintu depan tanpa ragu.
Di sepanjang perjalanannya keluar dari rumah, air mata terus mengalir membasahi pipinya. Ia sesekali menghapus air matanya yang mengalir membasahi pipi. Saat itu ia pergi melangkah maju tanpa menengok ke arah ibunya dan Verdi.
Melihat orang yang mirip dengan Juli pergi dari kamarnya, Verdi pun mendekati ibunya dan berdiri di belakang ibunya dengan mata masih terus mengarah ke arah orang yang mirip dengan Juli.
"Ada apa ya dengan Juli? Kenapa dia pergi tanpa sebab dan akibatnya?" tanya Verdi dengan kebingungan saat melihat Juli pergi.
Melihat hal itu, Ibu Juli diam selama beberapa saat. Ia kemudian menjawab ucapan Verdi dengan nada serius dan tegas.
"Dia tidak pergi dengan begitu saja, tapi dia akan datang lagi dengan masalah yang lebih besar!. Entah, siapa yang akan menjadi korban untuk selanjutnya. Kamu atau Ibu, kita tidak tahu!."
__ADS_1
Mendengar jawab dari ibunya, Verdi terlihat sangat terkejut dan ia melihat ke arah ibunya tanpa mengatakan sepatah katapun.