
Melihat kalau Verdi hanya diam tanpa mengatakan sepatah kata pun, polisi itu mendekatkan dirinya ke telinga kanan Verdi lalu saat ia sudah berada di dekat telinga Verdi. Polisi itu berbisik kepada Verdi dengan nada serius dan tegas.
"Kenapa? Apa bingung untuk mencari alasan yang lainnya?" tanya polisi itu kepada Verdi yang hanya diam tak berkata kata. "Apakah kamu siap rahasia besar kamu terbongkar? Siap ataupun tidak siap, kamu harus menerima kalau kamu adalah pembunuh dari ayah tiri kamu sendiri!."
Mendengar ucapan itu Verdi yang merasa bukan pembunuh Tuan pun langsung marah dan kesal. Ia langsung memukul meja yang ada di hadapannya dan kemudian bangun dari duduknya. Dengan mata melotot, dan penuh emosi ia menolak dan mengelak kalau ia sudah membunuh Tuan.
"Saya bukan pembunuh dari Tuan, Pak polisi!" ucap Verdi dengan membentak si polisi untuk menolak perkataan si polisi dengan tegas dan serius. Polisi yang mendengar bentakan itu dengan sekuat tenaga langsung menampar pipi Verdi hingga Verdi memalingkan wajahnya dari hadapan si polisi itu.
"Dengar kan saya, jangan berani berani Anda membentak saya. Kalau sampai Anda membentak saya, itu tandanya Anda adalah pelaku atas kasus hilangnya ayah tiri Anda!" si polisi itu pun terlihat berbalik marah dengan Verdi. Perdebatan sengit antara Verdi dan si polisi itu seakan segera di mulai. Namun saat itu konflik panas antara polisi dan Verdi secara tiba tiba mereda karena Verdi memilih untuk menenangkan diri agar tidak tersulut emosi. Melihat Verdi sudah tenang dan si polisi juga sudah tenang, polisi itu pun mendudukkan Verdi di kursinya lagi dan tak berselang lama, polisi itu juga duduk di kursi yang berada di depan Verdi. Ia duduk di depan Verdi dengan santai, lalu ia meminum air yang sudah di siapkan dari awal oleh anak buah dari polisi yang mengintrogasi Verdi.
Saat itu, Verdi terlihat sangat kehausan. Sesekali ia melihat ke arah air minum dari si polisi itu dengan menelan ludahnya sendiri. Menyadari kalau Verdi kehausan, si polisi itu pun dengan baik memberikan air minum kepada Verdi dengan meminta anak buahnya untuk mengambilkan. Anak buah polisi itu yang menyadari kalau di perintahkan untuk mengambil air putih untuk Verdi, ia langsung berangkat tanpa mengatakan sepatah kata pun.
"Kenapa Pak Verdi? Apakah Anda kehausan?" tanya polisi itu dengan nada seperti mengejek Verdi. Verdi yang melihat hal itu hanya diam dengan pandangan mata tajam melihat ke arah polisi itu dan sesekali kembali menelan ludahnya.
__ADS_1
Tak berselang lama, anak buah polisi itu datang dan membawa segelas air kepada Verdi. Anak buah polisi itu, menaruh gelas itu di hadapan Verdi dan polisi. Verdi yang sudah sangat kehausan, tanpa berpikir panjang ia langsung meraih gelas tersebut dan meminumnya bahkan sampai berceceran ke mana mana.
"Apa Anda begitu kehausan? Bahkan meminum segelas air putih Anda seperti anjing sampai seperti itu!" ucap polisi itu dengan bernada menghina Verdi. Verdi yang saat itu ingin melawan ia berusaha keras untuk menahan emosinya dan tidak terperangkap dalam kemarahan.
"Baiklah, kalau memang Anda sudah selesai minum sekarang saatnya saya untuk kembali!" ucap si polisi itu lalu ia menyahut gelas tersebut dan melemparnya ke arah dinding hingga pecah berkeping-keping. Melihat hal itu, Verdi dan anak buah dari polisi itu terlihat sangat terkejut begitu pula orang orang yang berada di luar ruangan interogasi. Mereka terlihat sangat terkejut dengan sikap si polisi itu.
"Di mana kamu membuang mayat ayah tiri kamu?" ucap polisi itu dengan nada tegas kerena ia mengetahui ada hubungannya antara Verdi dan ayah tirinya yang hilang.
Mendengar ucapan itu polisi itu terlihat sangat kesal dan marah karena ia melihat kalau Verdi tidak jujur dengan dirinya. Sontak, ia yang sudah tersulut emosi pun langsung mendekatkan tubuhnya ke tubuh Verdi dan menarik kerah Verdi. Dengan raut muka serius dan tanpa mata yang tajam polisi itu mengertak Verdi agar Verdi mengakui kalau diri nya sudah membunuh ayah tirinya. Verdi yang merasa bukan pembunuhnya pun tetap bersikukuh dengan pendapatnya kalau dirinya tidak membunuh ayah tirinya.
Polisi yang mendengar hal itu benar benar sangat marah dan sangat emosi mendengar ucapan itu. Agar Verdi mengakui kalau dirinya sudah membunuh ayah tirinya, polisi itu sesekali memberi tamparan kepada Verdi agar Verdi mengatakan hal yang sebenarnya.
Ketika Verdi menerima tamparan pertama, Verdi masih belum mengatakan hal yang sebenarnya, ia kemudian menampar Verdi untuk kedua kalinya hingga Verdi pun memalingkan wajahnya namun Verdi tetap menyembunyikan kalau dirinya mengetahui tentang kematian ayah tirinya. Si polisi yang sudah sangat lelah mengertak Verdi untuk mengaku, akhirnya ia pun memilih untuk diam di tempat duduknya dengan mata terus memandang ke arah Verdi. Verdi yang melihat hal itu, ia hanya memegangi pipinya yang di tampar oleh si polisi itu.
__ADS_1
Tatapan matanya terus memandangi si polisi dengan tajam. Ia kemudian mendekatkan dirinya ke arah polisi itu dan melepaskan pipinya yang menerima tamparan itu.
"Sampai kapanpun, saya tidak akan pernah mengakui kalau saya adalah pembunuh ayah tiri saya. Baiklah, Anda betul kalau memang ayah tiri saya menambah sudah meninggal. Tapi, orang yang membunuh ayah tiri saya bukan saya, ada orang lain yang membunuh ayah saya. Dia melakukan ini karena dia ingin balas dendam," jawab Verdi dengan nada serius dan menatap polisi itu dengan serius.
Mendengar ucapan itu, polisi itu terlihat sangat terkejut. Tak terkecuali, anak buahnya yang terlihat sangat terkejut dengan ucapan itu. Saat itu polisi itu masih belum percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Verdi. Ia mengira kalau ia mengatakan hal ini untuk menutupi kesalahannya.
Verdi yang mengetahui kalau polisi itu masih belum percaya dengan dirinya, ia berusaha untuk meyakinkan dirinya. Namun, perdebatan sengit kembali terjadi hingga membuat polisi yang mengintrogasi Verdi mengeluarkan pistol ke arah Verdi dan hampir saja menembak Verdi. Namun, untungnya salah satu orang yang berada di luar ruangan langsung bergegas masuk ke dalam ruangan itu untuk memisahkan Verdi dan si polisi yang terlibat perkelahian.
Saat itu Verdi terlihat babak belur di pukuli oleh si polisi itu. Ia bahkan terlihat seperti tidak sanggup untuk bangun. Ketika si polisi itu sudah keluar dari ruangan itu, polisi itu pun langsung di panggil oleh pemimpin kepolisian yang saat itu tengah bertugas. Polisi yang menyadari ia di panggil oleh atasannya karena ia berkelahi dengan Verdi akhirnya ia pun berlapang dada untuk menerima kalau akan di marahi oleh atasnya.
Di dalam ruangan, Verdi terlihat masih terbaring di lantai karena ia di hajar oleh si polisi itu. Lalu, tak berselang lama wanita yang mengambilkan barang bukti di ruang rahasia itu membantu Verdi bangun dari terbaring nya dan memberi Verdi obat pereda rasa sakit.
Verdi yang sudah di bantu oleh polisi wanita itu, ia hanya diam dan sangat berterima kasih kepada wanita polisi itu.
__ADS_1