Reinkarnasi

Reinkarnasi
Part 77 Flashback dan Flashdisk


__ADS_3

Setelah hal itu, Amar pun menghentikan kesedihannya. Ia kemudian mendekatkan dirinya ke telinga Juli dan ia kemudian membisikkan sebuah kalimat hanya di dengan oleh Juli dan dirinya sendiri.


Setelah membisikkan kalimat ke telinga Juli, keadaan tiba tiba berubah menjadi kejadian ketika Amar menerima telepon dari orang misterius yang tengah berada di rumah Juli.


"Ada apa?" tanya Amar kepada orang misterius yang menghubungi dirinya. Namun, saat itu masih tidak terdengar suara dari orang misterius yang berada di rumah yang terdengar hanya lah ucapan Amar yang terdengar terkejut karena dirinya sedang di kejar kejar oleh polisi, karena ia membawa Juli yang di anggap Jihan oleh Ibu Juli dari kantor polisi.


Setelah beberapa menit berbincang bincang, Amar terlihat kebingungan. Ia berjalan ke sana kemari untuk mencari cara untuk menyembunyikan Juli dan Jihan agar mereka tidak ketahuan dan tertangkap oleh polisi dan juga Verdi.


Namun, saat ia tengah bingung. Secara tiba tiba ia mendapat ide yang menurutnya bagus untuk membuat dirinya lepas dari temannya dan Verdi.


Tiba tiba ia keluar dari kamar yang di tempati Juli, ia menuju ke tempat informasi, ia menghampiri suster yang saat itu tengah bertugas.


"Suster," panggil Amar kepada suster yang saat itu tengah bertugas.


"Iya, Tuan. Adakah yang bisa saya bantu?" jawab Suster itu dengan nada sopan.


"Iya, saya perlu bantuan dari kalian. Saya mohon Anda berdua keluar terlebih dahulu dari tempat ini saya ingin berbicara dengan Anda!" jawab Amar dengan nada baik dan rendah.


Pada awalnya, suster itu menolak Amar dengan alasan ia bertugas namun tiba tiba salah satu temannya yang saat itu juga bertugas di samping nya  justru menyuruh suster itu menuruti Amar. Akhirnya, suster yang menerima panggilan dari Amar pun mengikuti Amar ke lorong yang terlihat sepi di saat itu.

__ADS_1


Ketika berada di lorong tersebut, Amar dan suster itu saling berhadapan hadapan. Namun, beberapa saat kemudian Amar mengeluarkan selembaran kertas cek uang yang masih kosong. Saat itu, ia memberikan cek itu kepada Suster itu. Pada awalnya suster itu terlihat kebingungan dengan apa yang di maksudkan oleh Amar.


"Apa ini Pak maksud?" tanya Suster itu yang tidak mengetahui apa pun yang di maksud oleh Amar.


"Dengar suster, pertama Anda tulis berapa uang yang Anda inginkan di cek itu, lalu saya akan menjelaskan apa yang saya inginkan kepada Anda!" jawab Amar dengan nada masih rendah.


Mendengar hal itu, suster itu pun menuruti perintah dari Amar dan menulis uang dengan jumlah yang tidak kecil yaitu 100 juta rupiah. Setelah suster itu selesai menuliskan uang yang di inginkan nya, suster itu masih terlihat bingung dengan hal yang di lakukan oleh Amar.


"Suster, saya memerlukan bantuan Anda saat ini! Saya mohon kepada Suster tolong pindahkan semua data pasien atas nama Jihan dan Juli di flashdisk ini!" ucap Amar secara terang terangan di hadapan suster itu, namun saat itu ia tidak mengeraskan suaranya.


Mendengar hal itu, suster itu pun langsung terkejut dan dirinya terlihat tidak percaya dengan apa yang di lakukan oleh Amar. Saat itu suster itu menolak Amar, karena tindakan yang di inginkan oleh Amar melanggar hukum dan dapat membahayakan karirnya.


"Ada apa ini? Kenapa saya melihat sepertinya bapak dan teman saya sedang berdebat?" tanya suster yang baru datang menghampiri Amar. Melihat kedatangan temannya, suster yang mendapatkan tawaran dari Amar pun menceritakan kepada temannya tentang hal yang di inginkan oleh Amar. Namun, saat itu terlihat kedua suster itu menolak. Ketika Amar menaikkan jumlah uang menjadi 1 M untuk mereka berdua. Para suster itu pun tergiur dengan uang itu, dan ia pun memilih untuk menuruti perintah dari Amar.


Ketika kesepakatan sudah di selesaikan, Amar memberi tahu para suster itu agar tidak cemas dengan karirnya karena karirnya akan terjadi dengan uang itu.


"Dengar saya suster, jika nanti ada polisi datang kemari jangan beri tahu tentang keberadaan Juli dan Jihan dan jangan juga beri tahu para polisi data pribadi milik merek!" ucap Amar dengan tegas.


"Baik Pak," jawab kedua suster itu dengan bersamaan. Setelah itu ia kembali ke tempat kerjanya. Ketika mereka sudah berada di tempat kerjanya, satu suster tengah mengawasi keadaan dan melihat ke arah sekitar ruangan. Sedangkan suster lain nya, tengah memindahkan data milik Jihan dan Juli ke flashdisk.

__ADS_1


Melihat hal itu, Amar pun mendekati kedua suster itu.


"Gimana?" tanya Amar kepada kedua suster itu.


"Tinggal beberapa saat lagi Tuan!" jawab salah satu suster yang memindah data milik Jihan dan Juli.


Mendengar hal itu, Amar pun mengambil ponselnya dan ia kemudian mengirimkan uang senilai 500 juta ke suster yang mengawasi keadaan dan 500 juta ke suster yang memindahkan data pribadi milik kedua orang itu.


"Aku sudah kirimkan uang kalian ke rekening bank kalian, kalian bisa lihat," ucap Amar dengan lirih sambil sesekali melihat ke sana kemari dan seolah olah menjadi seorang yang sedang menunggu resep obat dari kedua suster itu. Mendengar hal itu, kedua suster itu pun tersenyum kepada Amar.


Tak berselang lama data yang dipindahkan pun sudah selesai. Menyadari hal itu, Amar pun mengambil flashdisk itu. Selain, ia melakukan hal itu kepada dua suster itu, ternyata Amar juga menyogok penjaga rekaman CCTV untuk menghapus rekaman yang terdapat dirinya, Jihan dan Juli.


Saat itu, Amar ternyata membeli rumah sakit itu juga. Hal itu, ia lakukan demi ia bisa menyembunyikan Juli dan Jihan agar mereka tidak di temukan oleh Verdi dan polisi itu.


Saat itu, Amar tengah berada di kamar Juli dan Jihan. Saat itu terlihat beberapa orang sudah memegangi tempat tidur Juli dan Jihan. Mereka seakan bersiap untuk membawa pergi kedua orang itu dari rumah sakit.


"Juli, aku janji dengan kamu aku akan kembali!" ucap Amar lalu ia meminta para suster itu bersiap.


Beberapa saat kemudian, para polisi dan Verdi pun sampai di rumah sakit dan mereka tengah sibuk menanyai keberadaan Jihan dan Juli. Di situ Amar pun menunjukkan dirinya hingga tercipta lah aksi kejar mengejar antara Amar dan kelompok Verdi.

__ADS_1


__ADS_2