Reinkarnasi

Reinkarnasi
Part 43 Kemarahan Juli


__ADS_3

Malam hari pun tiba, merasa Jihan sudah terlelap dalam tidur nyenyak nya. Ibu Juli dengan perlahan ia keluar dari rumah untuk menemui Verdi yang berada di kantor polisi. Ia mengendarai mobilnya, saat itu Jihan yang terlelap dalam tidurnya tiba tiba terbangun karena mendengar suara mobil dari luar rumah. Jihan yang saat itu sangat mengantuk, ia terlihat tidak peduli dengan apa yang ia dengar dan ia terlihat kembali tidur.


Di dalam mobil Ibu Juli terlihat langsung bergegas melajukan mobilnya dengan cepat agar ia segera sampai di kantor polisi. Saat mobil sudah keluar dari rumah, di tepi jalan terlihat mobil orang misterius lain yang menjadi bawahan Juli tengah mengawasi Ibu Juli. Menyadari kalau Ibu Juli akan pergi orang misterius itu pun mengikuti mobil Ibu Juli secara perlahan di belakang mobil Ibu Juli.


Beberapa saat kemudian, Ibu Juli menghentikan mobilnya di depan kantor polisi. Menyadari kalau Ibu Juli akan menemui Verdi orang misterius itu juga menghentikan mobilnya dan menatap Ibu Juli dari dalam mobil. Tak berselang lama, Ibu Juli pun keluar dari mobilnya dan masuk ke dalam kantor polisi. Melihat hal itu, orang misterius terlihat sangat marah dan kesal kepada Ibu Juli. Ia mengepalkan tangannya lalu ia memukulkan tangannya ke alat kemudi tanpa mempedulikan rasa sakit yang ia hadapi.


Di dalam kantor polisi, dengan terburu buru Ibu Juli masuk ke dalam dan menemui pemimpin polisi di kantor polisi tersebut.


"Dimana anak saya Pak?" tanya Ibu Juli kepada polisi yang saat itu berjaga di tempat itu.


"Bu, Pak Verdi di dalam sel penjara. Beliau sudah di tetapkan sebagai tersangka oleh pihak kami!" jawab polisi itu dengan santai.


Mendengar ucapan itu wajah terkejut terlihat di raut muka Ibu Juli, ia merasa tidak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh polisi itu. Agar Ibu Juli kalau Verdi di tetapkan sebagai tersangka, akhirnya polisi itu mengajak Ibu Juli untuk melihat Verdi berada di dalam sel penjara. Saat itu Ibu Juli dan polisi itu melihat Verdi dari kejauhan, melihat anaknya sangat menderita Ibu Juli hanya bisa menangis dan memohon kepada polisi itu untuk melepaskan Verdi. Ketika Ibu Juli tengah memohon kepada polisi yang berjaga di tempat itu, polisi lainnya yang mengintrogasi Verdi datang menghampiri Ibu Juli.


"Verdi bisa lepas, Nyonya!" ucap polisi itu dengan santai sambil melangkah perlahan mendekati Ibu Juli. Mendengar hal itu Ibu Juli pun langsung berbalik dan melihat ke arah polisi itu dengan tatapan mata yang serius.

__ADS_1


"Bagaimana?" jawab Ibu Juli.


"Kalau memang Anda merasa Verdi tidak bersalah, maka... Cari kan siapa pelaku yang sebenarnya? Atau orang yang menurut Anda adalah orang yang berbahaya di hidup Anda?" jawab si polisi itu dengan santai lalu ia tersenyum dengan jahat kepada Ibu Juli.


Mendengar ucapan itu Ibu Juli pun berpikir selama beberapa saat, ia kemudian menarik nafas dalam dalam dan ia menghela nafasnya dengan perlahan. Ia kemudian mengehentikan tangisannya dan menatap tajam polisi itu.


"Baiklah, aku akan bawa pelaku yang sebenarnya kemari!. Kalau pun dia bukan pelaku yang sebenarnya, "ucap Ibu Juli lalu ia berhenti beberapa saat dan kemudian melanjutkan "aku... akan menukar dia dengan anak ku!."


Setelah mengatakan itu ia tersenyum kepada polisi itu. Ia kemudian pergi dari kantor polisi itu dan kembali masuk ke dalam mobilnya. Ia kemudian menghidupkan mobilnya dan pergi dari kantor polisi. Melihat hal itu orang misterius itu pun juga menghidupkan mobilnya dan mengikuti Ibu Juli pergi dari kantor polisi.


"Dari mana saja Ibu?" tanya Juli kepada ibunya namun saat itu Ibu Juli mengira kalau Juli adalah Jihan.


"Jihan! Kamu belum tidur?" jawab Ibu Juli dengan terkejut dan nafas yang sedikit tidak teratur.


"Ini bukan jawaban dari apa yang aku tanyakan Ibu, Ibu dari mana saja?" tanya Juli lagi dengan serius dan tatapan mata yang tajam kepada ibunya.

__ADS_1


Saat itu ibunya hanya diam, dengan pertanyaan pertanyaan yang di ajukan oleh Juli. Melihat hal itu, Juli pun semakin murka, ia terlihat tidak mempedulikan luka yang di dera nya. Menyadari kalau ibunya dari kantor polisi, Juli benar benar sangat marah ia langsung meraih vas bunga yang berada tidak jauh dari dirinya dan dengan sekuat tenaga ia menghantamkan vas itu di hadapan ibunya hingga berkeping keping.


"Kenapa Bu?! Kenapa?" bentak Juli kepada ibunya dengan kedua tangan memegangi erat kedua lengan ibunya. "Sungguh bodoh nya aku, percaya dengan orang seperti Ibu!."


"Jihan, Ibu mohon kamu tenang dulu. Ibu bisa jelaskan ke kamu ," jawab Ibu Juli dengan sedih dan mata yang terlihat berkaca kaca.


"Bagaimana Ibu? Bagiamana aku bisa tenang? Ketika saudara kembar ku mati di tangan Verdi, Ibu tidak peduli. Kini ketika Verdi hanya masuk ke dalam penjara, Ibu justru sangat khawatir dengan dirinya hingga ibu rela datang tengah malam untuk menemui Verdi!" jawab Juli dengan nada semakin tinggi. "Lalu kenapa? Kenapa dengan saudara ku, atau dengan aku Ibu tidak seperti itu?" lanjut Juli dengan nada rendah dan mata yang di penuhi oleh air mata.


Juli pun dengan perlahan mendekati ibunya, ia kemudian memegangi kedua lengan ibunya dengan penuh kasih sayang.


"Selama ini aku sangat menyayangi Ibu, bahkan aku rela melupakan dendam ku untuk bersama dengan Ibu, namun kenapa Ibu? Kenapa Ibu justru mengkhianati aku? Kenapa?" ucap Juli dengan semakin lembut kepada ibunya. Ia kemudian memegangi erat kedua lengan ibunya dengan serius dan sedih.


"Maafkan Ibu Jihan, Ibu tidak ingin mengkhianati kamu. Ibu hanya berusaha adil dengan semua anak Ibu Jihan," jawab Ibu Juli dengan air mata yang terus berderai membasahi pipinya.


"Berusaha adil?! Benarkah? Kalau memang Ibu berusaha adil, seharunya Ibu mengatakan hal sebenarnya kepada polisi. Terutama tentang pembunuhan yang ibu lakukan kepada Juli!" ucap Juli dengan mendekatkan wajahnya kepada wajah ibunya.

__ADS_1


Ibu Juli yang melihat hal itu, ia terlihat sangat ketakutan dengan apa yang dilakukan oleh Juli, hal itu terjadi karena ia selalu terngiang dengan wajah Juli saat ia melihat wajah Jihan. Saat itu Ibu Juli langsung mendorong Juli saat Juli menakut nakuti dirinya.


__ADS_2