
Ketika Jihan sudah mengetahui kalau tidak ada mayat Juli di dalam kamar mayat itu, Jihan pun langsung bergegas menghampiri wanita resepsionis itu dengan terburu buru. Ia melihat ke arah wanita dengan kesal dan marah.
"Anda mempermainkan saya Nona?" tanya Jihan dengan nada serius dangdut tatapan mata yang tajam. Mendengar ucapan itu, wanita resepsionis itu terlihat tidak bisa berkata kata. Ia hanya diam dengan kepala menunduk.
"Kenapa Anda membohongi saya Nona? Kenapa Anda mengatakan kalau kakak saya sudah meninggal?" tanya Jihan lagi dengan nada semakin meninggi. " Kenapa?!!!!" lanjut Jihan dengan membentak keras wanita itu hingga membuat beberapa satpam yang saat itu tengah menjaga rumah sakit itu.
"Ada apa ini Tuan? Kenapa Anda memarahi petugas kami?" tanya salah satu satpam yang menghampiri Jihan dan petugas itu.
"Kalau kamu ingi tahu, kenapa alasan aku bisa marah seperti ini? Lebih baik Anda tanyakan sendiri dengan petugas Anda bukan tanya ke saya!" jawab Jihan dengan nada serius karena kemarahan yang di rasakan nya.
Mendengar pernyataan itu, satpam itu pun menghampiri wanita resepsionis itu. Ia kemudian menanyakan apa yang terjadi kepada salah satu tamunya. Beberapa saat kemudian, wanita itu pun menjelaskan bahwa dirinya menerima sebuah pesan yang tidak ia ketahui dari siapa pengirimnya. Ia mengatakan kalau pesan itu melarang dirinya untuk memberi tahu kepada Jihan kalau Juli sudah pulang dari rumah sakit. Ia mengatakan kalau jika dirinya mengatakan yang sebenarnya maka nyawa dari wanita itu dalam bahaya. Mendengar cerita itu, Jihan pun hanya diam begitupula orang orang lain yang mendengar cerita tersebut.
__ADS_1
"Itu sebuah ancaman!" ucap satpam itu dengan tegas lalu ia berusaha melaporkan ancaman itu. Beberapa saat kemudian, satpam itu pergi untuk melaporkan ancaman tersebut. Ketika Jihan menyadari kalau si satpam itu ingin pergi untuk melaporkan ancaman itu, Jihan pun langsung bergegas pergi dari hadapan orang orang itu.
Saat berada di luar rumah sakit ia terlihat seperti tengah memikirkan sesuatu, entahlah apa yang di pikirkan oleh Jihan ketika dirinya berada di luar rumah sakit.
Beberapa saat kemudian ia sampai di rumah Juli, melihat hal itu Jihan terlihat ragu ragu untuk masuk bertemu dengan kakaknya, hal itu terjadi karena ia merasa bersalah dengan apa yang ia lakukan. Saat itu ia hanya berdiri di depan gerbang dengan pandangan mata sedih mengarah ke arah rumah yang ditempati oleh kakaknya Juli.
"Aku tidak bisa masuk, aku sudah membuat Kakak seperti ini. Aku tidak bisa melihat kakak saat ini, aku harus pergi agar tidak ketahuan oleh kakak!" ucap Jihan dengan raut muka sedih bercampur dengan marah. Tak berselang lama, seorang laki laki paruh baya keluar dari rumah itu, di saat bersamaan dengan orang itu keluar dari rumah Juli, Jihan justru berbalik dengan raut muka sedih dan berurai air mata kerena ia merasa sudah sangat mengecewakan kakaknya. Di saat itu, laki laki paruh baya itu sadar kalau ada orang lain di luar rumah. Menyadari kalau orang yang berada di luar rumah itu adalah Jihan, laki laki paruh baya itu langsung menghampiri Juli dan memberi tahu Juli kalau Jihan berdiri di luar rumah. Mendengar ucapan itu Juli yang saat itu berada di dalam kamarnya langsung terbangun dari terbaring di bantu dengan si polisi itu. Ketika Juli sudah terbangun dari terbaring nya, Juli meminta polisi itu untuk mengejar Jihan. Mendengar perintah itu polisi itu pun berusaha mengejar Jihan. Ketika ia sudah berada di luar rumah, Jihan terlihat masih berdiri di depan gerbang.
"Jihan, kamu mau kemana?" tanya Juli dengan nada sedikit tinggi dan ia kemudian terjatuh dengan kedua kaki bertekuk lutut. Melihat hal itu, Jihan sedih namun apalah daya Jihan berusaha tidak mempedulikan Juli, namun melakukan itu Jihan terlihat sangat sedih. "Jihan!" panggil Juli dengan lirih, di saat itu Jihan juga merasakan panggilan lirih itu, ia merasa angin yang berhembus membisikkan panggilan itu di dekat telinga Jihan.
Saat itu, Jihan terlihat tidak mempedulikan panggilan itu. Ia hanya diam dengan sedih.
__ADS_1
"Maafkan aku Kak, aku tidak bisa menyakiti kakak lagi! Aku tidak ingin menyakiti kakak. Aku harus pergi maafkan aku Kak," ucap Jihan dengan membelakangi orang orang itu. Menyadari kalau Jihan akan pergi, Juli pun meminta untuk polisi itu mengejar Jihan. Ketika Jihan benar benar berlari menjauh dari orang orang itu. Polisi itu pun langsung mengejar Jihan tanpa mempedulikan keadaan Juli lagi.
Ketika Jihan berada di tengah jalan dengan nafas tergesa gesa akibat ia berlari menjauhi rumah Juli dari hadapannya dengan jarak lumayan jauh dari Jihan, sebuah mobil dengan pengemudi berpakaian tertutup dan berwarna hitam senada tengah mengintai Jihan dan ingin membunuh Jihan dengan menabrak Jihan.
Melihat Jihan sudah terlihat, orang itu menambah koplingnya dan menginjak gas mobil itu, lalu dengan ia melajukan mobilnya dengan sangat cepat. Saat itu Jihan tidak menyadari dengan adanya mobil yang seakan ingin menabrak dirinya, ia hanya terus berlari menjauhi rumah Juli.
Setelah berlari cukup jauh dari rumah Juli dan masih di kejar kejar oleh polisi itu, Jihan pun mulai menyadari kalau dirinya sedang di incar oleh orang lain. Pada awalnya ia mengira kalau mobil itu hanya bermain main, namun setelah melihat kalau mobil itu benar benar ingin menyerang dirinya tiba tiba ia menghentikan larinya dan mobil itu sudah berada sangat dekat dengan Jihan. Jarak mobil itu dengan Jihan hanya tersisa 30cman namun di saat itu tiba tiba Jihan di tarik oleh seseorang ke pinggiran jalan.
Jihan yang saat itu sudah takut dengan mobil itu ia tidak sadar kalau dirinya selamat dari maut itu dan jatuh ke pelukan si polisi itu. Melihat hal itu polisi itu langsung memeluk erat Jihan dan ia berusaha untuk menenangkan Jihan.
Ia membelai belai kepala Jihan untuk menenangkan Jihan dari ketakutan itu, sedangkan mobil yang ingin menabrak Jihan terlihat berlari dari tempat itu. Selain itu, orang yang mengendarai mobil itu pun terlihat sangat kesal karena ia tidak bisa membunuh Jihan. Ia memukul mukul alat kemudian dengan penuh amarah.
__ADS_1