
Waktu berlalu begitu cepat, saat itu Juli sudah bersih dari pendarahan yang ada di perutnya, namun saat itu Juli juga masih belum sadar sama seperti Jihan. Saat itu si polisi itu tidak mengetahui kalau Juli sudah di pindahkan dan di tempatkan di satu tempat dengan Jihan. Hal itu terjadi karena polisi itu tertidur dengan pulas di rumah di kursi yang ada di dekat Jihan
Ketika ia sadar kalau Juli sudah di pindahkan ke dalam ruangan yang sama dengan Jihan, ia terlihat sangat bahagia, namun ia juga sedih karena dirinya juga tahu kalau Juli juga tidak sadarkan diri.
"Dokter bagaimana keadaan Juli?" tanya polisi itu setelah dirinya sadar kalau Juli sudah di pindahkan.
"Tuan, keadaan Tuan Juli tidak baik baik saja. Dia kehilangan banyak darah akibat pendarahan yang terjadi di perutnya!" jawab dokter itu dengan santai dan baik.
"Dokter Jihan dan Juli akan baik baik saya kan?" tanya polisi itu lagi dengan raut muka yang terlihat sangat khawatir.
"Saya tidak tahu, kita lihat saja Tuan apa yang akan terjadi selanjutnya, yang terpenting Anda jangan lupa untuk berdoa dengan Tuhan!" jawab dokter itu lalu ia pergi dari hadapan polisi itu.
Mendengar ucapan itu polisi itu tampak sedih dan ia terlihat sangat tidak berdaya melihat Juli dan Jihan tidak dapat melakukan hal yang mereka inginkan.
Di kantor polisi, Ibu Juli terlihat terus tidak tenang. Ia terus menerus memanggil manggil nama Jihan dengan derai air mata yang terus mengalir membasahi pipinya. Saat itu , Verdi yang percaya kalau orang yang hilang itu adalah Juli dan bukan Jihan ia hanya berusaha menenangkan ibunya.
Di samping kepanikan yang di rasakan oleh Ibu Juli atas hilangnya Juli yang ia anggap Jihan, tiba tiba ia melihat di televisi kantor polisi terdapat berita tentang Jihan yang membutuhkan donor darah. Melihat hal itu, Ibu Juli pun langsung bergegas meminta Verdi untuk mengantarkan dirinya ke rumah sakit itu. Di saat bersamaan, Verdi dan polisi yang mengintrogasi Verdi pun bekerja sama di mana saat itu polisi itu mengajak Verdi untuk menangkap polisi yang tidak lain adalah anak buah Juli dan sedangkan Ibu Juli di tenangkan oleh polisi wanita yang di incar oleh Verdi.
Di rumah sakit, polisi itu terlihat hanya sedih atas keadaan kedua orang itu. Namun tiba tiba kesedihannya seketika hilang saat ia menerima panggilan dari orang misterius yang bekerja dengan Juli.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya polisi itu setelah ia melihat kalau orang misterius yang ada di rumah Juli yang menghubungi dirinya.
Mendengar jawaban itu, orang misterius biru pun menjelaskan tentang penangkapan yang akan di lakukan oleh polisi yang mengintrogasi Verdi dengan Verdi. Mendengar hal itu, anak buah Juli yang saat itu sedih seketika terkejut setelah mendengar ucapan orang misterius itu.
"Oke, terimakasih sudah memberi tahu aku tentang hal ini!."
Setelah berbincang bincang dengan orang misterius itu, polisi itu pun menutup panggilan itu dan ia terlihat memikirkan cara untuk membuat dirinya tidak di tangkap oleh polisi dan ia juga bisa menyelamatkan Jihan dan Juli.
Beberapa saat kemudian, polisi yang mengintrogasi Verdi dengan rombongannya pun datang ke rumah sakit yang menyiarkan berita tentang Jihan. Melihat hal itu, orang orang yang ada di rumah sakit itu tampak sangat aneh saat memandangi polisi itu dan gerombolan nya.
"Suster, di mana ruangan yang di tempati oleh pasien yang bernama Jihan?" tanya polisi itu kepada suster yang menjadi kasir saat itu.
"Baik Pak, sebentar saya akan carikan informasi itu dulu!."
Mendengar hal itu, polisi itu tampak kesal dan ia tidak percaya dengan yang di katakan oleh suster itu. Ia yakin kalau sister itu berbohong kepada dirinya.
Namun, ketika polisi itu tengah menunggu berusaha menekan suster itu untuk mengatakan yang sebenarnya. Polisi yang tidak lain adalah anak buah Juli berjalan dari lorong dengan tatapan mata tajam. Saat anak buah Juli berjalan di lorong dengan tatapan mata tajam, polisi yang menginterogasi Verdi terlihat tidak menyadari hal itu. Namun, orang yang menyadari kehadiran anak buah Juli itu adalah Verdi.
"Itu dia!" teriak Verdi dengan menunjuk ke arah anak buah Juli. Melihat kalau para polisi yang ingin menangkap dirinya sudah melihat dirinya, polisi anak buah Juli pun langsung bergegas berlari menuju ke luar halaman rumah sakit untuk menuju ke sepeda nya.
__ADS_1
Melihat anak buah Juli berlari rombongan polisi itu pun mengejar anak buah Juli tersebut.
Ketika ia sudah berhasil kabur keluar dari rumah sakit, ia langsung naik sepeda nya dan membawa sepeda itu pergi.
Menyadari hal itu, polisi itu pun mengejar dengan mobil.
Kejar kejaran antara anak buah Juli dengan polisi yang mengintrogasi Verdi pun terjadi, tembakan dan peringatan pun sudah di lontarkan oleh polisi yang mengintrogasi Verdi, namun peringatan itu tidak di dengan oleh polisi yang menjadi anak buah Juli. Ia tetap bersikukuh untuk melarikan diri. Ketika ia sudah berada di jembatan, ia tenyata sudah di kepung oleh beberapa polisi lain hingga membuat dirinya tidak bisa bergerak.
Merasa kalau anak buah Juli sudah terjebak. Polisi yang mengintrogasi Verdi pun turun dari mobil dan menodongkan ke arah anak buah Juli.
Ketika polisi itu sudah turun, polisi polisi lain pun mengikuti tindakan dari polisi yang mengintrogasi Verdi.
Melihat hal itu, anak buah Juli pun turun dari sepedanya dan ia kemudian melihat ke arah polisi yang mengintrogasi Verdi. Saat itu ia tidak membuka helm yang ia pakai. Ia hanya berdiri dengan menatap ke arah polisi itu.
"Dengar kan aku, kalau kamu ingin selamat kamu beri tahu kami di man keberadaan Jihan dan serahkan diri kamu kepada kami!" ucap polisi yang mengintrogasi Verdi dengan nada tegas dan tatapan mata yang serius.
Mendengar ucapan itu, anak buah Juli justru ia berlari ke tepi jembatan untuk terjun ke sungai. Melihat hal itu, polisi itu terlihat sangat terkejut dan berusaha untuk mengejar anak buah Juli namun, saat itu polisi itu terlambat dan anak buah Juli sudah berhasil terjun ke sungai dengan menggunakan helm yang masih terpasang di kepala nya.
Melihat hal itu, polisi yang mengintrogasi Verdi tampak sangat kesal dan marah.
__ADS_1
"Pak sekarang bagaimana?" tanya Verdi kepada polisi yang mengintrogasi dirinya.
"Hanya ada dua kemungkinan, dia masih hidup atau sudah mati. Tapi, sebelum kita memastikan antara hidup dan matinya, kita harus cari dulu orang itu," jawab si polisi itu. Mendengar jawab itu Verdi pun hanya menganggukkan kepalanya.