Reinkarnasi

Reinkarnasi
Part 31 Jihan


__ADS_3

Saat itu mata Jihan terlihat berkaca kaca di pelukan ibunya. Namun, tiba tiba ia menatap tajam ibunya dengan mata memerah.


"Kalau ibu memang sayang dengan aku lalu kenapa ibu membuang aku ke panti asuhan?" tanya Jihan dengan nada serius dan raut muka yang sedih. Mendengar ucapan itu Ibu Juli pun langsung melepaskan pelukannya yang erat kepada Jihan. Ia terlihat sangat kebingungan dan wajah yang sedih.


"Kenapa kamu mengatakan itu? Ibu sama sekali tidak berniat untuk membuang kamu, ibu tidak mengetahui kalau kamu masih hidup!."


"Bagaimana bisa ibu mengatakan hal itu kepada ku? Bagaimana?" jawab Jihan dengan sedih di hadapan ibunya.


Mendengar ucapan dari Jihan, Ibu Juli terlihat sangat sedih. Ia terlihat ingin mendekati Jihan dan berusaha untuk menyentuh pipi Jihan dengan penuh kasih sayang namun saat kedua tangan Ibu Juli berada di dekat pipi Jihan, Jihan terlihat memegangi kedua tangan ibunya dengan sangat erat dan penuh dengan kemarahan yang selama ini ia pendam.


"Jangan berusaha untuk merayu aku dengan kata kata manis dan air mata yang ibu keluar kan di hadapan ku, karena apa.... Karena aku tidak ingin terjebak dalam perangkap yang sama, seperti ibu menjebak saudara kembar ku Juli!. Aku tidak membutuhkan kebohongan atas dasar kasih sayang seperti ini Ibu ku tersayang!" jawab Jihan dengan nada serius kalau ia melepaskan tangan ibunya dengan sangat kasar.


Melihat hal itu Verdi terlihat kesal dan marah kepada Jihan namun saat dia ingin mendekati Jihan, langkah Verdi terhenti karena ia melihat sebuah pistol ditodongkan ke arah nya.


"Kalau kamu mendekati aku maka salah satu dari kita akan mati," ucap Jihan dengan serius dan menatap tajam mata Verdi. Mendengar ucapan itu Ibu Juli pun menggeser tubuhnya dan mengarah tubuhnya ke arah pistol itu dengan mata sedih dan berurai air mata.


"Bukan kalian yang harus mati, tapi Ibu. ibu yang seharunya mati saat ini Jihan. Ibu sudah cukup banyak dosa Jihan, sama kamu, sama Juli dan yang lainnya. Ibu Sudah kehilangan Juli, lalu Sista dan kemudian Tuan. Ibu tidak ingin kehilanganmu atau Verdi lagi," jawab Ibu Juli dengan sedih.


Mendengar ucapan itu Verdi pun menaruh secara perlahan pistol yang ia todongkan kepada Verdi. Ia kemudian menarik tangan ibunya dengan perlahan lahan dan penuh dengan kasih sayang. Setalah itu Jihan memberikan pistolnya ke ibunya dengan tatapan mata yang serius dan tegas. Melihat hal itu, Ibu Juli terlihat sangat kebingungan begitupula Verdi.

__ADS_1


"Kalau memang Ibu sayang dengan aku dan menyesali apa yang ibu perbuat dengan saudara kembar ku, tembak kepala ibu sendiri di hadapan ku dan Verdi!" ucap Jihan dengan nada serius.


Mendengar ucapan Jihan Verdi terlihat sangat marah, ia langsung menghampiri Jihan dan memegangi kerah baju Jihan.


"Gila ya kamu, hah? Dia itu ibu kamu, kenapa kamu menyuruh ibu kamu untuk menembak dirinya sendiri?" ucap Verdi dengan nada tinggi dan sangat marah kepada Jihan.


"Ibu macam apa, hah? Ibu macam apa yang tidak adil dengan anak anaknya, pertama aku... Aku di buang di panti asuhan dan tidak ada satu pun orang datang untuk menghampiri aku ataupun menjenguk aku lalu saudara kembar ku yang kalian bunuh dan siksa mati matian hingga dia meninggal. Kalau dia pantas di panggil Ibu seharunya dia tidak melakukan hal hal kejam kepada anak anaknya. Tapi, justru ia melakukan hal hal sadis kepada anak anaknya. Dia tidak pantas di sebut seorang ibu" jawab Jihan dengan nada tegas, serius dan menatap tajam mata Verdi.


Setalah mengatakan hal itu, Jihan mendorong Verdi Hingga Verdi melangkah mundur selama beberapa langkah.


"Jangan melawan aku jika kau membela orang yang salah!."


"Ibu akan lakukan hal itu asalkan semua ini akan berakhir!" ucap Ibu Juli dengan sedih lalu ia melangkah maju dan berdiri di antara Jihan dan Verdi. Mendengar ucapan itu Verdi terlihat sangat terkejut dengan hal yang di ucapakan oleh ibunya.


"Ibu, jangan lakukan hal ini!" pinta Verdi dengan sedih dan di saat bersamaan Ibu Juli mengarahkan pistol itu ke arah kepalanya. Saat itu Verdi terus berusaha untuk membujuk ibunya untuk tidak melakukan hal itu. Suasana yang saat itu hanya di penuhi emosi tiba tiba berubah kepanikan di rasakan oleh Verdi sedangkan Jihan ia terlihat hanya diam dengan senyum jahat di bibirnya.


...Door.......


Suara tembakan terdengar bergema di ruangan itu, mendengar suara itu Verdi terlihat sangat terkejut. Ia mengira kalau ibunya benar benar menembak dirinya dengan pistol itu. Menyadari kalau pistol yang di pegang oleh Ibu Juli adalah pistol palsu Jihan tertawa terbahak bahak. Terutama saat melihat ekspresi Verdi yang sangat terkejut.

__ADS_1


"Ada apa Verdi?" tanya Jihan saat ia sudah menghentikan tawanya yang terbahak bahak. "Kenapa kamu terlihat sangat terkejut? Tenang, Ibu kamu tidak akan mungkin mati dengan semudah itu. Asal kamu tahu, pistol yang di bawa ibu mu adalah pistol palsu, untuk yang asli pistolnya ada di sini jadi jangan khawatir!" jawab Jihan dengan tenang lalu ia menyembunyikan pistolnya ke dalam balik bajunya.


Melihat kalau dia mempermainkan emosi nya, Verdi pun langsung bergegas menghampiri Jihan dan mencekik leher Jihan. Jihan yang merasakan cekikikan itu, ia hanya diam dan berusaha untuk melepaskan cekikan itu. Saat itu Jihan hanya menatap tajam mata Verdi tanpa mengerang kesakitan.


"Kamu mempermainkan aku, hah? Ini lah akibatnya jika kamu mempermainkan aku!" ucap Verdi dengan mencekik leher Jihan.


"Ke.. Kenapa kamu hanya mencekik leher ku? Kenapa tidak membunuh aku seperti kamu membunuh Juli?" jawab Jihan dengan senyum di lehernya.


Mendengar ucapan itu, Verdi terlihat sangat terkejut dan ia tidak percaya kalau apa yang ia sembunyikan selama ini terbongkar oleh orang. Saat itu Verdi terlihat tidak takut dengan ucapan yang di ucapkan oleh Jihan ia justru mencekik leher Jihan dengan semakin erat. Bahkan beberapa kali terlihat ia menghantamkan tubuh Jihan ke tembok.


Melihat sikap kasar Verdi, Ibu Juli terlihat membela Jihan dan membentak Verdi agar melepaskan Jihan. Mendengar bentakan itu Verdi pun langsung melepaskan tangannya yang mencekik leher Jihan.


"Maafkan Verdi Jihan," ucap Ibu Juli saat ia sudah berhasil melepaskan tangan Verdi dari leher Jihan.


Melihat hal itu Jihan hanya diam dan tidak mengatakan sepatah katapun kepada ibunya. Ia hanya menatap tajam ibunya.


"Apa yang ibu lakukan kepada ku saat ini? Tidak akan pernah membayar apa yang ibu lakukan kepada ku dan Juli," jawab Jihan lalu ia pergi dari tempat itu dengan meninggalkan kalung yang sama seperti yang di kenakan oleh Juli.


Melihat Jihan pergi dari tempat itu tanpa berpamitan, Ibu Juli terlihat sedih namun ia tidak bisa berkata apa-apa karena ia sadar kalau ini adalah kesalahannya.

__ADS_1


__ADS_2