
menit ke menit telah berlalu, kini mereka masuk ke kelas dengan raut wajah yang sedikit berbeda. ada yang datar dan juga terlihat biasa saja.
namun walau begitu, guru tetap memperhatikan gerakan Lin shi setiap saat, bahkan ia juga melihat setiap ekspresi Lin shi.
"anak itu masih sama saja seperti biasa nya, seperti nya aku harus pergi ke rumah nya untuk bertanya secara langsung. aku khawatir anak itu mengalami masalah besar yang tidak ingin dibilang siapapun." ujar buk guru yang berniat sekali ingin pergi ke rumah Lin shi.
beberapa menit kemudian, tiba-tiba ponsel Lin shi berbunyi. semua orang kaget mendengar suara ponsel nya, mereka juga menoleh langsung ke arah Lin shi.
Lin shi yang sadar itu langsung berdiri dan berpamit untuk mengangkat telepon ini.
"buk permisi saya mau jawab telpon." ujar Lin shi yang lalu di setujui oleh buk guru.
saat Lin shi keluar, di situ para murid penasaran dan mengintai sedikit. bahkan guru nya pun ikut mengintip dan menguping pembicaraan Lin shi di telpon.
"bagaimana kalian sudah ada petunjuk baru?." tanya Lin shi dengan cemas.
"sudah, kami hanya ingin bilang, bahwa barang bukti dan juga para may*t sudah di bawa ke rumah sakit. owh iya, ada satu hal yang harus saya katakan, ternyata di salah satu tumpukan may*t, terdapat seseorang yang masih hidup. kini dia di bawa ke rumah sakit untuk di rawat, harap mas dengan teman mas datang ke rumah sakit nanti nya." ujar pak polisi yang memberitahu ia banyak hal.
Lin shi yang paham langsung mengangguk dan kembali menjawab.
"terima kasih atas bantuan ini, btw untuk rumah sakit, rumah sakit mana yang harus saya datangi?." tanya Lin shi yang langsung saja di jawab oleh pak polisi.
"di rumah sakit xxxx, sudah tau?." ujar nya yang lalu bertanya kepada Lin shi.
"sudah pak." jawab Lin shi dengan tenang.
"kalo begitu saya sudahi dulu." ujar nya yang langsung mematikan ponsel nya.
__ADS_1
setelah selesai berbicara, dia langsung berbicara kembali dengan raut wajah yang sedikit khawatir dan juga kesal.
"orang-orang itu, berani nya melakukan hal begitu. mending setelah sepulang sekolah, aku telpon mas kemaren buat ikut. rumah sakit xxxx, kayak pernah denger juga sih." ujar Lin shi yang berbicara sendiri.
setelah selesai berbicara sendiri, Lin shi langsung saja berjalan untuk masuk kekelas. dengan begitu cepat pula, teman sekelas nya langsung pindah ke tempat mereka masing-masing.
bahkan guru tadi juga langsung duduk di kursi sambil mengajar. dia pun berpura-pura melihat Lin shi dengan tatapan penasaran.
"siapa yang menelpon?." tanya nya dengan raut wajah yang penasaran.
ya walau hanya berpura-pura, namun Lin shi sudah tau segala nya. Lin shi asli dan yang lainnya sudah memberitahu ia tentang ini.
"tidak usah berpura-pura, kalian sudah mendengar semua nya. aku harap ini jadi rahasia kalian, aku tidak mau semua nya terkena masalah akibat ulah ku sendiri. ini harus kulakukan sendiri, lagi pun beberapa orang juga butuh keadilan. tugas ku adalah mencari keadilan untuk seseorang dan kalian semua tidak akan tau bagaimana rasa nya perasaan ku kali ini. jadi aku harap, mulai sekarang kalian semua jangan ada yang mencari tau tentang ku, apalagi menjadi teman ku." ujar Lin shi yang tadi nya berdiri, kini malah berjalan menuju tempat duduk nya.
semua teman-teman nya seketika terdiam melihat perkataan Lin shi yang begitu aneh, mereka sama sekali tak mengerti maksud ucapan Lin shi.
namun Revan yang paham itu langsung mengerti dan mengeluarkan raut wajah sedih, ia sudah menduga pasti ada hal buruk yang menimpa nya kali ini.
"kau tidak bodoh, hanya saja hati mu terlalu baik untuk semua orang. percaya lah, pasti ada jalan untuk mu, dan aku harap kamu jangan menutup hati mu untuk orang lain. ya mungkin perkataan ku sedikit rumit di jelas kan." ujar Lisa yang membuat ia tersenyum tipis.
"kalian juga termasuk orang yang aku sayangi juga, bukan hanya teman-teman ku yang nyata. aku berharap suatu hari ada cahaya terang menyinari tubuh ku sendiri." ujar Lusi yang malah merubah raut wajah nya menjadi sedih.
tiba-tiba pula, Lisa langsung saja mengatakan.....
"tubuh mu?, aku penasaran selama ini kamu kenapa?." tanya Lisa yang malah membuat Lusi keceplosan.
dia malah berbicara dengan suara besar, bahkan orang lain yang mendengar nya tak percaya dengan apa yang ia ucapkan kali ini.
__ADS_1
"tubuh ku sudah hancur kak Lisa, lebih dari satu tahun aku kehilangan segala nya." ujar Lusi yang malah membuat teman sekelas nya kaget.
"apa?, tubuh mu hancur?, bagaimana bisa?, kamu lagi mimpi ya, btw kak Lisa mana kok nggak ada?, kamu udah gila ya Lin ngomong sendiri gitu?." tanya salah satu teman nya yang duduk di samping nya.
Lusi yang sadar itu langsung kaget dan malah menoleh ke arah para teman-teman nya.
"maaf, tadi aku hanya mimpi. mana mungkin tubuh ku hancur, sedangkan tubuh ku saja baik-baik sekarang." ujar Lin shi yang malah terdiam setelah nya.
dia bicara begitu, namun hati nya terasa sakit saat membayangkan hal itu. rasa sakit saat itu, masih teringat di kepala nya, bahkan ia berharap agar tidak tertabrak lagi suatu hari nanti.
"ada-ada saja kamu, btw maksud kamu satu tahun lalu itu apa?." tanya salah satu teman nya yang malah penasaran.
"itu hanya mimpi, mana mungkin nyata." jawab Lin shi dengan raut wajah ragu-ragu.
"kata kan yang sejujurnya Lin!!!, sebenarnya ibu sudah penasaran sejak awal, kenapa sifat dan juga perilaku mu begitu berubah drastis." ujar buk guru yang memang sudah awal curiga.
"maksud buk guru apaan?, mana mungkin sifat aku aneh." ujar Lin shi yang ingin mengalih kan pembicaraan.
"tidak usah mengalihkan, katakan saja kepada kami nak. sebenarnya ada apa dengan mu selama ini?." tanya buk guru yang malah membuat Lin shi pusing.
ia tidak tau kenapa, tiba-tiba kepala nya terasa begitu sakit, dan juga pandangan mata nya malah memburam begitu saja.
ia sudah tak tahan lagi, bahkan wajah nya juga pucat begitu saja. keringat nya keluar begitu banyak, membuat semua orang panik dengan nya.
"ada apa dengan mu?." tanya buk guru yang malah membuat Revan khawatir.
Revan langsung saja berjalan mengarah ke Lin shi dengan tatapan mata yang begitu khawatir.
__ADS_1
"Lin shi...Lin shi...ada apa?." tanya Revan yang mulai curiga.
"Rev...kepala ku terasa sa...." jawab Lin shi yang malah pingsan begitu saja.