
Hari pun sudah pagi, saat itu terlihat sebuah rumah yang lumayan besar. Rumah itu bukan lah rumah Juli ataupun rumah ibunya. Rumah itu adalah rumah yang di tempati oleh Dokter Ziya, salah satu saksi mata yang mengetahui kalau Juli masih hidup.
Saat itu Dokter Ziya tampak biasa-biasa, ia seakan tidak merasa terbebani atau pun tertekan. Saat itu ia tengah mempersiapkan makanan untuk keluarganya. Saat ia sudah selesai mempersiapkan makanan, ia berpamitan kepada keluarga kalau dirinya akan segeralah pergi ke rumah sakit, karena ia ingin bekerja.
Beberapa saat kemudian, ia kemudian sampai di rumah sakit dan menuju ke ruangan kerja nya.
"Pagi!" sapa Dokter Ziya kepada setiap suster yang ia temui.
Saat ia sudah berada di dalam ruangannya ia langsung duduk di kursi tempat duduknya dan saat itu ia masih tidak menyadari ada sesuatu hal yang aneh di ruangan tempat ia bekerja. Saat itu ia masih tidak menyadari ada sebuah kotak berwarna hitam yang ada di atas meja kerja nya.
Ketika ia sudah sadar kalau ada di sebuah kotak di atas meja kerjanya, Dokter Ziya pun mengambil kotak itu dengan heran.
" Kotak apa ini? Dan milik siapa kotak ini?" tanya Dokter Ziya kepada dirinya sendiri dengan memegangi kotak misterius itu. Ia kemudian pergi dari ruangan itu dan keluar dari ruangan kerja untuk bertanya soal kotak misterius itu.
__ADS_1
Ketika ia sudah berada di luar ruangan, ia melihat salah satu suster berjalan di hadapannya. Melihat hal itu Dokter Ziya pun menghentikan suster itu untuk bertanya kepada suster itu tentang kotak kado yang ada di ruangannya, namun saat itu suster itu mengatakan tidak mengetahui apa pun atau siapa pun yang mengirimkan kotak kado itu. Mendengar jawaban dari suster itu, Dokter Ziya pun berterima kasih kepada suster itu, merasa tidak ada satu orang yang mengetahui tentang kotak itu. Akhirnya Dokter Ziya pun kembali membawa masuk kotak itu ke dalam tempat kerjanya.
Saat ia sudah berada di dalam tempat kerjanya, Dokter Ziya kembali duduk di kursi yang ia duduki di awal, karena penasaran atas isi kotak itu. Akhirnya Dokter Ziya pun memberanikan dirinya untuk membuka kotak itu dan memastikan isi dari kotak itu.
Secara perlahan Dokter Ziya pun membuka kotak itu, saat kotak itu sudah terbuka Dokter Ziya tampak terkejut hal itu terjadi karena ia melihat sebuah surat dengan sebuah foto yang menyerupai Juli.
Melihat hal itu, Dokter Ziya tampak sangat terkejut dan ia kemudian mengambil foto itu dengan sesekali menelan ludah nya sendiri.
"Juli!" panggil Dokter Ziya dengan raut muka terkejut dan ia mulai ketakutan. Tubuhnya tiba tiba panas dingin, keringat sebesar biji jagung membasahi tubuh Ziya.
"Apa kabar Doktor Ziya? Saya harap Anda baik baik saja, Anda masih ingat dengan orang yang ada di foto itu?" Isi surat itu yang terlihat di tulis dengan sebuah darah karena saat itu tintanya berwarna seperti darah. Membaca surat itu, Dokter Ziya melihat ke arah foto yang ia pegang di tangan kirinya selama beberapa saat, setelah itu ia kembali melanjutkan membaca surat yang ia pegang di tangan kanannya. "Dokter Ziya, aku tidak bertele tele lagi. Aku minta kepada Dokter Ziya untuk membuat pengakuan kalau Juli masih hidup dan dia yang sudah membuah Juli bukannya Jihan!."
"Apa?" jawab Dokter Ziya setelah membaca surat itu dengan raut muka heran dan terkejut. "Apa maksudnya?" ucap Dokter Ziya untuk melanjutkan perkataannya yang sebelumnya.
__ADS_1
"Apa dokter masih belum mengerti maksud dari surat itu?" sahut orang misterius dengan pakaian serba hitam, namun saat itu suara dari orang misterius itu terdengar seperti suara dari polisi yang bekerja di bawah Juli.
Mendengar ada orang lain di ruangan itu, Dokter Ziya tampak sangat terkejut dan ia kemudian langsung bangun dari duduknya dengan raut muka yang terlihat sangat ketakutan.
"Siapa kamu dan apa yang kamu inginkan dari saya?" tanya Dokter Ziya kepada orang misterius itu. Mendengar pertanyaan dari Dokter Ziya, orang misterius itu pun membuka penutup mukanya dengan perlahan. Dan saat penutup mukanya sudah terbuka, Dokter Ziya sangat terkejut karena melihat anak buah dari Juli yang terjun ke dalam sungai ternyata masih hidup dan berdiri di hadapannya. Namun, saat itu Dokter Ziya tidak mengenal orang itu dan yang ia kenal hanya lah Juli.
"Siapa kamu dan apa yang kamu inginkan?" tanya Dokter Ziya kepada polisi yang tak lain adalah anak buah Juli.
"Saya sudah katakan kepada Dokter, Anda hanya perlu mengatakan kalau Juli masih hidup dan dia yang membunuh Sista!" jawab anak buah Juli dengan tegas.
"Tapi kenapa? Saya benar benar sangat bingung dengan Anda, kenapa Anda menginginkan hal itu?" jawab Dokter Ziya dengan raut muka kebingungan.
"Bukan urusan Anda, yang jelas lebih baik Anda menuruti apa yang saya inginkan, paham!."
__ADS_1
Mendengar ucapan itu Dokter Ziya pun hanya diam saja dengan bengong dan mata yang terus memandang ke arah anak buah Juli. Tak berselang lama, anak buah Juli pun pergi meninggalkan Dokter Ziya yang saat itu tengah bertugas di rumah sakit. Ketika anak buah Juli sudah pergi melalui jendela ruangan Dokter Ziya, dengan raut muka bingung dan masih terlihat terheran heran ia berjalan mendekati jendela yang di lewati oleh anak buah Juli tersebut.
"Kenapa orang itu menginginkan aku untuk mengungkapkan rahasia tentang kematian sista? Seharunya, jika dia adalah anak buah dari Juli maka dia harusnya mengancam aku bukannya memerintah aku untuk mengatakan yang sebenarnya!. Siapa sebenarnya orang itu? Dan apa rencana yang ingin dilakukan oleh orang itu?" ucap Dokter Ziya dengan banyak pertanyaan yang ia pikirkan di benaknya.