Reinkarnasi

Reinkarnasi
Part 83 Tertangkap


__ADS_3

Di rumah Juli, terlihat Handi tengah melihat ponsel nya yang terpampang  gambar antara dirinya dengan Amar,  beberapa saat kemudian, ponselnya tiba tiba menerima telepon dari seseorang yang nomornya tidak di kenal oleh Handi. Menyadari hal itu, Handi sempat tidak mempedulikan panggilan itu. Hal itu ia lakukan karena ia mengira kalau panggilan itu adalah panggilan yang di lakukan oleh orang jahil kepada dirinya. Namun, saat itu panggilan itu terus menerus menghubungi Handi. Handi yang saat itu sudah kesal dan marah akhirnya mengangkat panggilan itu dan memarahi orang yang menghubungi dirinya. Tapi, tiba tiba ia terdiam dengan raut muka terkejut lalu ia bergegas mengambil sebuah pena yang berada di atas meja yang berada di ruangan tamu milik Ibu Juli.


Saat itu ia terlihat mendengar kan panggilan itu dan terlihat seperti tengah menulis suatu kata atau sebuah alamat.


"Terimakasih atas infonya Bu, " ucap Handi kepada orang yang menghubungi dirinya. Setelah itu ia menutup panggilan yang memanggil dirinya.


"Rumah Sakit Merpati!" ucap Handi dengan nada serius sambil melihat ke arah alamat yang ternyata menunjukkan tempat keberadaan Jihan, Juli dan Amar berada saat itu.


Melihat hal itu, ia pun menghampiri Verdi dan dirinya memberi tahu Verdi tentang keberadaan Jihan, Juli dan Amar berada saat ini.


Menyadari kalau, Handi sudah mengetahui keberadaan mereka, Ibu Juli pun juga ingin melihat anak kembarnya. Pada awalnya, Handi tidak mengizinkan Ibu Juli ikut ke rumah sakit, namun ia akhirnya menuruti apa yang di inginkan oleh ibunya Verdi.


Mereka semua pun akhirnya berangkat menuju ke rumah sakit tempat Juli, Jihan dan Amar berada saat itu.


Di rumah sakit, menyadari kalau Juli sedang marah dengan dirinya, Amar pun memutuskan untuk pergi dari kamar yang di tempati oleh Juli dan Jihan. Hal itu ia lakukan karena ia merasa kalau dengan menjauhi Juli, Juli akan tidak marah lagi.


Ketika dirinya baru beberapa saat keluar dari kamar Juli dan Jihan, penjaga di rumah sakit itu di kejutkan dengan beberapa mobil polisi datang ke rumah sakit. Menyadari kalau Amar melarang polisi datang ke rumah sakit itu, akhirnya penjaga pintu masuk pun memberi tahu suster yang berada di dalam rumah sakit kalau ada polisi yang datang ke rumah sakit.

__ADS_1


Mendengar hal itu suster yang berada di tempat resepsionis pun bergegas berlari untuk memberi tahu Amat tentang hal ini. Ketika suster itu sudah berada di depan Amar. Ia menceritakan apa yang di ucapkan oleh rekannya yang saat itu bertugas menjaga pintu masuk.


Mendengar hal itu, Amar pun langsung bergegas berlari namun sayang terlambat. Handi berhasil melihat dirinya berlari menuju ke salah satu ruangan.


Secara serentak para polisi, Verdi dan orang orang yang lainnya pun mengejar Amar menunju ke kamar itu.


Saat berada di dalam kamar yang di tempati oleh Jihan dan Juli, ia dengan nafas yang terengah-engah Amar memberi tahu Juli tentang keberadaan keluarga Verdi dan Handi  di rumah sakit. Saat mereka bertiga ingin kabur, Handi, Verdi dan Ibu Juli melihat mereka dan di saat Juli akan kabur Handi menodongkan pistol ke arah Juli.


"Angkat tangan, kalian bertiga sudah saya kepungan!" ucap Handi dengan nada tegas kepada Juli, Amar dan Jihan.


Menyadari kalau Jihan dan Juli masih hidup, Versi dan ibunya terlihat sangat terkejut dan mereka berdua tidak percaya dengan apa yang di lihat oleh matanya.


Saat itu tangan kiri Juli seolah berusaha untuk meraih tangan kanannya Jihan agar dia tidak berbalik dan tidak berlari menghampiri ibunya, namun saat itu terlambat Jihan sudah berbalik dan dirinya berjalan mendekati ibunya dengan raut muka sedih.


Melihat hal itu, Juli pun terlihat sedih tapi ia berusaha menguatkan dirinya agar tidak terlihat lemah di hadapan mereka.


Ketika Jihan sudah berlari dan memeluk ibunya, Ibu Juli terlihat sangat peduli dengan Jihan dan ia juga terlihat khawatir dengan keadaan Jihan.

__ADS_1


"Kamu baik baik saja kan Jihan? Kamu tidak papakan Jihan? Ibu sangat khawatir dengan kamu!" ucap Ibu Juli dengan raut muka sedih dan ia memeluk erat Jihan.


Jihan yang mendengar pertanyaan pertanyaan itu, ia terlihat hanya mengangguk kan kepalanya dengan raut muka bahagia karena ia bisa memeluk ibunya lagi.


Saat itu suasana terasa sangat menegangkan, para polisi terlihat menodongkan pistol ke arah Juli dan Amar, sedang kan Juli dan Amat tidak memiliki senjata apapun.


Menyadari hal itu, Juli pun akhirnya berbalik dan melihat ke arah Verdi dan Ibunya.


"Welcome Mama dan kakak ku tersayang!" ucap Juli dengan wajah santai, dan dirinya terlihat justru menyambut kedua orang dengan para polisi polisi itu.


"Juli!" panggil Ibu Juli dengan lirih lalu ia melepaskan pelukannya kepada Jihan dan dengan perlahan berjalan menghampiri Juli. Namun, saat baru beberapa langkah, langkahnya justru di hentikan oleh Verdi dengan memegang salah satu tangan ibunya dan dirinya menggeleng kan kepalanya.


Melihat hal itu, Juli yang saat itu baru sadar dan dirinya baru saja pulih dari koma. Dengan perlahan berjalan mendekati salah satu dokter yang saat itu tengah membawa beberapa jenis pisau operasi. Ketika Juli mengambil langkah, di setiap langkah mata pistol terus mengarah dan mengawasi dirinya.  Amar yang melihat hal itu ia terlihat sangat khawatir namun ia tidak bisa berkata kata, karena ia tahu Juli bisa lepas dari semua ini.


"Pisau yang bagus Dokter!" ucap Juli dengan memainkan pisau itu.


"Turun kan pisau itu!" sahut Handi dengan tegas sambil mengarahkan pistol itu ke arah Juli.

__ADS_1


Juli yang melihat hal itu hanya diam  dan mendengar ucapan itu pun hanya menatap tajam pisau dengan memainkan pisau itu yang di pegang oleh dokter itu. Dokter yang melihat hal itu, ia terlihat sangat ketakutan dan ia hanya diam saja dengan tangan dan tubuh gemetar.


__ADS_2