
"A... Aku minta maaf sama Kakak, tapi aku tidak menahan rasa rindu dan sayang ku kepada Ibu!" jawab Jihan dengan sedih dan berurai air mata. Menderita ucapan itu, Juli pun langsung menampar keras Jihan hingga Jihan memalingkan wajahnya.
Mata Juli yang saat itu berkaca kaca dan air mata yang saat tertahan, tiba tiba ia meneteskan air mata dan ia kemudian memeluk erat Jihan. Ia berbisik kepada Jihan dengan air mata yang terus berderai membasahi pipinya.
"Sayang boleh sayang Jihan, rindu juga boleh rindu. Tapi, kamu juga harus tahu, rasa rindu itu belum tentu akan berakhir baik untuk diri kamu. Kamu harus tahu hal itu," bisik Juli ke dekat telinga Jihan, Jihan yang mendengar ucapan itu hanya diam dengan air mata membasahi pipinya.
Setelah mengatakan hal itu, Juli pun melepaskan pelukannya dengan Jihan lalu ia mengajak Jihan untuk pergi dari rumah ibunya. Namun, saat itu Jihan tidak ingin di ajak pergi dengan Juli dari rumah itu. Melihat sikap keras kepala Jihan, Juli pun akhirnya tersulut emosi. Perdebatan antara kakak dan adik yang tidak diinginkan pun akhirnya terjadi, kedua orang itu tidak mau mengalah antara satu dengan yang lainnya.
Tiba tiba, perdebatan mereka berakhir saat mobil Ibu Juli datang dari luar rumah. Melihat kedatangan mobil itu, Juli pun memeriksa mobil yang baru datang tersebut melalui jendela kamarnya. Menyadari kalau ibunya yang datang, Juli pun meminta polisi itu untuk mendekap Jihan dan menyembunyikan Jihan. Melihat sikap Juli, Jihan hanya meronta berusaha untuk melepaskan diri dari si polisi itu.
__ADS_1
Setelah perintahnya di lakukan, Juli pun berdiri di dekat pintu lalu ia mematikan tombol lampu secara bersamaan. Suasana yang saat itu terang benderang, tiba tiba sunyi dan gelap. Saat itu Ibu Juli tidak menyadarinya kalau lampu rumah nya tiba tiba mati, hal itu terjadi karena Ibu Juli sibuk dengan menaruh kunci mobilnya di dalam tas yang ia bawa.
"Tadi aku merasa lampunya hidup, lalu kenapa sekarang mati?" tanya Ibu Juli dengan kebingungan. Saat itu, Ibu Juli merasa ada sesuatu yang aneh terjadi namun ia tidak mempedulikan apa yang di rasakan nya tersebut. Ia pun masuk ke dalam rumah, saat berada di dalam rumah. Ibu Juli merasa rumahnya sangat sepi dan sunyi. Didalam keadaan ruangan yang gelap dengan Cahaya remang remang dari luar, Ibu Juli berjalan perlahan untuk mencari keberadaan tombol lampu di ruangan itu. Saat ia menemukan tombol lampu tersebut, ia melihat Juli berada di hadapannya. Wajah terkejut terlihat jelas di muka Ibu Juli. Perdebatan panas pun terjadi antara Juli dan ibunya hingga membuat Juli kembali pendarahan banyak di perutnya. Menyadari kalau Juli pendarahan, Jihan dan polisi yang memantau dari kamar pun tiba tiba langsung terdiam dan terlihat sangat khawatir. Secara spontan polisi itu langsung melepaskan Jihan dan berlari keluar kamar dan langsung meraih Juli yang akan terjatuh. Jihan yang saat itu ingin keluar dari kamar dan membantu Juli, tiba tiba langkahnya terhenti karena ia menerima pukulan keras dari seseorang yang berada di belakang tubuhnya hingg membuat dirinya pingsan. Saat itu tidak terlihat siapa orang yang menculik Jihan, hanya terlihat tangan dari penculikan nya keluar dengan tiba tiba dan berdiri di belakang Jihan dengan sebatang kayu lalu orang itu memukul kepala Jihan hingga pingsan. Setelah itu, orang misterius itu membawa Jihan pergi dari kamar itu bersamaan dengan beberapa dokter datang dan membawa Juli keluar dari rumahnya.
Keadaan pun kembali seperti semula, di mana terlihat si polisi, dokter, Juli dan Jihan berada di dalam mobil ambulans. Sedangkan Ibu Juli terlihat mengikuti mobil ambulans itu dengan raut muka khawatir dengan keadaan Juli. Saat itu si polisi tidak menyadari kalau Ibu Juli mengikuti mobil ambulance yang ia tumpangi setelah menyadari kalau Ibu Juli mengikuti mobil itu. Polisi yang berada di dalam mobil itu, mencari cara agar ia bisa menghindari Ibu Juli. Hal itu ia lakukan, karena ia tidak ingin rahasia kalau Juli masih hidup terbongkar oleh Ibu Juli ataupun Verdi.
Ketika berada di dalam mobil dan memikirkan cara untuk menghindari Ibu Juli, tiba tiba polisi itu mendapatkan ide untuk mengelabuhi Ibu Juli. Tak berselang lama, mobil ambulans itu sampai di rumah sakit namun saat bak mobil di buka ia terlihat sangat terkejut karena saat itu Ibu Juli melihat keranda yang sudah di tutup dengan kain berwarna hijau. Wajah terkejut tampak jelas di raut muka Ibu Juli, ia merasa tidak percaya kalau anaknya sudah meninggal. Ketika Ibu Juli menganggap kalau keranda itu berisi anaknya, ia hanya menangis hingga sesenggukan. Tanpa di sadari oleh Ibu Juli polisi itu keluar dari mobil ambulans dengan pakaian seorang suster dan suster. Hal itu ia lakukan karena ia ingin membuat Ibu Juli terkecoh.
Merasa dirinya berhasil mengecoh Ibu Juli polisi itu pun membawa Juli ke ruang gawat darurat. Dengan keadaan yang khawatir, polisi itu menemani Juli ke ruang gawat darurat. Beberapa saat kemudian, beberapa suster membantu polisi itu untuk membawa Juli masuk ke dalam ruang gawat darurat.
__ADS_1
Di luar rumah sakit, Ibu Juli terus menangis meratapi nasib anaknya yang malang. Ia menangis di tengah malam dengan memeluk keranda itu, namun saat ia membuka penutup keranda itu di bagian bagian kepalanya. Ia terlihat sangat terkejut karena keranda itu kosong, melihat kalau keranda itu kosong. Ibu Juli langsung menghentikan tangisannya dan menghapus air matanya.
"Apa apaan ini dokter?" tanya Ibu Juli setelah menyadari kalau keranda itu kosong.
"Maaf Bu, dari tadi kami memang membawa keranda kosong tidak ada yang meninggal," jawab salah satu suster yang berada di tempat itu dengan raut muka santai tidak ada masalah.
"Terus pasien yang ada di sini tadi kemana? Tadi juga ada seorang polis kan disini?" ucap Ibu Juli dengan tegas, kerena ia melihat Jihan di masukkan ke dalam mobil ambulans yang ia ikuti.
Waktu itu suster dan Ibu Juki saling adu opini, para suster mengatakan kalau mereka tidak membawa siapapun di mobil ambulans nya sedangkan Ibu Juli merasa apa yang di katakan nya itu tidak salah di mana dirinya melihat salah satu anaknya di masukkan ke dalam ambulans yang sama. Saat itu, ia merasa bingung karena ia yakin melihat anaknya di masukkan ke dalam mobil ambulans itu namun saat di lihat ke dalam mobil ambulans itu pun juga dirinya tidak melihat siapa siapa di dalamnya. Akhirnya, tanpa berpikir panjang ia pun pergi dari tempat itu dan meninggalkan rumah sakit dengan pikiran yang masih memikirkan tentang kejadian beberapa saat yang lalu terjadi di hidupnya.
__ADS_1