Reinkarnasi

Reinkarnasi
Part 42 Jihan salah arah


__ADS_3

Beberapa saat kemudian, polisi itu sampai di halaman belakang rumah sakit. Saat itu keadaan di tempat itu sangat sepi dan sunyi, melihat tidak ada seorang pun di ruangan itu polisi itu pun berbalik dan berusaha pergi namun saat ia ingin terdengar suara langkah kaki mendekati dirinya dan tak berselang lama. Seseorang dengan pakaian yang sangat tertutup dan berwarna hitam senada dengan sekujur tubuh di tutup rapat oleh baju hitam itu.


"Ada apa? Kenapa kamu mengajak pertemuan ini?" tanya polisi itu kepada orang misterius itu dengan nada serius. Mendengar pertanyaan itu orang misterius pun mendekati polisi itu dan membisikkan sesuatu kepada polisi itu. Polisi itu yang mendengar ucapan dari orang misterius itu ia langsung terlihat terkejut. "Bagaimana dia bisa melakukan hal itu? Apa dia tidak memikirkan orang orang di sini? Sangat amat buruk!."


Saat itu si polisi tersebut terlihat sangat marah, terutama setelah ia tahu mendengar penjelasan dari orang misterius itu. Setalah menceritakan panjang lebar kepada orang misterius itu, orang misterius itu pergi dari tempat itu dan meninggalkan polisi itu.


Di kantor polisi, terlihat di kantor polisi Verdi duduk di kursi interogasi dengan keadaan luka lebam dimana mana. Tak berselang lama, polisi yang mengintrogasi Verdi datang dengan tenang dan ia kemudian duduk di hadapan Verdi. Ia menatap wajah Verdi dengan serius dan Verdi pun membalas tatapan mata itu dengan sayup dan ia juga terlihat sesekali mengerang kesakitan.


"Bagaimana keadaan kamu? Apa kamu lebih baik?" tanya polisi itu dengan baik.


Mendengar pertanyaan itu Verdi hanya menganggukkan kepalanya.


"Dengarkan saya, saya tidak ingin memiliki masalah lagi dengan atasan saya ataupun dengan Anda, saya mohon tolong katakan yang sebenarnya!."

__ADS_1


"Apa yang harus saya katakan? Kalau kenyataan memang bukan saya pembunuh dari ayah tiri saya. Memang, ayah tiri saya sudah meninggal, saya mengatakannya dengan jujur namun bukan saya pembunuhnya!. Ada orang lain yang membunuh ayah tiri saya," jawab Verdi dengan lirih kepada polisi itu. Mendengar jawaban dari Verdi, polisi itu pun menanyakan buktinya kalau benar bukan dirinya yang membunuh ayah tirinya.


Mendengar ucapan itu, Verdi pun menceritakan tentang kejadian beberapa saat sebelum dirinya menemukan ayah tirinya meninggal dunia. Ia menceritakan ada orang yang meneror dirinya dari rumah, dari ibunya yang menerima kabar kalau suaminya di bawa ke kantor polisi hingga berada di gedung dan melihat ayah tirinya jatuh dari ketinggian.


"Lalu apa yang kamu lakukan, setelah melihat ayah tiri kamu jatuh dari ketinggian?" tanya polisi itu dengan nada serius.


Mendengar pertanyaan itu, Verdi pun mengangkat tinggi kepalanya dan ia melihat ke arah polisi itu.


"Saat itu saya sangat ketakutan dan saya juga bingung harus melakukan apa, setelah saya melihat ayah tiri saya terjatuh tepat di atas mobil saya dengan keadaan berlumur darah. Saya ingin menghubungi polisi, namun saya tidak ingin saya tersangkut dengan permasalahan itu. Akhirnya... Akhirnya saya memutuskan untuk mencari kain untuk membungkus mayat Tuan dan saya juga mencari kain untuk membersihkan bekas noda darah yang ada di mobil saya!" terang Verdi kepada polisi itu dengan santai.


"Lalu, setalah saya membersihkan darah yang mengenai mobil saya, saya memasukkan ayah saya ke dalam bagasi mobil. Setalah itu saya membawa ayah tiri saya pergi dari tempat itu untuk mencari tempat untuk membuang mayat ayah tiri saya," jawab Verdi dengan sedikit mulai takut. "Setalah menemukan tempat yang cocok untuk membuang mayat itu, akhirnya saya pun membuang mayat itu bersama dengan kain dan barang barang yang lainnya kecuali mobil!."


"Kamu membuang mayat itu ke sungai?" jawab polisi itu dengan mantap tajam Verdi. Mendengar ucapan itu Verdi terlihat sangat terkejut dan sangat panik, ia menatap polisi itu dengan tatapan mata yang di penuhi air mata dan kekhawatiran.

__ADS_1


Saat itu Verdi tidak menjawab sepatah katapun kepada polisi itu. Menyadari kalau Verdi tidak akan menjawab dirinya polisi itu pun langsung menangkap Verdi dan menjebloskan Verdi ke penjara hal itu karena polisi itu percaya kalau cerita yang di ucapakan oleh Verdi hanya lah karangan Verdi sendiri. Verdi yang merasa tidak bersalah berusaha untuk menolak kalau dia di jebloskan ke penjara. Ia meronta dan menolak di masukkan ke dalam sel penjara.


Setelah Verdi di masukkan ke dalam penjara, salah satu polisi memberi tahu Ibu Juli yang saat itu tengah mempersiapkan makan untuk Jihan. Saat itu, Ibu Juli tengah berada di dapur, saat ia tengah sibuk memasak ponsel yang berada tidak jauh dari dirinya berbunyi. Mendengar ponselnya berbunyi, Ibu Juli pun mengangkat ponselnya.


"Halo" sapa Ibu Juli kepada orang yang menelepon dirinya. Setelah beberapa saat menelepon, raut muka Ibu Juli terlihat berubah. Dimana ia biasa saja namun tiba tiba ia terlihat terkejut dan bersedih. Ia meneteskan air mata setelah menerima telepon itu.


Saat itu Ibu Juli menerima telepon dari polisi, mereka memberi kabar kalau Verdi di nyatakan sebagai tersangka dan harus menjalani hukuman atas pembunuhan ayah tirinya. Ibu Juli sangat sedih dengan berita tersebut.


Tak berselang lama, Ibu Juli menyelesaikan masakannya. Setalah itu ia membawa masakannya ke hadapan Jihan. Jihan yang melihat ibunya sangat perhatian dengan dirinya, ia tidak menyadari kalau Jihan akan di kepung oleh badai.


Saat itu Jihan sudah berada di ruang makan dengan makanan yang sudah di tata rapi di hadapannya.


"Aku kira, Ibu tidak menyayangi aku. Tapi ternyata aku salah, Ibu ternyata sangat menyayangi aku," ucap Jihan kepada ibunya yang tengah mempersiapkan makanan untuk dirinya. Mendengar ucapan dari Jihan, Ibu Juli pun tersenyum kecil di bibirnya dengan menatakan makanan untuk Jihan.

__ADS_1


Setelah selesai menata makanan untuk Jihan, Ibu Juli menjauhi Jihan dan pergi ke dapur. Tanpa di sadari oleh Jihan, ia menghubungi polisi dan memberi tahu kalau ada jaminan untuk membebaskan Verdi keluar dari penjara. Ia berpikir akan menjebloskan Jihan ke penjara untuk membebaskan Verdi dari penjara. Setalah menghubungi polisi itu, Ibu Juli pun kembali ke rumah makan dan bergabung dengan Verdi.


Beberapa saat kemudian, Jihan pun terlihat selesai makan begitu pula ibunya. Setalah itu Jihan dan ibunya merapikan makanan yang ada di atas meja. Menyadari kalau Jihan sangat lelah akhirnya Ibu Juli meminta Jihan untuk pergi ke kamar Juli dan beristirahat di dalam kamar Juli. Jihan sayang sangat sayang dengan ibunya, ia pun menuruti ibunya dan pergi ke kamar Juli untuk beristirahat. Setelah Jihan pergi ke dalam kamar Juli, Ibu Juli melihat Jihan yang terus melangkah menjauhi pandangannya dengan senyum yang jahat di bibirnya.


__ADS_2