
Hari demi hari di lalui oleh Verdi dan ibunya dengan baik. Ia bahkan melupakan suaminya yang sudah di buang oleh Verdi ke sungai. Teror demi teror yang di lakukan oleh orang yang mirip dengan Juli pun juga menghilang. Di saat bersamaan, keadaan Juli mulai membaik, ia bahkan sudah mulai bangun dan berbicara dengan para polisi yang selama ini menunggu dirinya. Walaupun ia masih lemah dan terlihat masih pucat Juli justru ia sudah menginginkan balas dendam lagi, namun semangat itu tembang saat salah satu polisi yang ada di tempat itu memberi tahu kalau semasa Juli koma, keluarganya di teror oleh. orang lain.
Mendengar penjelasan itu, wajah bingung dan heran terlihat sangat jelas di raut muka Juli.
"Apa kalian sudah mencari tahu siapa dia?" tanya Juli dengan lirih sambil sesekali ia mengerang kesakitan.
"Kami sudah mencari tahu siapa orang itu, namun kami masih belum mengetahui siapa orang itu hingga saat ini," jawab salah satu polisi yang ada di dalam ruangan itu.
Mendengar jawaban dari si polisi wajah heran bercampur bingung, berserta penasaran sangat terlihat jelas dari muka Juli. Ia kemudian meminta bantuan dari si polisi itu untuk turun dari tempat tidurnya. Pada awalnya para polisi itu melarang Juli untuk turun dari tempat tidur karena mereka melihat kalau Juli sangat lemah dan pucat, tak hanya si polisi itu, bahkan dokter yang merawatnya pun melarang Juli untuk turun dari tempat tidur dan pergi namun Juli tidak mendengarkan mereka dan lebih memilih untuk tetap pergi dari tempat itu.
"Bos, keadaan Bos masih belum baik. Tapi kenapa Bos memaksa untuk pergi," ucap Juli dengan nada serius dan tegas.
Mendengar ucapan itu Juli menatap tajam laki laki yang mengatakan hal itu kepada dirinya. Ia kemudian menarik kerah si polisi yang mengatakan hal itu dengan kasar.
"Dengarkan aku baik baik, bahkan kalau pun aku harus membunuh kamu detik ini. Aku tentu bisa melakukannya, jadi kamu jangan macam macam dengan aku. Turuti saja apapun yang aku perintahkan ke kamu, mengerti!" ucap Juli dengan nada serius dan tegas lalu ia melepaskan kerah baju laki-laki itu. Di saat bersamaan terlihat noda darah keluar dari perut Juli hingga menembus pakaian yang ia pakai, saat itu Juli menyadari kalau perutnya sangat sakit namun ia tidak mempedulikan hal itu dan memilih untuk tetap pergi meninggalkan rumah sakit. Bahkan ia pergi meninggalkan rumah sakit dengan terburu-buru dan penuh dengan amarah.
Beberapa saat kemudian, Juli pun berada di dalam mobil dengan menginjak gas yang tinggi Juli pun melajukan mobilnya. Tanpa di sadari oleh Juli mobil yang ia kendarai di ikuti oleh orang yang mirip dengan dirinya.
__ADS_1
"Hello kembaran ku, akhirnya kamu pulih juga kini tinggal menunggu waktu untuk memberi hadiah spesial buat Ibu dan Verdi!" ucap orang yang mirip dengan Juli dan ia kemudian menambah kecepatan mobilnya.
Tak berselang lama, Juli pun sampai di sebuah rumah yang mewah dan besar namun rumah itu bukanlah rumah ibunya, melainkan rumah Juli sendiri. Sesampainya di rumah ia masuk ke dalam rumah nya dan terlihat buru buru masuk kedalam rumah. Melihat Juli berhenti di rumah orang lain, orang yang mirip dengan Juli terlihat sangat kebingungan karena ia mengira kalau ia akan berhenti di rumah ibunya.
Melihat Juli sudah masuk ke dalam rumah, orang misterius itu pun juga pergi ke rumah itu dengan diam diam. Saat ia sudah berasa di dekat rumah itu. Ia melihat Juli tengah berbicara dengan seseorang namun ia tidak mengetahui siapa orang itu sebenarnya, karena wajah dan tubuh dari orang yang di ajak bicara oleh Juli tertutup oleh kain berwarna hitam. Ia terlihat seperti kebingungan, marah dan heran saat ia bercakap cakap dengan orang misterius di rumahnya.
"Siapa sebenarnya orang yang ajak bicara oleh Juli?" tanya orang yang mirip dengan Juli di luar kamar dengan mata yang terus memandangi ke arah kedua orang itu dengan raut muka yang sangat penasaran.
Setalah itu ia pergi dari tempat itu karena ia tidak ingin Juli dan orang lain melihat keberadaannya. Di saat bersamaan, Juli pun juga masuk ke dalam kamarnya untuk menganti bajunya yang sudah di penuhi noda merah darah.
Saat dirinya sudah mengganti pakaiannya, Juli pun keluar dari rumah itu. Dengan langkah yang terlihat asik lemas, ia keluar dari rumah dan mengunci rumah dari luar agar terlihat rumah itu seperti tidak di tempati.
Di dalam rumah terlihat seorang laki laki berjalan dengan pakaian misterius setelah melihat orang yang mirip dengan Juli berjalan mendekati rumah. Ia mengetahui hal itu dari CCTV yang di pasang oleh Juli untuk mengawasi siapa yang masuk dan siapa yang keluar dari rumahnya.
"Siapa sebenarnya orang yang di ajak Juli berbicara tadi?" tanya orang yang mirip dengan Juli kepada dirinya sendiri sambil melihat lihat di kaca rumah Juli.
Di dalam mobil yang melaju, tiba tiba ponsel Juli berbunyi saat itu ponselnya menerima panggilan dari seseorang yang bernama *Misteri 2* melihat panggilan itu Juli pun langsung mengangkat panggilan itu.
__ADS_1
"Iya, halo. Ada apa? " tanya Juli setelah mendekatkan ponselnya ke arah telinga.
Setalah mengatakan hal itu, tiba tiba Juli langsung menghentikan mobilnya secara mendadak. Ia terlihat terkejut setalah mendengar penjelasan dari orang yang menghubungi dirinya. Ia pun langsung memutar balik mobilnya untuk mengetahui siapa orang yang di maksud oleh orang misterius itu. Juli pun langsung tancap gas saat setalah mendengar ucapan itu.
"Siapa yang sedang mengawasi rumah ku?" tanya Juli kepada dirinya sendiri.
Tak membutuhkan waktu lama, Juli pun akhirnya sampai di depan rumahnya. Saat itu ia memang melihat laki laki mirip dengan dirinya berada di dekat rumahnya dan tengah mengawasi dirinya. Melihat orang itu, Juli pun hanya tersenyum dengan jahat kepada orang itu.
"Ternyata, sebuah rahasia sudah terbongkar. Kini kita lihat, apa yang akan terjadi selanjutnya?" ucap Juli dengan tegas lalu ia keluar dari mobilnya untuk menghampiri kembaran nya.
Saat itu orang misterius yang berdidi mengawasi rumah Juli masih terlihat tidak menyadari kalau ada Juli di dekat rumah. Ketika Juli sudah berada benar benar di dekat kembaran nya, Juli pun menarik bahu orang itu dan mencekik leher orang itu dengan membenturkan tubuhnya ke jendela rumahnya.
"Ngapain kamu disisi?" tanya Juli dengan nada tegas.
Melihat Juli mencekik dirinya, orang yang mirip dengan Juli pun hanya diam tanpa mengatakan sepatah katapun. Ia hanya berusaha melepaskan tangan Juli yang mencekik lehernya.
"Juli! Lepaskan aku!" ucap kembaran Juli dengan merintih kesakitan.
__ADS_1
Mendengar ucapan itu, Juli justru mencekik leher kembarannya dengan semakin erat dan kasar, bahkan ia sesekali membenturkan tubuhnya kembaran ke kaca jendela rumahnya tanpa memberi ampun.