Reinkarnasi

Reinkarnasi
Part 39 mengintrogasi Verdi


__ADS_3

Tak berselang lama, mobil dari orang misterius itu sampai di rumah sakit. Sesampainya di sana orang misterius itu mengganti pakaiannya dengan jaket berwana hita dan ia terlihat memakai masker untuk menutupi wajahnya. Setelah ia merasa sudah aman, orang misterius itu masuk ke dalam rumah sakit dengan santai. Saat berada di dalam kamar Juli, ia membisikkan sesuatu kepada Jihan. Jihan yang mendengar perkataan dari si supir itu hanya terkejut, matanya terbuka lebar .


"Apa kamu serius?!" tanya Jihan dengan terkejut dan terbangun dari duduknya. Melihat hal itu orang misterius itu hanya mengangguk kan kepalanya. Jihan yang mengetahui hal itu, ia tersenyum dan sangat bahagia atas berita yang di sampaikan oleh orang misterius itu.


Di tempat lain, mobil polisi terlihat terus berjalan menuju ke kantor polisi dengan membawa Verdi. Saat itu Verdi masih terlihat tenang karena ia tidak mengetahui kalau masalah yang ia hadapi bukan lah masalah tentang penipuan ataupun pembunuhan Juli.


Ketika, ia sampai di kantor polisi Verdi di bawa ke dalam ruangan yang kedap suara. Ia akan di beri pertanyaan pertanyaan tentang si supir. Saat itu ia masih saja tetap tenang karena ia masih merasa tidak bersalah dan tidak ada bukti yang merujuk kepada dirinya.


Saat ia sudah berada di ruang interogasi, ia di dudukkan di kursi kayu yang berada tepat di bawah lampu. Lalu, salah satu dari polisi melepaskan borgol yang mengikat tangan Verdi.


"Apa yang ingin Anda tanyakan ke saya?" tanya Verdi dengan nada marah dan tegas saat melihat salah satu pemimpin polisi mendatangi ruangan itu untuk menginterogasi Verdi.


"Tenang Pak Verdi, jangan terburu buru," jawab polisi dengan santai lalu ia menarik kursi yang ada tidak jauh dari tempat ia duduk lalu ia duduk di kursi itu. "Apa Pak Verdi menginginkan sesuatu?" tanya polisi itu setelah duduk di kursi yang berhadapan dengan Verdi.


Verdi yang mendengar tawaran itu, ia pun menggelengkan kepalanya karena saat itu ia tidak menginginkan sesuatu.

__ADS_1


"Ya sudah kalau Pak Verdi tidak menginginkan sesuatu. Saya minta tolong, tolong ambil kan air putih," pinta si pemimpin polisi kepada anak buahnya yang lainnya.


Mendengar perintah dari atasan nya, polisi itu pun langsung bergegas pergi untuk mengambil minuman.


Tak berselang lama, si pemimpin polisi itu bangun dari duduknya dan pergi keluar ruangan untuk menghampiri orang orang yang merekam percakapan antara si polisi dan Verdi.


"Dimana barang buktinya?" tanya si pemimpin polisi kepada salah satu wanita yang berpakaian rapi seperti seorang polisi wanita. Mendengar pertanyaan itu, wanita itu pergi ke ruangan rahasia, yang isinya adalah barang bukti yang di dapatkan setiap kasus. Saat itu, Wanita itu pergi ke salah satu laci lemari untuk mencari bukti yang di perlukan untuk menginterogasi Verdi. Saat wanita itu sudah menemukan barang bukti, wanita itu memberikan sebuah kain yang terlihat ada sebuah noda darah dan sidik jari Verdi di kain itu.


Setelah menerima kain dari wanita itu, si pemimpin polisi pun datang kembali ke ruang interogasi. Sesampainya di sana si pemimpin polisi itu masih menyembunyikan kain itu dan ia duduk di kursi tempat awal dia duduk. Lalu, polisi yang ia perintah untuk membawakan minuman pun datang dan menaruh satu botol minum di atas meja.


"Pak polisi, dari pada terus terusan seperti ini, lebih baik bapak terang terangan dan menanyakan apa yang ingin bapak ketahui. Jangan membuat saya bosan di sini!" ucap Verdi dengan nada marah, karena ia melihat polisi itu terlihat seperti mengukur ukur waktu.


Setalah polisi itu selesai meminum satu cegukan air dari botol itu, ia menaruh botol itu dengan perlahan. Setalah itu ia menaruh barang bukti atau kain yang bernoda kan darah dengan sidik jari Verdi di atas meja ruang interogasi. Verdi yang melihat hal itu seketika langsung berubah sikap dimana ia tiba tiba terkejut saat melihat kain itu di atas meja.


Menyadari kalau Verdi terkejut saat melihat kain itu, polisi itu pun bangun dan mendekati Verdi.

__ADS_1


"Ada apa Pak Verdi? Saya lihat, sepertinya Anda sangat terkejut melihat kain itu!" ucap polisi itu dengan santai lalu ia berdiri di dekat Verdi. "Sekarang kita mulai kuisnya, namun kuis saat ini tanpa password atau hal hal lainnya. Anda hanya perlu menjawabnya saja. Kita mulai?" lanjut polisi itu dengan nada santai. Namun, di saat bersamaan sikap arrogant dari Verdi pun seketika luluh saat mendengar ucapan dari polisi itu.


"Apa Anda pernah melihat kain ini sebelumnya?" tanya polisi itu dengan nada serius sambil berjalan ke sana kemari di belakang Verdi.


Verdi yang mendengar pertanyaan itu langsung gugup dan tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. Ia kemudian menelan ludahnya sendiri untuk menenangkan dirinya sendiri.


"Tidak, saya tidak pernah melihat kain itu dimana pun!" jawab Verdi dengan tegang dan gugup.


Melihat Verdi sangat gugup menjawab pertanyaan itu, polisi itu menghampiri Verdi dan memijat kedua bahu Verdi dengan mengatakan "tenang Pak Verdi, jangan gugup. Kalau Anda memang tidak melihat kain itu, jika Anda gugup...." polisi itu pun berhenti mengatakan sepatah kata pun, setalah itu ia mendekatkan kepalanya ke telinga Verdi dengan melanjutkan berkata "berarti Anda mengetahui tentang kain itu, iya kan? Maka, saya mohon santai saja!."


Polisi itu pun menjauhi Verdi, dan kembali menanyakan sebuah pertanyaan kepada Verdi tentang kain itu.


"Pak Verdi, jika Anda tidak tahu tentang kain itu lalu bagaimana? Bagaimana bisa ada sidik jari Anda di kain itu?" tanya polisi itu lagi dengan santai dan kembali berjalan ke sana kemari di belakang Verdi. Verdi yang mendengar hal itu semakin gugup dan ketakutan.


"Mun.. Mungkin ada orang lain yang memiliki sidik jari yang sama dengan saya," jawab Verdi dengan gugup. Mendengar jawaban dari Verdi polisi itu pun berbalik dan mendekatkan wajahnya kembali ke telinga Verdi.

__ADS_1


"Sidik jari yang sama? Apakah itu mungkin?" jawab polisi itu dengan berhenti beberapa saat lalu ia kembali menjauhkan wajahnya dari telinga Verdi. "Baiklah, kita anggap ada orang lain yang memiliki sidik jari yang sama!. Tapi bagaimana bisa? Sidik jari di kain ini, ada juga di alat kemudi Anda!."


Mendengar ucapan dari si polisi itu, Verdi pun benar benar tidak bisa berkata kata ia hanya bisa diam seribu bahasa tanpa bisa mengelak lagi dari polisi itu. Ia hanya diam dengan mata yang seakan bingung melihat ke sana kemari untuk memikirkan alasan alasan yang lainnya.


__ADS_2