
Keesokkan harinya, terlihat Juli sudah berada di rumahnya. Saat itu dengan di bantu oleh si polisi, ia masuk ke dalam rumah. Ketika ia sudah berada di dalam rumah, ia duduk di sofa rumahnya. Saat itu, rumah Juli tampak sangat sepi, karena Jihan tidak berada di rumah itu. Setalah Juli duduk di sofa rumahnya, si polisi itu menawari Juli minum, namun Juli menolak hal itu dan lebih memilih untuk beristirahat di kamarnya karena ia sudah merindukan untuk tidur di kamarnya.
Ketika Juli sudah berada di dalam kamarnya, ia pun duduk di atas tempat tidurnya dengan tangan kanannya memegangi perutnya yang terluka. Sesekali terdengar Juli mengerang kesakitan akibat dari luka tersebut.
Beberapa saat kemudian, polisi itu pun datang menuju ke kamar Juli dengan membawa sebuah nampan yang berisi makanan. Saat polisi itu berada di dalam kamar Juli, ia melihat Juli tengah duduk dengan sebuah pigura di tangannya. Menyadari kalau pigura yang ada di tangan Juli adalah foto Jihan, dengan perlahan ia berjalan menghampiri Juli. Saat ia sudah berada di dekat Juli, ia berdiri di dekat Juli tanpa menaruh nampan itu.
Juli yang menyadari kalau ada orang lain yang masuk ke dalam kamarnya, ia pun langsung menutup foto itu dengan sebuah bantal yang tidak jauh dari dirinya.
"Ada apa?" tanya polisi itu dengan sedih melihat keadaan Juli.
"Tidak ada papa, aku hanya sedang duduk!."
__ADS_1
"Kenapa kamu menutup foto itu? Aku tahu, foto itu adalah foto Jihan!" jawab polisi itu dengan santai lalu ia menaruh nampan itu di atas meja yang tidak jauh dari dirinya. Ia kemudian duduk di tempat tidur dan duduk di samping Juli.
Ia kemudian meraih banyak yang menutupi foto itu, dan benar ternyata apa yang di sembunyikan oleh Juli adalah foto Jihan. Menyadari hal itu, Juli pun menundukkan kepalanya dengan sesekali memegangi perutnya yang masih terasa sakit.
"Aku hanya rindu dengan Jihan, aku takut ibu melakukan hal hal buruk dengan Jihan!" ucap Juli dengan raut muka sedih dan mata yang berkaca kaca.
Mendengar ucapan itu polisi itu pun mendekatkan tubuhnya ke arah Juli, lalu ia mendekatkan tubuhnya dengan memegangi salah satu tangan Juli. Polisi itu tampak sangat sedih mendengar ucapan dari Juli, namun ia berusaha untuk menenangkan Juli agar tidak semakin sedih.
Ketika Juli tengah menikmati makanan yang di bawa oleh si polisi itu, orang misterius lain datang menghampiri Juli dan si polisi itu. Ia menghampiri Juli dengan berjalan perlahan, Juli yang saat itu tengah fokus untuk menghabiskan makanannya, ia pun langsung melihat ke arah si orang misterius itu dengan tatapan mata yang serius. Tak berselang lama, orang misterius itu pun berada di dekat Juli dengan pandangan mata melihat ke arah Juli.
Melihat hal itu, Juli pun bangun dari duduknya dan berdiri di hadapan orang misterius itu dengan salah satu tangan yang memegangi luka di perutnya. Ketika melihat Juli bangun dari duduknya, polisi yang bersamaan Juli pun ikut bangun dan dirinya berdiri di belakang Juli.
__ADS_1
"Apa yang kamu inginkan?" tanya Juli kepada orang misterius itu dengan santai.
"Aku ingin, diri ku lepas dari bayang bayang mu! Aku tidak mau terus terusan menjadi anak buah kamu," ucap orang misterius itu dengan suara seorang wanita. Mendengar hal itu, Juli pun hanya dia dengan tatapan tajam melihat ke arah orang misterius itu.
"Kalau kamu ingin melepaskan diri kamu dan keluar dari persembunyiannya kamu, maka lakukanlah. Tapi kamu harus ingat, ketika kamu keluar dari bayangan orang misterius, aku yakin kamu akan menjadi buronan polisi!."
Saat itu Juli mengatakan hal itu dengan santai, mendengar ucapan dari Juli orang misterius wanita itu terlihat sangat marah dan kesal, lalu tanpa ragu ia mengarahkan tangannya ke leher Juli. Sontak, polisi yang melihat hal itu langsung terkejut dan berusaha melepas cekikan itu namun Juli menghentikan langkah si polisi agar tidak melepaskan cekikan itu.
"Jadi kamu mengancam aku dengan mengatakan hal itu, " ucap orang misterius wanita itu dengan sangat kesal dan marah kepada Juli. Saat itu Juli hanya diam saja tanpa mengatakan hal apapun kepada orang itu, ia hanya berusaha melepaskan diri nya dengan sesekali mengerang kesakitan di bagian perutnya. Mendengar erangan Juli yang seperti sangat kesakitan polisi itu pun tanpa berpikir panjang langsung meraih leher orang misterius itu dan mendorong orang misterius itu dengan sangat kasar. Dorongan yang sangat keras tersebut membuat orang misterius itu kewalahan dan menjatuhkan Juli ke lantai. Juli yang sudah terjatuh ke lantai terlihat kesakitan dan sesekali ia batuk karena cekikan dari orang misterius wanita itu. Melihat si polisi berbalik mencekik orang misterius itu dengan sangat keras, dan sesekali membenturkan tubuh orang misterius itu ke tembok dengan sangat keras. Ia kemudian menatap tajam wajah orang misterius wanita itu.
"Jangan kamu berani berani menyakiti Juli, kalau kamu menyakiti Juli lagi. Aku tidak akan segan segan untuk menghabisi kamu!" ancam polisi itu kepada Orang misterius wanita itu, ia terlihat sangat marah dengan orang misterius itu. Menyadari kalau orang misterius itu adalah wanita, Juli yang saat itu tengah berada di lantai berusaha bangun dari jatuhnya, setelah dirinya berhasil bangun ia menghampiri polisi itu dengan langkah sempoyongan. Saat ia sudah berada di dekat si polisi, Juli pun mm memegangi salah satu bahu polisi itu untuk menghentikan tindakan kasar si polisi. Menyadari bahunya di sentuh oleh Juli, polisi itu pun langsung lemah dan ia seperti luluh. Kemarahan yang saat itu membara seketika sirna dan perlahan hilang.
__ADS_1
Saat amarahnya sudah hilang, polisi itu melihat ke arah Juli dan ia melepaskan tangannya yang mencekik leher orang misterius wanita itu dengan perlahan. Saat tangan polisi itu sudah lepas dari lehernya, wanita misterius itu pun langsung terlihat lemas dan dirinya terlihat mengambil nafas panjang. Ia terlihat sangat sesak setelah menerima cekikan itu. Matanya langsung mengarah ke polisi itu dengan tatapan mata tajam dan penuh kemarahan. Namun, saat itu polisi itu tidak memperhatikan wanita misterius itu, yang ia perhatikan hanyalah Juli.