
Malam hari pun tiba, terlihat Dokter Ziya tengah merapikan barang barang yang ada di dalam ruangan, setelah semua barang yang ada di dalam ruangan tersusun rapi. Ia mengambil sebuah ponsel dan beberapa barang lain nya dan kemudian memasukkan barang barang yang ia ambil ke dalam tas hitam yang berada di atas meja.
"Siapa di situ?" tanya Dokter Ziya dengan sangat penasaran dan ketakutan yang menjadi satu.
Setalah itu ia pergi keluar dari ruangan nya dan pergi dari rumah saat ia berada di dekat mobil, di balik sebuah pohon yang ada di hadapannya, ia merasa ada seseorang yang tengah berdiri. Melihat hal itu, Dokter Ziya pun dengan perlahan menghampiri pohon itu dengan sesekali bertanya siapa orang yang tengah berdiri di belakang pohon itu. Namun, saat itu tidak mendapatkan respon dari orang itu. Melihat hal itu, Dokter Ziya pun semakin mendekatkan ke arah orang yang berada di belakang pohon.
Saat ia sudah berada di dekat pohon, secara tiba tiba, orang misterius itu pergi saat Dokter Ziya ingin mengejar orang itu, Dokter Ziya tertinggal dan ia kehilangan jejak dari orang misterius itu.
Melihat orang misterius itu sudah pergi, Dokter Ziya pun bergegas masuk ke dalam mobilnya. Saat ia sudah berada di dalam mobilnya, ia langsung memegangi alat kemudi dengan raut muka tegang. Nafasnya tiba tiba naik turun tidak beraturan dan ia merasa tubuhnya kaku.
"Siapa orang itu? Apa orang itu sama dengan orang yang datang menemui aku tadi?" tanya Dokter Ziya dengan dirinya sendiri dan ia masih terlihat ketakutan.
Saat itu, selama beberapa saat ia memikirkan orang yang menemui dirinya di pagi hari. Namun, setelah itu ia langsung menginjak gas dan melakukan mobilnya untuk pergi dari rumah sakit.
Saat Dokter Ziya, melajukan mobilnya orang misterius itu kembali muncul di belakang pohon yang ia tempati beberapa saat lalu. Saat itu, Dokter Ziya tidak mengetahui kalau orang misterius itu kembali muncul.
Di sepanjang perjalanan, Dokter Ziya selalu ketakutan dan panik setelah dirinya selalu di teror oleh orang misterius itu.
Tak berselang lama, Dokter Ziya pun sampai di rumahnya, namun saat dirinya keluar dari mobil ia merasa di belakang tubuhnya ada seseorang yang seolah ingin menusuk dirinya. Pada saat itu ia tidak mempedulikan perasaannya, ia hanya berusaha tenang dan merasa tidak terjadi apa apa. Ia pun kembali melanjutkan melangkahkan kakinya, namun saat ia baru memajukan satu langkah kakinya ia merasa kalau ia juga di ikuti oleh seseorang.
__ADS_1
Merasa hal itu, Dokter Ziya pun langsung menghentikan langkahnya dan ia pun dengan perlahan melihat ke arah belakang tubuhnya. Saat itu jantung Dokter Ziya berdetak dengan sangat kencang, wajah kaku dan takut mulai terlihat di raut muka Dokter Ziya. Nafasnya kembali naik turun tidak teratur dan sesekali dirinya menelan ludahnya sendiri karena perasaan yang ia rasakan .
Dengan perlahan Dokter Ziya pun melihat ke arah belakang dengan harapan dirinya tidak melihat hantu atau apapun yang lain lainnya. Saat ia sudah berbalik dan melihat ke arah belakang, ia terlihat sangat terkejut karena saat itu ia tidak melihat siapa pun di belakang. Ia hanya melihat kegelapan dan angin yang berhembus dengan perlahan.
Menyadari hal itu, raut muka yang takut dan khawatir pun seketika hilang, ia mengira kalau apa yang ia rasakan hanya sebuah ilusi belaka. Akhirnya ia pun berbalik dan berjalan ke rumah, namun saat ia berbalik ke arah rumah dan berjalan secara tiba tiba sebuah pisau di kalung kan oleh seseorang di leher Dokter Ziya. Dokter Ziya yang menyadari hal itu pun hanya dapatĀ diam, ia tidak berani teriak ataupun melawan, ia takut kalau pisau itu menyayat lehernya.
Dokter Ziya pun akhirnya mau tidak mau menuruti apa yang di inginkan oleh orang misterius itu, mendengar ucapan itu orang misterius itu pun membawa Dokter Ziya pergi ke halaman belakang rumah Dokter Ziya.
Saat mereka berdua berada di halaman belakang rumah, orang misterius itu melepaskan pisau nya dan mendorong Dokter Ziya hingga ia menjauh selama beberapa meter dari orang misterius itu.
"Siapa kamu dan apa yang kamu inginkan dari saya?" tanya Dokter Ziya kepada orang misterius itu namun saat itu orang misterius itu hanya diam dan tidak mengatakan sepatah kata pun.
"Dengarkan Ibu, sekarang kalian sarapan Ibu akan segera berangkat kerja!" mendengar hal itu anak anak Dokter Ziya tampak tersenyum kecil di bibirnya.
Saat itu Dokter Ziya tengah terburu buru karena ia ingin pergi ke rumah Ibu Juli untuk memberi kesaksian kalau Juli yang mereka kira sudah meninggal dia masih hidup.
"Ada apa? Kenapa kamu terlihat sangat gugup?" tanya suami Dokter Ziya kepada Dokter Ziya.
"Aku hanya sudah terlambat, makanya aku buru buru!" jawab Dokter Ziya dengan tersenyum kecil di bibirnya lalu ia melanjutkan merapikan makanan yang akan di bawa oleh suami dan anak anaknya bekerja. "Mas, aku minta nanti kamu jemput anak anak lagi, soalnya di rumah sakit aku harus bertemu dengan pasien ku yang rumahnya lumayan jauh!."
__ADS_1
"Iya, kamu hati hati."
Setelah mendengar jawaban dari suaminya, Dokter Ziya pun mencium anak anaknya begitu pula suaminya. Setelah itu Dokter Ziya terlihat bergegas pergi ke mobilnya bahkan dirinya sampai tidak mengucapkan salam kepada keluarga nya.
Saat ia sudah berada di dalam mobilnya, ia langsung memegangi alat kemudi dengan tatapan mata yang tajam dan seolah ingin bertempur dengan seseorang. Ia pun melajukan mobilnya dan meninggalkan rumah nya. Saat ia sudah berada di jalan dan tengah mengemudikan mobilnya.
Saat ia tengah mengemudi, ia mengingat malam sebelumnya dimana keadaan kembali seperti saat dirinya bertemu dengan orang misterius itu.
"Apa yang kamu inginkan dari saya?" tanya Dokter Ziya dengan tegas namun tiba tiba ia mendapat pesan dari nomor misterius yang ternyata di pakai oleh orang misterius itu.
"Aku hanya ingin Anda, mengatakan kepada keluarga Juli kalau Juli masih hidup!."
Tulis orang misterius itu dengan mengirimkan pesan ke ponselnya Dokter Ziya. Setelah membaca pesan itu orang misterius itu kembali mengirimkan pesan ke Dokter Ziya.
"Kalau Dokter tidak mengatakan hal itu maka Dokter harus siap siap kehilangan nyawa Dokter, saya tidak peduli kalau pun Dokter punya anak atau pun suami!."
Membaca pesan kedua Dokter Ziya pun hanya diam dengan tatapan mata terkejut. Ia pun akhirnya menuruti apa yang di inginkan oleh orang itu.
Keadaan pun kembali normal dan setelah itu Dokter Ziya melanjutkan melajukan mobil nya.
__ADS_1