Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
10


__ADS_3

Malam Minggu ini Dita pergi bersama Adi untuk makan malam. Sudah lama mereka tidak pergi bersama karena kesibukan Adi yang sering lembur di kantor. Kebetulan hari ini dia tidak lembur, jadi dia mengajak Dita keluar menikmati akhir pekan.


Mereka memutuskan makan malam di sebuah kedai steak yang cukup legendaris di Jogja dan mempunyai puluhan cabang di seluruh Indonesia. Karena saat ini akhir pekan jadi suasana kedai steak itu cukup ramai, untung saja mereka masih mendapatkan tempat parkir mobil. Setelah memarkirkan mobil, Adi dan Dita keluar dari mobil dan masuk ke dalam kedai.


Dita mengambil menu dan nota pesanan yang ada di dekat kasir, sementara Adi mencari tempat duduk di area bebas asap rokok. Untungnya masih ada satu meja di sana yang masih kosong, jadi mereka bisa makan dengan tenang tanpa terganggu asap dan bau rokok. Kebetulan Adi bukanlah perokok aktif dan Dita agak sensitif dengan asap rokok jadi mereka memilih ruangan yang bebas asap rokok.


Setelah melihat menu, mereka berdua sama-sama memilih beef melted signature sebagai menu utama, dan cheese fries sebagai menu pendamping. Adi memilih ice americano, sementara Dita memilih honey lime untuk minumnya. Setelah memilih menu dan menulis di nota pesanan, Adi segera ke kasir untuk membayar pesanannya sekaligus membawa minuman yang tadi mereka pesan.


“Makasih ya Mas udah diajak keluar.” Kata Dita sambil menyeruput honey lime-nya.


“Kita kan udah lama enggak jalan bareng, mumpung kamu belum ada yang ngapelin, Dek.” Balas Adi sembari menggoda adik tersayangnya itu.


“Ih Mas pasti gitu deh, ujung-ujungnya godain.” Dita mencubit tangan Adi yang ada di atas meja.


“Ughhh ... sakit Dek.” Adi mengelus-elus bekas cubitan Dita yang terasa pedas.


“Makanya jangan suka godain,” cibir Dita.


“Hari mas itu rasanya hampa Dek, kalau enggak godain kamu.” Adi tertawa kecil sembari memandang Dita dengan penuh rasa sayang.


“Mas,” panggil Dita setelah beberapa saat.


“Iya, kenapa?”


“Mmmm ... aku boleh ikut karate lagi ya, Mas?” Tanya Dita sambil memasang senyum termanisnya, hal yang biasa dia lakukan saat membujuk Adi.


Adi mengernyit, “karate?”


“Iya, latihan karate lagi.” Dita menganggukkan kepalanya.


“Memangnya tangannya sudah enggak apa-apa, Dek?” Tanya Adi khawatir, pasalnya saat Dita kelas 2 SMA dia pernah kecelakaan saat sedang mengendarai motor sendiri, yang mengakibatkan lengan kirinya retak dan harus digips selama 2 bulan. Karena itu pula Dita menjadi trauma mengendarai motor sampai saat ini.


“Udah enggak apa-apa Mas.” Jawab Dita meyakinkan Adi.


“Cek ke dokter ortopedi dulu. Mas enggak akan kasih izin sebelum dokter mengizinkan.” Kata Adi tegas, meskipun Adi sangat menyayangi dan memanjakan Dita tetapi bila menyangkut keselamatan dan kesehatan adiknya itu, dia akan sangat protektif dan posesif.

__ADS_1


Dita hanya mengangguk pasrah, dan menundukkan kepalanya pertanda dia kecewa dan sedih.


Adi memegang pipi Dita dan mengelusnya lembut membuat Dita menatap kakaknya itu.


“Dek, bukannya mas sama sekali tidak mengizinkan, tetapi Adek harus dapat persetujuan dokter ortopedi dulu ya. Mas tidak mau mengambil risiko kalau lengan Adek belum sepenuhnya pulih. Ayah dan bunda pun pasti tidak akan mengizinkannya. Kami melarang karena kami sayang kamu, Dek.” Jelas Adi memberi pengertian pada Dita.


“Karate itu kan lebih banyak menggunakan kekuatan tangan dan tubuh. Adek tahu sendiri kan karate butuh latihan fisik yang kuat, gimana bisa push up kalau tangan enggak kuat hemmm,” lanjutnya.


“Iya Mas, tapi ini kan sudah hampir 2 tahun.” Dita beralasan.


“Iya mas tahu, makanya periksa ke dokter dulu, Dek.” Adi mencubit pucuk hidung Dita karena gemas.


“Permisi, ini pesanannya dua beef melted signature dan satu cheese fries.” Seorang karyawan kedai mengangsurkan pesanan mereka ke atas meja, menginterupsi obrolan Adi dan Dita.


“Terima kasih, Mas.” Ucap Adi ramah.


“Sudah semua ya pesanannya?” Tanya karyawan itu memastikan.


“Iya, sudah semua Mas. Terima kasih.” Jawab Adi.


“Ayo Dek, makan dulu.” Adi mulai mengiris steak-nya menjadi beberapa bagian kecil untuk sekali suap. Setelah steak teriris semua, dia letakkan pisau lalu garpu diletakkan di tangan kanan, baru dia menyuap irisan steak dengan garpu di tangan kanannya. Tak lupa berdoa dulu sebelum makan.


“Iya Mas.” Dita juga melakukan hal serupa dengan Adi.


“Dek, nanti kamu coba browsing dokter ortopedi mana yang praktek di malam hari biar mas bisa antar kamu untuk periksa.” Titah Adi.


“Oke Mas, enggak masalah kan siapa saja dokternya?”


“Iya, yang penting dokter ortopedi jangan dokter kandungan.” Seloroh Adi.


Dita tertawa kecil mendengar gurauan kakaknya itu.


“Nah Dek, sembari nunggu izin dokter gimana kalau kita mulai latihan-latihan ringan, biar nanti badan kamu juga enggak kaget. Mas juga udah lama banget enggak latihan. Gini-gini mas kan juga Dan dua karate, Dek. Jadi mulai besok latihan dengan senpai Adi ya.” Adi mengikik sendiri, geli dengan panggilan senpai yang dia sematkan ke dirinya sendiri meskipun dulu sebutan itu sudah biasa dia dengar dari adik tingkat atau anak didiknya.


Dulu semasa belum sibuk bekerja dia sering ikut berlatih dan melatih karate di Hall Gelanggang Mahasiswa UGM, karena dia pun dulu ikut UKM Karate-INKAI saat menjadi mahasiswa di kampus biru.

__ADS_1


“Hai, Senpai.” Sahut Dita sambil tersenyum kecil menatap kakaknya yang masih tertawa geli.


“Kalau begitu gimana mulai besok kita latihan ringan selama satu jam setiap habis subuh?” Tawar Adi.


“Boleh juga, Mas. Badanku juga pasti kaku sekarang.” Dita mengganggukkan kepalanya dengan riang, menyetujui usul Adi.


“Nah, kalau senyum gitu kan Adek jadi tambah cantik. Mas jadi makin sayang deh.” Gombal Adi.


Dita hanya mencibir gombalan kakaknya itu.


“Buruan cari pacar atau calon istri deh Mas, biar gombalannya tersalurkan.”


Adi tergelak mendengar ucapan adiknya itu, dia mengacak gemas rambut Dita.


“Mas Adi ih, kebiasaan deh suka ngacak-acak rambut.” Protes Dita sambil merapikan kembali rambut dengan tangannya.


“Habisnya kamu gemesin Dek.” Kali ini Adi gantian mencubit pelan pipi Dita yang mengembung karena kesal.


“Mas Adiiiiii.” Geram Dita pelan, kalau mereka sedang tidak di tempat umum seperti ini sudah pasti Dita akan berteriak keras dan mengejar Adi yang terus menggodanya.


Ada kepuasan tersendiri bagi Adi bila membuat adiknya itu marah atau kesal, bukan apa-apa hanya saja dia menyukai ekspresi wajah Dita yang menggemaskan bila sedang marah atau kesal. Dan lagi, mumpung sekarang mereka masih bisa bersama dan belum punya pasangan masing-masing, dia ingin menikmati waktu kebersamaannya dengan adik satu-satunya itu. Karena nanti saat mereka sama-sama sudah punya pasangan, menikah dan punya anak pasti momen seperti ini akan sangat jarang terjadi.


...※※※※※※※...


Catatan :


dokter ortopedi : dokter yang memiliki fokus untuk menangani cedera dan penyakit pada sistem muskuloskeletal tubuh, mencakup tulang, sendi, tendon, otot, dan saraf


Arti kata karate adalah "tangan kosong". Ini mengacu pada fakta bahwa Karate berasal sebagai sistem pembelaan diri yang mengandalkan penggunaan efektif dari tubuh tak bersenjata dari praktisi. Karate utamanya adalah suatu seni menyerang, dengan meninju, menendang, menyerang lutut / siku, dan teknik tangan terbuka. Gerakannya tajam dan linier.


Kenapa Adi dan Dita makan steak dengan tangan kanan tidak sesuai table manner? Karena mereka muslim dan makan dengan tangan kanan sesuai ajaran Rasulullah. “Jika seseorang di antara kalian makan, maka hendaknya dia makan dengan tangan kanannya. Jika minum maka hendaknya juga minum dengan tangan kanannya, karena setan makan dengan tangan kirinya dan minum dengan tangan kirinya pula.” (HR. Muslim)


Senpai dalam karate digunakan sebagai istilah untuk senior atau seseorang senior yang telah menjadi asisten pelatih.


Hai, Senpai \= Ya, Senpai (Hai (dibaca haik) bahasa Jepang yang artinya ya)

__ADS_1


__ADS_2