
“Dita, ada yang nyari nih,” panggil Siska, teman sekelasnya.
“Siapa?” Dita mengernyit.
“Enggak tahu, senior, cowok,” jelas Siska.
Dita berdiri dari duduknya lalu berjalan menuju pintu sambil mengira-ira dalam pikiran siapa yang mencarinya. Tidak banyak senior yang dia kenal apalagi laki-laki. “Enggak mungkin dia kan.”
“Hai, Dita,” sapa Bara sambil melambaikan tangan dan tersenyum manis padanya saat dia keluar dari ruang kuliah.
“Eh ... Kak Bara.” Dita cukup terkejut melihat Bara yang sudah berdiri di depan ruang kuliahnya.
“Apa kabar?”
“Baik, Kak. Kok Kak Bara bisa sampai di sini?”
“Apa aku ganggu?”
“Oh ... enggak kok, tadi baru santai sambil nunggu jam selanjutnya.”
“Syukurlah kalau enggak ganggu.” Bara berucap lega.
“Mmmhhh ... maaf, Kak Bara ada perlu apa ya?” tanya Dita sedikit sungkan.
“Ada sesuatu yang mau aku tanyakan sama kamu. Apa nanti kamu ada waktu?”
Dita berpikir sejenak. “Soal apa ya Kak kalau boleh tahu?”
“Nanti kamu juga tahu, gimana? Bisa?” tanya Bara lagi.
“Saya nanti selesai kuliah jam 3, Kak.”
“Di ruangan sini juga?”
“Iya, Kak.”
“Nanti jam 3 aku ke sini lagi. Aku pergi dulu.” Bara tersenyum bahagia saat meninggalkan ruang kuliah Dita. “Yesssss!!!!” Pekiknya sambil mengepalkan tangan.
Setelah Bara pergi, Dita masuk kembali ke ruangan kuliah. Disambut dengan siulan dan celoteh teman-teman sekelasnya yang menggodanya.
“Suittt ... suitttt ....”
“Cieee ... cieee ....”
“Wah Dita diam-diam mainnya sama senior.”
“Cieeee yang baru diapelin kating ganteng.”
“Duh ... potek hati abang.”
Dan berbagai celoteh lainnya, tetapi Dita berusaha bersikap biasa saja meski hampir satu kelas menggodanya.
“Gaisss, aku enggak ada hubungan apa-apa ya sama Kak Bara.” Dita segera mengklarifikasi begitu mereka selesai menggodanya.
Tetapi bukannya diam mereka malah semakin menggodanya dan baru berhenti saat dosen memasuki kelas. Dita mengembuskan napas lega saat dosen memulai kelasnya.
Begitu kuliah selesai, kebanyakan teman-teman Dita langsung berhambur ke luar ruang kuliah. Sementara Dita masih duduk di sana dengan Bella dan Baim.
“Please, temani aku ya ketemu sama Kak Bara,” pinta Dita dengan wajah memelas pada Bella dan Baim.
“Sori Ta, aku udah ada janji sama anak-anak kos nih,” ujar Bella.
“Kamu bisa kan, Im?” Dita menoleh pada Baim dengan tatapan mengharap.
__ADS_1
“Sori, aku juga ada acara, Dit. Lagian nanti malah jadi obat nyamuk kalau aku menemani kalian,” seloroh Baim.
“Ya udah kalau begitu,” ucap Dita pasrah.
“Dita udah ditungguin nih,” teriak temannya dari depan pintu.
“Ya,” sahut Dita pelan.
“Yuk ah.” Ajak Bella, lalu mereka bertiga beranjak dari duduknya lalu berjalan ke luar ruangan kuliah.
“Hai, Kak Bara,” sapa Bella riang. “Nitip teman saya ya, jangan sampai lecet sedikit pun,” candanya.
“Siap!!! Akan aku jaga dengan nyawaku,” balas Bara sambil tertawa.
“Kami duluan ya,” pamit Baim pada Dita dan Bara.
“Oke, hati-hati di jalan,” ucap Bara, lalu suasana canggung menghampiri mereka.
Dita yang tidak punya petunjuk apa pun tentang apa yang akan ditanyakan Bara hanya diam, karena dia juga tidak tahu bagaimana memulainya. Kalau biasanya dia mudah akrab dengan siapa pun, entah kenapa dengan Bara merasa canggung.
“Enaknya kita ngobrol di mana ya?” tanya Bara memecah keheningan di antara mereka.
“Terserah Kak Bara saja, tetapi saya ke musala dulu ya Kak, takutnya nanti kesorean sampai rumah,” jawab Dita.
“Kalau begitu kita ke musala dulu, aku juga belum Asar.”
Dita menganggukkan kepala, lalu mereka pergi ke musala teknik.
“Ada yang marah enggak nih kita ngobrol gini?” pancing Bara saat mereka berjalan menuju musala.
“Maksudnya Kak?” Dita menoleh pada Bara.
“Pacarmu nanti marah atau enggak kamu ngobrol sama cowok lain,” terang Bara.
“Terus yang jemput kemarin pas di Gelex siapa kalau bukan pacarmu?” pancing Bara lagi.
“Kakak saya itu.”
Bara menganggukkan kepala, terbit senyum cerah di bibirnya. “Yes, masih terbuka kesempatan buat gue.”
“Kirain itu pacarmu kemarin, membuatku hampir putus asa,” ujar Bara.
“Putus asa?” Kening Dita berkerut sambil menoleh pada Bara dengan raut wajah bingung.
“Ya, kalau kamu punya pacar kan jadi aku tidak punya kesempatan untuk dekat denganmu. Nah sudah sampai, kita mau salat berjemaah atau sendiri?” tanya Bara saat mereka sudah sampai di musala teknik.
“Berjemaah juga boleh kalau ada yang lain, pahalanya kan 27 kali lipat dari salat sendirian,” jawab Dita.
“Oke, nanti kita ketemu di atas ya."
Dita menganggukkan kepala, lalu dia ke bagian utara musala dan naik ke lantai 2 ke tempat wudu dan toilet khusus untuk jemaah wanita.
"Saat ini aku bisa jadi imam salatmu, semoga bisa menjadi imam hidupmu nanti. Aamiin." Doa Bara dalam hati, lalu dia melepas sepatu dan menuju ke tempat wudu.
Setelah wudu di lantai 1, Bara segera naik ke lantai 2 untuk salat. Dia menunggu Dita yang masih bersiap dan memakai mukena. Di dekat Bara ada dua orang laki-laki yang juga bersiap akan salat. Begitu Dita dan seorang wanita lain yang berdiri di samping Dita siap, Bara maju ke depan lalu mulai mengimami salat asar.
Selesai salat dan berdoa mereka turun ke lantai 1 lagi dan bertemu di depan musala, karena tangga untuk jamaah pria dan wanita berbeda.
“Kita mau ngobrol di mana ini? Kantin? Gazebo? Atau nyari tempat di luar?” Tanya Bara setelah bertemu dengan Dita di depan musala.
“Kantin juga tidak apa-apa, tidak lama kan?”
“Kenapa kalau lama?”
__ADS_1
“Mmmhhh ... tidak apa-apa, Kak.”
“Nanti aku antar pulang kalau kamu takut kesorean.”
“Enggak usah Kak, nanti saya pulang sendiri saja.”
“Ya sudah, yuk ke kantin.” Mereka berdua ke kantin yang tidak jauh dari musala.
Karena sudah sore, tidak begitu banyak mahasiswa yang ada di kantin. Dan, kebetulan Bara tak sengaja bertemu dengan beberapa teman sesama teknik sipil di sana yang menggodanya karena melihat dia berjalan dengan cewek selain Adelia.
“Wah gebetan baru, Bar.”
“Akhirnya punya cewek juga lo, Bro.”
Bara tertawa mendengar godaan dari teman-temannya. “Aamiin, doakan ya Bro ,” ucapnya sambil melirik Dita yang merasa kurang nyaman dengan celoteh teman-temannya.
“Kita duduk di sini ya,” Bara memilih meja yang berada di sudut, agak jauh dari yang lain. Dia ingin Dita merasa nyaman tanpa terganggu dengan canda temannya.
Dita melepas ransel lalu duduk di kursi, diikuti Bara yang duduk di depannya.
“Mau pesan apa?” Tawar Bara.
“Enggak usah Kak, saya masih kenyang.”
“Minum saja ya, sebentar aku ambilkan.” Bara menuju ke stan yang menjual minuman. Dia membeli dua botol air mineral dingin.
“Minum dulu biar lebih segar.” Bara menyerahkan sebotol air mineral pada Dita, tak lupa dia putar dulu tutupnya agar Dita tak kesulitan membukanya.
“Terima kasih, Kak.” Dita menerima botol air mineral itu.
“Jadi, gimana apa aku boleh dekat denganmu?” Tanya Bara tanpa basa basi.
“Maksudnya ... dekat sebagai teman, Kak? Bo .. boleh kok.” Jawab Dita sedikit gagap.
“Aku penginnya lebih dari teman, Dit.” Ucap Bara sambil menatap mata Dita.
Dita terkejut dengan penyataan Bara, dia mencoba mencerna maksud pria yang duduk di depannya itu. Apakah ini pernyataan cinta? Tetapi mereka bahkan baru bertemu tiga kali termasuk saat ini. “Ini tidak masuk akal,” Dita menggelengkan kepala.
“Mmmaksud Kakak apa?” Dita takut menyalah artikan kata-kata Bara.
“Masa kamu enggak paham, Dit,” Bara menatap Dita yang terlihat kebingungan.
Dita menggelengkan kepalanya dengan ekspresi wajah bingung.
“Aku ingin mendekatimu karena aku ingin kamu jadi pacarku.” Akhirnya Bara menjelaskan maksudnya.
Duarrr!!!! Dita jelas terkejut, jantungnya langsung berdetak kencang. Tak pernah terlintas di pikirannya ada senior yang berniat mendekatinya. Dia tidak menyangka ternyata Bara begitu berterus terang dengan perasaannya.
Dita mengalihkan pandangannya ke luar kantin, mencoba mencari kata-kata jawaban terbaik.
“Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang kalau kamu belum siap.” Ujar Bara saat Dita masih diam selama beberapa menit.
“Emm ... bukan begitu Kak, tetapi untuk saat ini saya hanya ingin fokus kuliah. Kalau Kak Bara ingin kita berteman, saya menerimanya dengan senang hati. Tetapi untuk lebih dari itu, mohon maaf Kak, saya tidak bisa.” Dita mengembuskan napas lega setelah mengatakannya.
Raut wajah Bara mendadak sendu setelah mendengar jawaban Dita. Ada kilatan sedih di matanya. “Jadi, kamu ingin kita berteman saja?”
“Iya Kak, maaf.”
Sementara itu ada sesosok pria yang baru keluar dari musala melihat mereka dari kejauhan dengan tatapan nanar. “Kenapa mereka berdua di sana? Apa Bara benar-benar serius akan mendekatinya?”
...※※※※※...
Catatan:
__ADS_1
“Sholat berjamaah lebih afdhal daripada sholat sendirian sebanyak 27 kali lipat.” (H.R Bukhari dan Muslim)