
"Assalamu'alaikum," salam Dita di depan pintu rumah Rendra yang terbuka.
"Wa'alaikumsalam, loh sudah sampai di sini, baru mau aku jemput ini tadi." Balas Rendra sambil tersenyum manis.
"Ih ngapain dijemput, dekat juga." Kata Dita dengan tersipu.
"Ya kan aku mau jemput calon istriku, masa enggak boleh hhmmm ...."
Blushhhhh ....
"Apaan sih," Dita menundukkan wajahnya.
"Siapa Ren?" Tanya Ibu Dewi dari dalam.
"Dita, Ma." Jawab Rendra sambil terus memandang Dita yang tersipu.
"Loh kok Dita enggak disuruh masuk sih Ren," tegur Ibu Dewi begitu dia masuk ke ruang tamu.
"Ayo Dita masuk, Rendra ini loh malah ngajak ngobrol di depan pintu." Ibu Dewi menghampiri Dita yang masih berdiri di depan pintu lalu membimbingnya masuk ke ruang tamu.
"Assalamu'alaikum, Tante apa kabar?" Salam Dita lalu mencium punggung tangan dan kedua pipi Ibu Dewi.
"Wa'alaikumsalam warahmatullah, alhamdulillah kabar baik. Gimana kabar ayah dan bunda?"
"Alhamdulillah ayah dan bunda baik dan sehat, Tante."
"Alhamdulillah. Kapan Dita balik ke sini?"
"Hari Minggu kemarin, Tante."
"Rendra, duduk sini." Ibu Dewi menepuk sofa di sebelah kanannya, sementara Dita duduk di sebelah kirinya.
Rendra lalu duduk di samping mamanya begitu diperintah.
"Jadi kalian berdua benar sudah yakin untuk menikah?" Tanya Ibu Dewi memastikan.
"Insya Allah, Ma."
"Insya Allah, Tante."
"Alhamdulillah kalau kalian berdua sudah yakin. Mama hanya bisa mendoakan dan mendukung kalian berdua. Kalian masih sama-sama muda semoga kalian selalu bisa melewati setiap masalah bersama."
"Aamiin."
"Dita, titip jaga Rendra ya nanti. Ingatkan dia kalau sudah bekerja untuk istirahat jangan lupa waktu. Tegur dia kalau sudah asyik dengan dunianya. Dan kalau dia sakit pasti jadi manja banget, kamu harus sabar ya menghadapinya."
"Iya, Insya Allah, Tante."
"Hari ini Dita ada acara enggak?" Tanya Ibu Dewi.
"Enggak Tante," jawab Dita.
"Bisa ya seharian ini menemani Tante?"
"Bisa Tante, nanti saya pamit ke Mas Adi dulu."
"Rendra, kamu antar Mama dan Dita ya hari ini." Perintah Ibu Dewi.
"Siap Ma, apa sih enggak buat Mama sama Dita." Sahut Rendra.
"Anak mama sudah pintar ngegombal ya sekarang." Ibu Dewi mencubit pucuk hidung Rendra.
"Salahkan yang di samping Mama itu kenapa aku jadi kaya gini." Ucap Rendra sambil mengerling pada Dita.
"Apaan sih," Dita mengernyit kesal pada Rendra.
"Sudah ... Rendra enggak usah ditanggapin ya Dita. Yuk kita pergi sekarang biar nanti enggak terlalu sore pulangnya." Ajak Ibu Dewi.
"Saya pulang ambil tas dulu ya Tante," pamit Dita.
"Iya, Tante tunggu ya."
Setelah pulang untuk ganti baju, mengambil tas dan berpamitan pada Adi, Dita segera kembali ke rumah Rendra.
__ADS_1
Rendra dan mamanya sudah menunggu di samping mobil.
"Maaf Tante, agak lama."
"Enggak apa-apa, ayo masuk." Ibu Dewi masuk ke kursi penumpang di tengah setelah Rendra membukakan pintunya.
"Dita duduk di depan ya sama Rendra, biar dia enggak kaya sopir kita," seloroh Ibu Dewi saat Dita hendak masuk ke kursi tengah.
"Eh ... iya Tante." Dita lalu berjalan ke arah kursi penumpang, dia membuka pintu lalu duduk di kursi penumpang samping sopir.
"Jangan lupa sabuk pengamannya dipasang," ucap Rendra sebelum melajukan mobilnya.
"Kita mau ke mana dulu Ma?" Tanya Rendra saat mereka keluar dari cluster perumahan.
"Kita ke toko perhiasan dulu ke tempat teman mama ...." Jawab Ibu Dewi sambil menyebutkan alamat yang dituju.
"Oke."
"Hari ini kita belanja ya untuk keperluan lamaran kalian." Kata Ibu Dewi pada Rendra dan Dita.
"Loh kok Mama enggak bilang tadi, aku belum persiapan apa pun."
"Kamu cukup antar mama sama Dita saja, biar mama yang urus semua."
"Tapi kan aku yang mau nikah Ma, jadi kan seharusnya aku yang menanggung semuanya."
"Enggak Ren, ini amanah dari almarhum papa. Sama papa dulu sudah diatur semuanya. Semua anaknya sudah mendapat jatah masing-masing. Biarkan mama dan papa menjalankan kewajiban terakhir kami sebagai orang tua yaitu menikahkan kalian. Lamaran ini kan proses untuk menikah jadi sudah jadi kewajiban kami."
"Ya sudah kalau itu keinginan Mama dan Papa. Tapi jangan berlebihan ya, Ma." Rendra menghela napasnya, dia terpaksa mengalah pada mamanya.
Tiga puluh menit kemudian mereka sampai di sebuah toko perhiasan yang cukup terkenal di Jogja. Mereka kemudian turun dari mobil lalu masuk ke toko tersebut.
"Selamat datang, apa yang bisa kami bantu?" Sapa salah satu karyawan toko itu dengan ramah.
"Tolong keluarkan model cincin yang terbaru mbak," pinta Ibu Dewi.
"Untuk wanita atau couple, Bu?"
"Dua-duanya boleh mbak."
"Ya dilihat-lihat dulu saja modelnya, kalau cocok kan bisa sekalian pesan."
Tak lama karyawan tadi membawa beberapa contoh cincin untuk wanita dan couple. "Ini bu contoh modelnya, nanti bisa di-custom lagi sesuai keinginan.
"Bahannya gimana Mbak?"
"Untuk bahan juga bisa sesuai permintaan Bu. Di sini kami ada emas murni, emas putih, perak, palladium (1), dan juga platinum atau platina (2). Kalau untuk pria muslim bisa memakai perak, palladium atau platinum karena emas kan tidak diperbolehkan (3)."
"Dita coba lihat sini, mana yang kamu suka."
"Yang simpel saja, Tante."
Setelah melihat-lihat dan meminta pertimbangan Rendra akhirnya Dita menjatuhkan pilihan pada cincin ini.
"Dita mau pakai bahan apa?" Tanya Ibu Dewi.
"Terserah Tante saja," jawab Dita.
"Pakai platinum bisa enggak Mbak?" Tanya Ibu Dewi pada karyawan toko.
"Bisa Bu."
"Nanti juga bisa ukir nama ya?"
"Iya Bu, itu sudah fasilitas gratis dari kami termasuk tempat cincinnya."
"Oke, satu minggu bisa jadi ya."
"Bisa Bu."
"Bagaimana cincin nikahnya ada yang cocok enggak Ren, Dita?"
__ADS_1
"Enggak Ma, besok saja kalau sudah dekat pasti ada model baru lagi."
"Dita?" Ibu Dewi menoleh pada Dita.
"Saya ikut Mas Rendra saja, Tante."
"Ya sudah, ini dulu saja Mbak."
"Baik Bu, saya buatkan dulu nota pesanannya."
Setelah melakukan pesanan dan pembayaran, mereka lalu menuju ke tempat tujuan selanjutnya. Mereka pergi ke toko busana muslim untuk membeli mukena, setelah itu mereka membeli sepatu, tas, kosmetik dan berbagai perlengkapan untuk lamaran.
"Ren, ke butik dulu ya sebelum pulang. Nanti kamu langsung ke kafe aja, mama mau berdua sama Dita."
"Iya Ma," Rendra lalu melajukan mobilnya ke butik ibu Dewi.
"Barang belanjaan tadi dibawa masuk ya Ren, biar nanti ditata sama anak-anak." Perintah Ibu Dewi begitu mereka sampai di depan butik.
"Iya Ma."
"Dita, ayo masuk. Biar Rendra yang bawa ke dalam." Ibu Dewi menggandeng Dita masuk ke dalam butik.
"Assalamu'alaikum," sapa Ibu Dewi saat memasuki butik.
"Wa'alaikumsalam, wah sama siapa ini Bu?"
"Ini kenalkan Dita, calon istrinya Rendra." Ibu Dewi memperkenalkan Dita pada seluruh karyawannya.
"Wah cantiknya, serasi Mas Rendra ganteng dan Mbak Dita cantik."
Dita tersenyum, menundukkan kepala, sambil menyelipkan rambutnya ke belakang telinga, pertanda dia sedang merasa gugup.
"Ayo, kita naik ke atas," Ibu Dewi kembali menggandeng Dita.
"Nanti barang yang dibawa Rendra ditata ya untuk seserahan," perintah Dewi pada karyawannya.
"Baik Bu."
Begitu sampai di ruangan kantornya, Ibu Dewi meminta Dita untuk duduk di sofa lalu dia keluar sebentar untuk mengambil sesuatu.
Tak lama Ibu Dewi kembali ke ruangannya dengan membawa satu gamis kebaya berwarna baby pink.
"Dita, ini dicoba dulu ya. Kamu bisa ganti di sebelah sana." Ibu Dewi menunjuk ke sebuah ruangan di sudut.
"I ... iya Tante." Dita menuruti saja keinginan Ibu Dewi.
Lima menit kemudian Dita keluar dengan memakai gamis yang tadi diberi oleh Ibu Dewi.
"Cantik ...." Ucap Ibu Dewi begitu melihat Dita memakai gamis.
"Gimana sudah pas belum ukurannya?" Tanya Ibu Dewi.
"Kayanya sudah Tante, hanya kalau bisa agak dilonggarkan sedikit agar tidak terlalu ketat."
"Oke, nanti biar dilonggarkan lagi. Oya sekalian ini coba dipakai kerudungnya." Ibu Dewi membantu Dita memakai kerudung yang senada dengan gamis tadi.
"Masya Allah, kamu cantik loh Dita kalau pakai kerudung begini. Sebentar ya jangan dilepas dulu, aku foto buat kenang-kenangan." Ibu Dewi bergegas mengambil gawai lalu mengambil beberapa foto Dita yang memakai gamis dan kerudung.
"Ini gamis buat kamu, besok dipakai ya saat lamaran. Nanti biar dilonggarkan dulu, kalau sudah selesai biar diantar sama Nisa ke rumah. Jangan sampai Rendra tahu soal ini. Tante mau kasih kejutan buat dia."
"Terima kasih Tante, tapi tidak usah malah jadi merepotkan."
"Eh ... enggak boleh nolak rezeki. Ini memang Tante buat spesial buat kamu. Dipakai ya."
"Baiklah kalau Tante memaksa."
...※※※※※...
Catatan:
(1) Palladium adalah logam mulia berwarna putih, harganya jauh lebih murah dari emas dan platinum, logam ini relatif tahan lama, mudah dibersihkan, dan tidak menimbulkan efek alergi di kulit.
(2) Platinum atau platina adalah logam berwarna putih, dengan ketahanan yang sangat baik dibandingkan logam emas, palladium, ataupun perak dan tidak menimbulkan alergi.
__ADS_1
(3) “ Emas dan sutra dihalalkan bagi para wanita dari umatku, namun diharamkan bagi para pria.” (HR An-Nasai no. 5148 dan Ahmad 4/392)
“ Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam melarang cincin emas (bagi laki-laki).” (HR Bukhari no. 5863 dan Muslim no. 2089)