Romansa Cinta Senior Junior

Romansa Cinta Senior Junior
32


__ADS_3

Hari-hari berlalu seperti biasanya, Dita lebih sering pulang menjelang Magrib karena harus mengerjakan tugas di kampus. Apalagi menjelang Ujian Akhir Semester semakin banyak tugas yang harus segera dikumpulkan.


Sampai saat ini Bara masih tetap rajin mengiriminya pesan setiap hari, kadang juga mengirimi lagu-lagu yang Bara nyanyikan sendiri, meskipun dia hanya membalas sekedarnya atau mengucapkan terima kasih setiap dikirimi lagu. Terkadang mereka pun tanpa sengaja bertemu di kantin yang berujung makan bersama. Tentu saja tidak berdua karena di mana ada Dita pasti ada Bella di sampingnya, dan di mana ada Bara sering ada Rendra juga bersamanya.


Meskipun Bara sudah bersikap baik dan selalu memerhatikan dia, tetapi hatinya sama sekali tidak tergerak untuk membalas perasaan Bara. Dita kadang merasa kasihan pada Bara dan ingin sekali meminta Bara untuk menghentikan segala usahanya mendekati dia. Tetapi dia tidak sampai hati untuk mengatakannya. Dan, sangat tidak mungkin juga dia memberi harapan palsu apalagi mempermainkan perasaan Bara.


Pada dasarnya Dita pun tidak punya keinginan untuk berpacaran. Dia tidak mau seperti teman-temannya yang sering menangis dan patah hati karena putus cinta atau pun dikhianati pacarnya. Baginya hal itu hanya membuang waktu saja. Meski begitu dia tidak pernah menutup diri untuk berteman dengan siapa saja, baik laki-laki atau perempuan.


Sementara itu hubungannya dengan Rendra juga biasa saja. Rendra kadang mengirim pesan gambar perkembangan sketsa yang tempo hari dia buat saat mereka makan di kedai hotplate yang sampai saat ini belum juga selesai, hhhmmm ... mungkin dia sedang sibuk dengan kuliah, praktek studio dan praktikum jadi waktu luangnya terbatas. Kadang Dita juga meminta bantuannya mengajarkan teknik untuk membuat sketsa bila dia sudah mentok, karena setiap Sabtu pasti ada tugas menggambar sketsa dengan berbagai macam teknik.


Ya, setiap Sabtu adalah hari sketsa bagi anak arsi yang disebut hari TKAD (Teknik Komunikasi Arsitektur Dasar). Di TKAD ini, mahasiswa diajak jalan-jalan keliling Jogja, terutama yang ada bangunan penting, unik, bersejarah, artistik, juga suasana yang menarik dan berbagai tema lainnya. Dengan beberapa teknik gambar, mahasiswa harus dapat memindahkan objek 3 dimensi itu ke dalam sebuah kertas dengan proporsi dan perspektif yang baik dan benar dalam waktu yang telah ditentukan.


Mengerjakan tugas TKAD ini tidak mudah karena tidak boleh menggunakan penggaris sebagai alat bantu. Bayangkan bagaimana membuat garis lurus tanpa penggaris pasti sangat susah. Banyak mahasiswa yang harus mengulang gambar sketsa sampai dinyatakan baik oleh asisten dosen sebagai pembimbing, dan Dita pun beberapa kali sempat harus mengulang.


Selain tugas TKAD setiap minggu yang pasti ada, ditambah tugas studio, dan tugas membuat maket membuatnya tidak sempat memikirkan hal lain lagi. Fokusnya hanya kuliah dan mengerjakan tugas dengan baik dan tepat waktu. Dia hanya mengikuti kegiatan yang diselenggarakan oleh KMTA (Keluarga Mahasiswa Teknik Arsitekstur). Rencananya untuk masuk UKM Karate pun tertunda karena dia masih mencari ritme antara kuliah dan mengerjakan berbagai macam tugas agar tidak keteteran.


Hari ini pun Dita baru keluar dari kampus pukul 5 sore, untung saja tadi pagi Adi berjanji menjemputnya jadi dia tidak harus naik ojol. Setidaknya dia bisa menyandarkan punggungnya sejenak di kursi mobil selama perjalanan pulang.


"Hai Dita, baru pulang ya." Sapa seseorang saat dia melewati gedung teknik sipil.


"Eh ... Kak Bara, iya Kak." Balas Dita begitu dia melihat sosok Bara yang berdiri di depannya dengan menyunggingkan senyum manis.


"Sendirian aja nih, temanmu mana?" Bara celingukan.


"Masih di dalam, ini tadi saya keluar duluan Kak."


"Oh ... takut kemalaman ya?"


"Enggak juga, soalnya saya sudah dijemput kakak saya."


"Mas Adi ke sini?" Tanya Bara antusias.


"Iya, Kak."


"Aku boleh ketemu dan kenalan enggak?" Tanya Bara penuh harap.


"Oh ... ya silakan saja." Tidak mungkin dia mencegah Bara kenalan dengan Adi tanpa alasan yang masuk akal.


Bara lalu berjalan menyamakan langkah dengan Dita di sampingnya.


"Sibuk banget ya kamu sekarang?" Tanya Bara memecah kesunyian.


"Sok sibuk mengerjakan tugas Kak, lebih tepatnya." Jawab Dita.

__ADS_1


"Mahasiswa yang baik." Bara mengacungkan jempolnya pada Dita.


"Biasa aja Kak, dan sudah sewajarnya kan tugas dikerjakan." Ujar Dita.


"Iya juga sih," ringis Bara sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Itu mobil Mas Adi." Tunjuk Dita di salah satu sudut fakultas teknik. Dia lalu berjalan mendekati Adi yang sedang memainkan gawainya sambil bersandar di pintu mobil.


"Assalamu'alaikum, Mas," sapa Dita yang langsung meraih tangan kanan Adi lalu mencium punggung tangan dan kedua pipinya.


"Wa'alaikumsalam Dek," balas Adi setelah mencium kening Dita.


"Mas, ini ada kakak tingkat yang mau kenalan." Ucap Dita sambil menoleh ke arah Bara.


Adi mengernyit melihat Bara, "sepertinya dia sedang mendekati Dita juga."


Bara mendekat pada Adi sambil tersenyum, dia mengangsurkan tangan kanan untuk berjabat tangan dengan Adi.


"Kenalkan Mas, nama saya Bara. Kakak tingkat Dita, jurusan teknik sipil." Ucap Bara saat dia dan Adi berjabat tangan.


"Adi," balas Adi lalu melepas jabatan tangannya. "Semester berapa?" tanyanya kemudian.


"Semester lima, Mas."


"Oh ... satu angkatan sama Rendra ya."


"Oh ya ya." Adi menganggukkan kepalanya berkali-kali.


"Pulang yuk, Mas," rengek Dita dari dalam mobil yang sudah duduk di kursi penumpang.


"Aku pulang dulu ya, Dita kayanya lagi capek banget." Pamit Adi pada Bara.


"Iya silakan, hati-hati di jalan, Mas." Bara mengangsurkan tangan kanan, mempersilakan Adi untuk masuk ke mobil.


Adi membuka pintu mobil lalu duduk di belakang kemudi. Dia menyalakan mesin mobil kemudian membuka setengah kaca jendelanya. "Duluan ya," pamitnya pada Bara sambil melajukan kendaraannya keluar dari fakultas teknik.


Bara melambaikan tangan, dia berdiri di tempatnya sampai mobil Adi tidak terlihat lagi. "Yess!!!!" pekiknya sambil mengepalkan tangan kanan.


"Dia suka sama Adek ya?" Tanya Adi begitu mereka keluar dari fakultas teknik.


"Hhhmmm ...." Gumam Dita malas.


"Kok gitu, Adek enggak suka sama dia?"

__ADS_1


"Iya."


"Apa dia pernah nembak Adek?"


"Belum sampai nembak sih Mas, tapi baru bilang mau pendekatan."


"Terus Adek bilang apa sama dia?"


"Aku bilang berteman aja."


"Tapi dia enggak nyerah ya?"


"Iya."


"Tipe pejuang sejati loh dia, Dek." Pancing Adi yang ingin melihat reaksi Dita.


"Terus kenapa?" Dita menoleh pada Adi.


"Apa Adek enggak ada rasa sedikit pun sama dia?"


"Mmmhhhh ... rasa kasihan mungkin."


"Kok malah rasa kasihan, enggak ada gitu rasa pengen dekat sama dia?"


"Enggak," Dita menggelengkan kepalanya.


"Kalau sama Rendra gimana Dek?"


Dita mengernyit mendengar pertanyaan Adi, "kenapa jadi bahas dia?"


"Ya mas kan nanya aja. Kebetulan kan siapa tadi namanya?"


"Bara."


"Ah ya Bara ... kebetulan Bara kan temannya Rendra jadi mas keingat aja sama dia."


Dita mencibir mendengar ucapan Adi.


"Kalau misalnya Rendra yang nembak gimana Dek?"


"Udah deh Mas enggak usah mancing-mancing." Jawab Dita sewot.


"Siapa yang mancing, mas kan lagi nyetir." Seloroh Adi yang membuat Dita mencubit kecil lengan kiri Adi.

__ADS_1


"Aduh Dek, sakit tahu." Adi mengelus lengan kiri dengan lengan kanannya.


"Bodo."


__ADS_2